AIGCC: Arah transisi ketenagalistrikan Indonesia berdampak global
Asia Investor Group on Climate Change (AIGCC) menilai arah transisi energi Indonesia tidak hanya menentukan masa depan sektor ketenagalistrikan nasional, ...
(Antara) 26/10/26 18:48 1331970
Jakarta (ANTARA) - Asia Investor Group on Climate Change (AIGCC) menilai arah transisi energi Indonesia tidak hanya menentukan masa depan sektor ketenagalistrikan nasional, tetapi juga mempengaruhi transisi energi di Asia Tenggara dan memiliki dampak global.
CEO AIGCC Rebecca Mikula-Wright mengatakan Indonesia menjadi salah satu pasar transisi ketenagalistrikan paling menentukan di Asia sehingga pelaksanaan kebijakannya menjadi perhatian investor.
"Indonesia adalah salah satu pasar transisi ketenagalistrikan paling menentukan di Asia. Arah transisi di sini akan mempengaruhi arah transisi di seluruh Asia Tenggara dan memiliki dampak global," kata Rebecca dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin.
Laporan terbaru AIGCC bertajuk Investor Expectations for Power-Sector Transition Roadmaps in Asia, menjadikan Indonesia salah satu dari tiga studi kasus bersama Korea Selatan dan Malaysia.
Laporan itu menyoroti kebutuhan investor terhadap peta jalan transisi ketenagalistrikan yang tidak hanya menetapkan target, tetapi juga memberikan kejelasan pelaksanaan dan kepastian investasi.
Menurut laporan tersebut, Indonesia memiliki posisi strategis karena merupakan ekonomi terbesar di ASEAN, menghadapi pertumbuhan permintaan listrik yang pesat, dan masih bergantung pada batu bara. Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan serta rantai pasok energi bersih yang dapat mendukung transisi energi.
Perkembangan industri mineral kritis juga membuka peluang investasi, tetapi berpotensi meningkatkan kebutuhan listrik sektor industri dan penggunaan pembangkit listrik mandiri atau captive power.
Rebecca mengatakan Indonesia telah memiliki fondasi perencanaan ketenagalistrikan yang kuat melalui Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), dan peta jalan transisi energi sektor ketenagalistrikan.
Tantangan utamanya, menurut AIGCC, bukan lagi ketiadaan rencana, melainkan menyelaraskan berbagai kebijakan dan menerjemahkannya menjadi proyek yang layak dibiayai.
RUPTL 2025–2034 memperkirakan kebutuhan investasi sebesar 188 miliar dolar AS, dengan sekitar 73 persen diharapkan berasal dari modal swasta. Karena itu, investor membutuhkan kejelasan mengenai mekanisme pengadaan proyek, sumber pendapatan, pembagian risiko, dan kesiapan jaringan listrik.
"Sekitar 73 persen dari kebutuhan investasi 188 miliar dolar AS dalam RUPTL diharapkan berasal dari modal swasta. Artinya, keberhasilan rencana ini sangat bergantung pada kesiapan investor untuk masuk," katanya.
AIGCC juga menyoroti pentingnya memperjelas arah transisi pembangkit batu bara, termasuk pembangkit captive, serta memastikan kesiapan teknologi dan pelaksanaan proyek sesuai rencana.
Selain itu, AIGCC menyambut baik program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt-peak (GWp) sebagai sinyal arah pengembangan ketenagalistrikan Indonesia. Namun, investor akan mencermati bagaimana program tersebut beralih dari pengumuman ke tahap pelaksanaan.
AIGCC menilai pentingnya peta jalan transisi ketenagalistrikan yang jelas untuk menarik investasi swasta skala besar dalam mendukung percepatan transisi energi di Indonesia.
Kejelasan mengenai kebutuhan pembiayaan, kesiapan daftar projek, serta pembagian risiko, menjadi faktor penting untuk menerjemahkan target transisi energi menjadi realisasi investasi.
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026