DDMF: Rantai pasok tangguh penting bagi nilai tambah mineral kritis

DDMF: Rantai pasok tangguh penting bagi nilai tambah mineral kritis

PT Danantara Development Management Fund (DDMF) menyebutkan rantai pasok yang tangguh dibutuhkan untuk memperoleh nilai tambah yang optimal dari mineral ...

(Antara) 24/10/26 11:02 1030830

Jakarta (ANTARA) - PT Danantara Development Management Fund (DDMF) menyebutkan rantai pasok yang tangguh dibutuhkan untuk memperoleh nilai tambah yang optimal dari mineral kritis.

"Untuk memperoleh nilai tambah yang optimal dari mineral kritis, kapasitas pengolahan saja tidak cukup. Diperlukan investasi yang terkoordinasi, kemampuan domestik yang lebih kuat, rantai pasok yang tangguh, serta kemitraan yang mampu memobilisasi modal untuk pembiayaan pembangunan dan investasi swasta," ujar Managing Director Development Investment DDMF M Rachmat Kaimuddin, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Hal ini didukung data Kementerian Perindustrian yang menunjukkan besarnya ruang penciptaan nilai tambah dalam sektor industri nasional.

Bijih nikel yang nilainya berkisar 30 dolar AS per ton dapat meningkat menjadi 3.628 dolar AS per ton ketika diolah menjadi mixed hydroxide precipitate sebagai bahan baku baterai atau sekitar 120 kali lipat.

Pada tahapan produk baterai tertentu, nilai tambahnya bahkan dapat mencapai 642 kali lipat. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperkirakan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai 50 miliar dolar AS hingga akhir 2026.

Angka tersebut meningkat sekitar 45 persen dibandingkan dengan nilai ekspor hilirisasi pada 2024 yang sebesar 34,5 miliar dolar AS.

Angka ini memperlihatkan bahwa manfaat terbesar mineral tidak berhenti pada ekstraksi, tetapi tumbuh sepanjang rantai produksi.

Peluang pengembangan ekosistem baterai memperlihatkan skala pekerjaan berikutnya.

Kementerian ESDM memperkirakan kebutuhan baterai di Indonesia mencapai 108,2 gigawatt-jam pada 2030.

Untuk mendukung target pengembangan kendaraan listrik, kebutuhan kapasitas baterai diproyeksikan mencapai 780 gigawatt-jam, sedangkan kapasitas bahan baku yang tersedia saat ini setara 373 gigawatt-jam.

Dengan demikian, masih terdapat ruang investasi sekitar 407 gigawatt-jam. Di sinilah kerja sama antarnegara berkembang menjadi penting untuk membangun rantai nilai mineral yang lebih tangguh.

"Negara-negara ASEAN dan Afrika memiliki kepentingan yang sama agar nilai ekonomi transisi energi tidak hanya mengalir ke pusat manufaktur dan teknologi, tetapi juga memperkuat kemampuan industri negara penghasil," ujar Rachmat.

Pada akhirnya, investasi pembangunan tidak cukup dinilai dari imbal hasil finansial.

Investasi harus menambah kapasitas ekonomi, meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing industri, serta memungkinkan manfaat pembangunan dirasakan lebih luas.

Dalam kerangka ini, mineral kritis bukan sekadar sumber pendapatan, melainkan instrumen transformasi ekonomi.

Peluang terbesar Indonesia tidak lagi terletak pada besarnya produksi mineral.

Kesempatan sesungguhnya berada pada kemampuan mengubah keunggulan sumber daya menjadi kekuatan industri, penguasaan teknologi, dan kesejahteraan yang lebih merata.

Jika momentum ini dimanfaatkan melalui investasi berkualitas dan industrialisasi yang semakin mendalam, mineral kritis dapat menjadi salah satu jalan bagi Indonesia untuk naik kelas dalam peta industri global.

Pewarta: Suharsana Aji Sasra J C
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

#ddmf #danantar-development-management-fund #rantai-pasok #mineral-kritis

https://www.antaranews.com/berita/5809011/ddmf-rantai-pasok-tangguh-penting-bagi-nilai-tambah-mineral-kritis