Bamsoet: Pasar Indonesia jangan hanya menguntungkan produk asing
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendorong pengusaha nasional untuk memperkuat kemampuan produksi dan penguasaan ...
(Antara) 12/10/26 22:58 120780
Indonesia harus kuat di rumahnya sendiri
Jakarta (ANTARA) - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendorong pengusaha nasional untuk memperkuat kemampuan produksi dan penguasaan teknologi agar mampu menguasai pasar domestik di tengah persaingan global serta derasnya arus produk impor.
Bamsoet saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Tahun 2026 di Jakarta, Senin, mengatakan besarnya pasar Indonesia harus memberikan manfaat lebih besar bagi pelaku usaha dan masyarakat dalam negeri.
"Indonesia harus kuat di rumahnya sendiri. Perekonomian nasional harus bertumpu pada pengusaha nasional, sehingga nilai tambah, kesempatan kerja, dan kesejahteraan yang tercipta dari besarnya pasar Indonesia bisa dinikmati oleh masyarakat kita sendiri," katanya dalam keterangan yang diterima di Jakarta.
Menurut mantan Ketua MPR RI itu, persaingan usaha saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh harga dan besarnya modal, tetapi juga penguasaan teknologi, efisiensi produksi, kualitas sumber daya manusia, akses pembiayaan, serta jaringan distribusi.
Ia menilai penguatan industri nasional diperlukan agar pelaku usaha Indonesia mampu menghasilkan produk berdaya saing sekaligus mengurangi ketergantungan berlebihan terhadap barang impor yang sebenarnya dapat diproduksi di dalam negeri.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor Indonesia sepanjang 2025 mencapai 241,86 miliar dolar AS.
Bamsoet mengatakan besarnya kebutuhan impor tersebut harus menjadi dorongan bagi dunia usaha untuk memperkuat kapasitas produksi dan memperluas penggunaan komponen lokal.
"Pengusaha Indonesia harus berani menjadi produsen, inovator, pemilik teknologi, sekaligus pencipta lapangan kerja. Kalau kebutuhan masyarakat terus dipenuhi produk dari luar, sementara kemampuan produksi nasional tertinggal, maka besarnya pasar Indonesia justru akan lebih banyak menciptakan keuntungan bagi negara lain," ujarnya.
Ia menambahkan penguatan pengusaha nasional juga harus diikuti penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pemerataan manfaat investasi.
Menurut dia, investasi yang masuk ke Indonesia perlu memberikan dampak terukur melalui penyerapan tenaga kerja, peningkatan keterampilan, penggunaan bahan baku lokal, pengembangan pemasok domestik, serta transfer teknologi.
Pemerintah dan dunia usaha, lanjutnya, perlu memperkuat kemitraan antara perusahaan besar dan pelaku usaha kecil agar manfaat pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok usaha tertentu.
"Ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi tidak cukup dilihat dari besarnya investasi atau pertumbuhan angka produk domestik bruto. Kita juga harus melihat berapa banyak lapangan kerja berkualitas yang tercipta, berapa banyak pengusaha lokal yang berkembang, seberapa besar nilai tambah yang tinggal di Indonesia, dan apakah kesenjangan antardaerah semakin berkurang," katanya.
Bamsoet yang juga menjabat Dewan Kehormatan HIPPI meminta organisasi tersebut berperan lebih aktif membantu pengusaha kecil dan menengah mengatasi kendala permodalan, teknologi, sertifikasi produk, pemasaran, serta akses terhadap rantai pasok industri.
Ia mengatakan banyak usaha daerah memiliki produk potensial, tetapi belum mampu memperluas pasar karena keterbatasan kapasitas produksi, pemenuhan standar industri, dan jaringan distribusi.
Karena itu, HIPPI diharapkan menjadi penghubung antara pelaku usaha, perbankan, pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), industri besar, dan platform perdagangan digital.
"Pengusaha daerah juga harus mendapatkan ruang yang lebih besar. Jangan sampai potensi ekonomi di daerah hanya menjadi sumber bahan mentah, sementara keuntungan terbesar justru dinikmati pihak lain yang menguasai pengolahan, merek, dan distribusi," ujarnya.
Rakernas III HIPPI tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Drajad Wibowo, anggota DPR RI Erwin Aksa dan Adisatrya Suryo Sulisto, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie, serta Ketua Umum HIPPI Erik Hidayat.
Pewarta: Fathur Rochman
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026