Menjaga laut jadi berkah nelayan Pulau Lanjukang dan Langkai
Deru ombak dan semilir angin dini hari menyambut kepulangan nelayan gurita di perairan Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Satu per satu perahu ditambatkan ...
(Antara) 13/10/26 07:56 128864
Kondisi tersebut membuat nelayan di sana mulai menyadari bahwa laut tidak mungkin terus dipaksa menghasilkan tanpa diberi kesempatan untuk pulih
Makassar (ANTARA) - Deru ombak dan semilir angin dini hari menyambut kepulangan nelayan gurita di perairan Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Satu per satu perahu ditambatkan di pesisir dua pulau terluar wilayah Kota Makassar yakni Pulau Lanjukang dan Pulau Langkai.
Di antara para nelayan tersebut ada Erwin (48). Sejak pertengahan 1980-an, ia sudah akrab dengan laut. Mengikuti jejak kakek dan ayahnya, Erwin sejak kecil melaut untuk menangkap ikan dan gurita.
Namun, baru sekitar satu dekade terakhir ia benar-benar menekuni gurita sebagai tangkapan utama. Menangkap gurita bukan pekerjaan selingan. Dibutuhkan keahlian membaca kondisi perairan dan mengenali lokasi gurita bersembunyi.
Dalam sehari, dia bisa mendapat 15 ekor gurita. Gurita yang dia jual ke pengepul itu harganya tinggi dibandingkan ikan.
Sebagian gurita yang didapatnya berukuran kurang dari satu kilogram dan masuk kategori C dan D. Namun, sesekali ia memperoleh gurita kelas A dengan berat lebih dari dua kilogram atau B dengan berat satu hingga 1,9 kilogram. Ukuran tersebut menjadi standar yang diminati pasar ekspor, termasuk Eropa dan Amerika.
Bagi Erwin dan nelayan lainnya, gurita menjadi sumber penghidupan keluarga.
Namun, perjalanan untuk mendapatkan hasil seperti sekarang tidak selalu mudah. Erwin dan nelayan lain di daerah itu pernah menghadapi kenyataan bagaimana sulitnya mendapatkan gurita.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2020 menunjukkan ekspor gurita asal Sulsel mencapai 2,1 juta ekor dengan nilai sekitar 10,7 juta dolar AS.
Nilai ekonomi yang menggiurkan tersebut mendorong eksploitasi berlebihan. Dahulu, prinsip nelayan sederhana, semakin banyak menangkap, semakin besar penghasilan.
Pola tangkap tanpa mempertimbangkan jumlah dan ukuran gurita itu perlahan berdampak pada stok di laut. Hasil tangkapan semakin sedikit dan ukurannya semakin kecil.
Erwin masih ingat, betapa sulitnya mendapatkan gurita pada 2020. Padahal saat itu ada pembatasan sosial bagi nelayan, tak banyak nelayan yang melaut. Tapi karena stok gurita menipis, nelayan makin susah mendapat hasil memuaskan.
“Makin susah cari gurita. Paling banyak dapat tiga hingga lima ekor per hari. Itu pun ukurannya kecil. Melaut hanya cukup untuk makan saja,” kata Erwin.
Kondisi tersebut membuat nelayan di sana mulai menyadari bahwa laut tidak mungkin terus dipaksa menghasilkan tanpa diberi kesempatan untuk pulih.
Angin perubahan
Angin perubahan mulai terjadi ketika Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia bersama Program Kemitraan Wallacea II menggagas Program Penguatan Ekonomi dan Konservasi Gurita Berbasis Masyarakat atau Proteksi Gama pada 2021.
Program tersebut menggandeng Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulsel serta Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Makassar.
Nelayan diajak mengubah cara pandang. Laut bukan tempat yang harus terus-menerus dieksploitasi, melainkan ruang hidup yang harus dijaga agar tetap memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Salah satu bentuknya adalah sistem buka tutup kawasan tangkapan gurita.
Nelayan Pulau Lanjukang dan Pulau Langkai sepakat membatasi aktivitas penangkapan pada wilayah seluas sekitar 412 hektare yang membentang di antara kedua pulau tersebut.
