Perajin tahu dan tempe di Surakarta akui kebutuhan kedelai terpenuhi

Perajin tahu dan tempe di Surakarta akui kebutuhan kedelai terpenuhi

Perajin tahu dan tempe di Kota Surakarta, Jawa Tengah, mengakui bahwa kebutuhan bahan baku kedelai impor hingga saat ini terpenuhi tanpa adanya kelangkaan ...

(Antara) 24/10/26 19:46 1078440

Pasokan masih aman, kami bisa dengan mudah mendapatkan di warung langganan

Surakarta, Jateng (ANTARA) - Perajin tahu dan tempe di Kota Surakarta, Jawa Tengah, mengakui bahwa kebutuhan bahan baku kedelai impor hingga saat ini terpenuhi tanpa adanya kelangkaan dengan harga beli Rp11.450 per kilogram.

Seorang perajin tahu asal Kelurahan Mojosongo Kecamatan Jabres Kota Surakarta, Eko Triadi mengatakan bahwa harga kedelai masih dalam kondisi wajar dan tidak ada kelangkaan sama sekali.

"Pasokan masih aman, kami bisa dengan mudah mendapatkan di warung langganan," kata Eko di Surakarta, Sabtu.

Menurut dia, harga kedelai memang mengalami kenaikan, namun masih wajar, karena bisa dibeli dengan harga di bawah Rp12 ribu per kilogram. Selain itu yang terpenting bagi para perajin kedelai bisa didapatkan dengan mudah.

Eko menjelaskan bahwa terdapat perbedaan harga kedelai antara yang eceran dan grosir, akan tetapi tidak terlalu jauh dan lebih mempercepat pekerjaan para perajin.

"Kalau saya lebih memilih membeli yang sudah dibungkus per 6 kilogram, meski harga terpaut hingga Rp500 namun pekerjaan lebih cepat," ujarnya.

Meski demikian ia berharap agar harga kedelai bisa di bawah Rp11 ribu, agar keuntungan yang didapatkan lebih banyak dan bisa untuk menggaji karyawan.

Seorang pekerja saat memproduksi tahu di Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (24/10/2026). ANTARA/Khaerul Izan

Senada dengan Eko, perajin tempe asal Kelurahan Mojosongo Kecamatan Jebres, Surakarta, Yogha Estu Prakoso mengatakan bahwa untuk pasokan kedelai impor tidak ada kendala sama sekali, meskipun harganya sudah merangkak naik.

Ia menjelaskan bahwa harga kedelai memang terus mengalami peningkatan dari semula Rp10 ribu per kilogram pada awal tahun kini harganya sudah menyentuh Rp11.450 per kilogram.

"Untuk pasokan aman, hanya saja keuntungan semakin menipis, karena kami tidak mungkin menaikkan harga jual tempe," katanya.

Yogha mengatakan setiap hari bisa memproduksi kedelai untuk dijadikan tempe sebanyak 2 kuintal. Untuk harga jual tempe yang diproduksi pun beragam mulai dari Rp900 sampai Rp2.500 tergantung ukuran.

"Harga tempe masih biasa, kami tidak menaikkan meski harga kedelai mengalami kenaikan. Namun kami juga mengurangi takaran agar bisa mendapatkan untung," ujarnya.

Sementara itu, VP of Corporate Communications and Sustainability FKS Group Beatrice Susanto mengatakan bahwa kunjungan FKS selaku importir kedelai ke sejumlah perajin tahu dan tempe ingin memastikan pasokan kedelai ditingkat perajin aman dan harga masih sesuai dengan arahan pemerintah.

"Kami pastikan pasokan kedelai aman dan harganya pun sesuai yang ditetapkan pemerintah," katanya.

Diketahui bahwa Harga Acuan Penjualan (HAP) untuk kedelai impor di tingkat perajin tahu dan tempe maksimal Rp12.000 per kg. Sementara HAP kedelai untuk kedelai lokal maksimal di harga Rp11.400 per kg. HAP kedelai tersebut diatur dalam Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 330 Tahun 2026.

Sebelumnya, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta importir kedelai agar dapat saling menjaga harga, terutama bagi kalangan perajin tahu dan tempe.

Importir dan distributor kedelai harus dapat bekerja sama mendukung upaya pemerintah menjaga perajin tahu dan tempe yang skala usahanya masih kecil dan mikro.

"Kami akan telusuri kalau terdampak pada perajin, pada produsen tahu tempe. Kami akan cek sumbernya dari mana. Jangan menaikkan harga semena-mena," kata Amran.

Dua pekerja saat memproduksi tempe di Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (24/10/2026). ANTARA/Khaerul Izan

Amran menegaskan pula kedelai merupakan komoditas strategis nasional karena menjadi bahan baku utama tahu, tempe, hingga berbagai produk olahan yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.

Menurut dia, Indonesia harus segera keluar dari ketergantungan impor dan mulai membangun kemandirian produksi dalam negeri.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian menyebutkan kebutuhan kedelai nasional tahun 2026 diproyeksikan mencapai 2,7 juta ton. Namun sekitar 95 persen atau 2,6 juta ton masih dipenuhi dari impor. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang besar untuk meningkatkan produksi dalam negeri.

Rata-rata produksi kedelai nasional dalam lima tahun terakhir mencapai sekitar 227 ribu ton per tahun dengan luas tanam 136 ribu hektare dan produktivitas rata-rata 1,6 ton per hektare. Hingga April 2026, produksi nasional mencapai 4.982 ton dari luas tanam 7.018 hektare.

Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

#harga-kedelai #pasokan-kedelai #kedelai-impor

https://www.antaranews.com/berita/5809667/perajin-tahu-dan-tempe-di-surakarta-akui-kebutuhan-kedelai-terpenuhi