Pemkot Sawahlunto terapkan teknologi pertanian modern di Desa Salak
Pemerintah Kota (Pemkot) Sawahlunto, Sumatera Barat, menerapkan teknologi pertanian modern dan kemitraan lintas sektor untuk mengoptimalkan lahan pangan dan ...
(Antara) 27/10/26 21:31 1476509
Untuk tanggung jawabnya petani mitra, yaitu menangani perawatan tanaman, pemanenan dan pemasaran hasil produksi.
Sawahlunto (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Sawahlunto, Sumatera Barat, menerapkan teknologi pertanian modern dan kemitraan lintas sektor untuk mengoptimalkan lahan pangan dan hortikultura di Desa Salak, Kecamatan Talawi, sekaligus mengevaluasi efektivitas program tersebut sebagai acuan pengembangan di desa lain.
"Sejauh ini hasil penerapannya menunjukkan perkembangan yang baik. Namun, kita mengingatkan seluruh pihak agar tetap mematuhi regulasi, mengidentifikasi kendala dan menyiapkan langkah perbaikan atau penyesuaian untuk menjaga efektivitas pelaksanaan program," kata Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra, di Sawahlunto, Selasa.
Ia menyatakan telah turun langsung ke lahan pertanian di Desa Salak tersebut untuk peninjauan dan berdiskusi langsung dengan para petani dan pihak-pihak terkait di lapangan.
Dia menyaksikan penanaman padi menggunakan drum seeder, demonstrasi traktor roda dua serta pemetikan cabai keriting yang dikelola melalui kemitraan petani dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Karya Muda Mandiri Salak.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Sawahlunto Heni Purwaningsih menyatakan optimalisasi lahan perkebunan cabai di Desa Salak didukung kemitraan dengan PLN IP UBP Ombilin Sijantang.
Dukungan tersebut diberikan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan berupa bantuan pupuk berbahan fly ash and bottom ash (FABA), traktor roda dua, serta sejumlah benih.
Direktur BUMDes Karya Muda Mandiri Salak Arni Yunita menjelaskan dalam skema kerja sama dengan BUMDes yaitu BUMDes menyediakan modal, mengelola administrasi, serta memantau dan mengevaluasi usaha cabai keriting.
"Untuk tanggung jawabnya petani mitra, yaitu menangani perawatan tanaman, pemanenan dan pemasaran hasil produksi" kata dia lagi.
Ia menyebut usaha tersebut menargetkan penanaman 3 ribu batang cabai keriting dengan proyeksi produksi 1,5 ton per siklus tanam.
Dia mengungkapkan asumsi harga jual yakni Rp30 ribu per kg, maka potensi omzet kotor diperkirakan mencapai Rp45 juta per siklus sebelum dikurangi biaya operasional.
Secara nasional, Kementerian Pertanian mengembangkan Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS), yakni pendekatan modernisasi budi daya yang memadukan teknologi, mekanisasi, dan pengelolaan usaha tani untuk meningkatkan produktivitas serta efisiensi.
Pengembangan pertanian modern tersebut sejalan dengan Astacita Presiden Prabowo Subianto, khususnya agenda kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, yang menekankan peningkatan produksi dalam negeri dan penguatan ketahanan pangan nasional.
Pewarta: Najmi Aulia
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026