Wilayah itu ditandai dengan patok terapung dan tali pengikat. Selama masa penutupan, nelayan dilarang menangkap gurita di kawasan tersebut.
“Tiga bulan ditutup dan tiga bulan kemudian dibuka kembali. Begitu seterusnya agar habitat perikanannya bagus dan gurita bisa berkembang,” kata Direktur Eksekutif YKL Indonesia Nirwan Dessibali.
Sistem tersebut dijalankan melalui Forum Pengelola Sistem Buka dan Tutup Gurita Lanjukang dan Langkai atau Pasibuntuluki. Forum itu lahir dari kesepakatan masyarakat nelayan.
Ada aturan, ada pengawasan, dan ada sanksi bagi mereka yang melanggar.
Menurut Wakil Ketua Forum Pasibuntuluki di Pulau Lanjukang, Daeng Jala (61), kesabaran masyarakat mulai membuahkan hasil setelah sistem buka tutup diberlakukan selama setahun.
Upaya untuk mendapatkan legalitas konservasi itu pun dilakukan mulai dari tingkat kelurahan dengan mendapatkan SK Kelurahan Barrang Caddi, hingga kini sudah mengantongi SK Gubernur Sulsel.
Penetapan Kawasan Konservasi Daerah (KKD) Pulau Lanjukang sedang dalam proses percepatan penetapan dan integrasi zonasi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Luas wilayah pencadangan KKD mencapai 1.654,38 hektare berdasarkan Perda Nomor 3 Tahun 2022 tentang RTRW Sulawesi Selatan.
Erwin, yang juga adalah Ketua Forum Pasibuntuluki, merasakan perubahan yang terjadi setelah pembatasan penangkapan dilakukan. Dalam empat tahun terakhir, hasil tangkapan guritanya meningkat.
Yang lebih menggembirakan, gurita berukuran besar atau grade A dan B semakin mudah ditemukan.
“Kalau guritanya utuh, laku Rp200 ribu per ekor,” kata Erwin.
Rata-rata nelayan dapat mengantongi sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu dalam sepekan dari penjualan gurita. Data YKL Indonesia juga menunjukkan pendapatan nelayan meningkat hingga 56,6 persen.
Selain itu, ekosistem terumbu karang yang menjadi habitat gurita juga mulai membaik. YKL Indonesia mencatat pemulihan tutupan karang hidup sekitar 5 hingga 10 persen.
Bagi nelayan, perubahan itu menjadi pelajaran sederhana, memberi waktu kepada laut untuk pulih justru dapat menghasilkan tangkapan yang lebih besar, lebih variatif, dan bernilai lebih tinggi.

Pelibatan Perempuan
Perubahan tidak hanya dirasakan para nelayan laki-laki. Para perempuan mulai mengolah hasil laut yang sebelumnya tidak terserap pasar.
Gurita yang tidak utuh karena tentakelnya terpotong biasanya tidak diminati pengepul untuk pasar ekspor. Begitu pula sebagian ikan hasil tangkapan.
Di tangan kelompok perempuan, hasil laut tersebut berubah menjadi produk bernilai tambah.
Ketua Kelompok Perempuan Merpati Putih Pulau Langkai, Nurjannah (48), mengolah gurita menjadi sambal dan ikan menjadi abon. Dalam sekali produksi, serpihan gurita itu dapat menjadi 10 kilogram sambal gurita. Sambal itu dikemas dalam botol plastik ukuran kecil dan dijual seharga Rp35.000 per botol.
Usaha tersebut membantu kebutuhan sehari-hari sekaligus biaya sekolah anak.
Belasan perempuan kini terlibat dalam kelompok usaha yang memproduksi sambal gurita dan abon ikan. Produk tersebut dipasarkan kepada wisatawan yang berkunjung ke Pulau Lanjukang.
Pendampingan YKL Indonesia bersama sejumlah pihak kemudian diarahkan pada penguatan kapasitas usaha, pemasaran, hingga akses pasar.
Dengan demikian, manfaat laut tidak berhenti pada hasil tangkapan nelayan. Hasil laut juga membuka ruang bagi perempuan pesisir untuk mendapat penghasilan dan meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Pelajaran berharga lainnya dari menjaga laut ini kemudian merambat ke spesies lain yakni penyu.
Di Pulau Lanjukang, perubahan paling mencolok terlihat dari cara masyarakat memperlakukan penyu.
Pulau kecil yang hanya dihuni sekitar 24 kepala keluarga itu merupakan salah satu tempat bertelurnya penyu hijau dan penyu sisik, dua jenis satwa yang dilindungi.
Dahulu, kedatangan penyu ke pantai menjadi kesempatan bagi warga untuk mengambil telurnya.
Anas (28), nelayan Pulau Lanjukang, masih mengingat masa tersebut.
Dia mengatakan banyak penyu yang naik ke darat. "Kalau melaut juga sekalian cari telur penyu, dimakan atau dijual ke Pasar Hobi. Tukiknya juga laku Rp20.000 per ekor," kata Anas.
Dahlia, warga setempat, juga pernah menjual tukik kepada pengunjung sebagai hewan peliharaan.
Namun, kebiasaan tersebut perlahan berubah setelah masyarakat mendapatkan pendampingan konservasi penyu.
Pada 2022, penguatan perlindungan habitat penyu mulai digalakkan melalui sosialisasi dan pembentukan Kelompok Masyarakat Pengawas.
Anas yang sebelumnya ikut berburu telur penyu justru kemudian menjadi salah satu penggerak perlindungan penyu.
Dari awalnya hanya dua orang yang aktif menjaga telur dan melakukan penetasan semi alami. Kini jumlahnya berkembang menjadi 11 orang.
Kalau sebelumnya tukik dijual ke wisatawan untuk dibawa pulang ke rumah menjadi mainan atau peliharaan anak, sejak kesadaran melindungi penyu terbentuk, tukik itu tetap dijual kepada wisatawan tetapi harus diliarkan ke laut.
Pada akhir pekan, kegiatan tersebut bahkan menjadi sumber pendapatan baru bagi warga. Wisatawan dapat berkontribusi pada konservasi sekaligus memperoleh pengalaman melepas tukik ke laut dengan kepuasan batin tersendiri.

Jaga laut, jaga masa depan
Perjalanan masyarakat di Pulau Lanjukang dan Pulau Langkai menunjukkan bahwa konservasi tidak harus berjarak dengan kebutuhan ekonomi.
Justru ketika masyarakat mendapatkan manfaat nyata dari laut yang sehat, kesadaran untuk menjaganya tumbuh semakin kuat.
Gurita mengajarkan nelayan untuk bersabar melalui sistem buka-tutup. Terumbu karang diberi kesempatan untuk pulih. Perempuan memperoleh ruang untuk mengolah hasil laut menjadi produk bernilai tambah.
Di Lanjukang, pemburu telur penyu perlahan berubah menjadi penjaga habitat dan tukik.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan Muhammad Ilyas menilai Pulau Lanjukang memiliki potensi besar untuk pengembangan konservasi berbasis masyarakat.
Penetasan semi alami telur penyu dan pelepasliaran tukik, menurut dia, dapat menjadi bagian dari wisata edukasi selain aktivitas berkemah, snorkeling, dan menyelam.
Pada akhirnya, laut memberikan pelajaran yang sederhana kepada masyarakat Spermonde, mengambil secukupnya berarti memberi kesempatan alam untuk tumbuh kembali.
Di antara deru ombak Pulau Lanjukang, kesadaran itu mulai menemukan bentuknya. Gurita yang lebih besar membawa penghasilan lebih baik. Terumbu karang yang pulih menjadi rumah bagi biota laut. Sementara tukik-tukik kecil yang dilepas ke laut membawa harapan tentang kehidupan yang terus berlanjut.
Menjaga laut bukan lagi sekadar tentang melindungi alam. Bagi masyarakat Pulau Lanjukang dan Pulau Langkai, menjaga laut adalah cara untuk memastikan berkahnya tetap dapat dinikmati, hari ini dan oleh generasi yang akan datang.

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
#jaga-laut #pulau-lanjukang #pulau-langkai #sistem-buka-tutup #konservasi-laut #dinas-perikakan-dan-kelautan-sulsel