Indonesia dan nilai tambah dalam kolaborasi kreatif berbasis AI
Kekayaan budaya Indonesia dapat menjadi sumber bagi industri kreatif global. Namun, mengubah cerita dan karakter lokal menjadi produk bernilai komersial ...
(Antara) 28/10/26 10:54 1548915
Koridor Indonesia-India membuka peluang untuk mempertemukan kekayaan budaya nasional dengan kapasitas produksi dan pasar internasional.
Jakarta (ANTARA) - Kekayaan budaya Indonesia dapat menjadi sumber bagi industri kreatif global. Namun, mengubah cerita dan karakter lokal menjadi produk bernilai komersial membutuhkan kemampuan mengembangkan karya, menjangkau pasar, dan memastikan penciptanya memperoleh manfaat ekonomi.
Peluncuran Indonesia-India Creative Tech Corridor di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari, Jawa Timur, pada 24 Oktober 2026 membuka peluang untuk memperkuat proses tersebut.
Koridor ini menghubungkan talenta dan kekayaan intelektual (intellectual property/IP) Indonesia dengan teknologi serta kapasitas produksi audiovisual India, termasuk melalui pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI).
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Lokanima di KEK Singhasari dan sejumlah mitra industri Indonesia-India. Kolaborasi mencakup pengembangan teknologi kreatif, penciptaan IP, pemanfaatan AI, dan distribusi konten audiovisual ke pasar internasional.
Para pihak menargetkan penayangan perdana karya bersama pada World Audio Visual and Entertainment Summit (WAVES) 2027 di Mumbai, India.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (RI) Teuku Riefky Harsya menyatakan koridor tersebut merupakan tindak lanjut komitmen World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 untuk menciptakan kemitraan konkret dengan peluang ekonomi yang bermakna.
Pemerintah juga menekankan pentingnya keterlibatan talenta dan IP lokal dalam pengembangan teknologi.
Arah kerja sama ini relevan bagi sektor yang menyerap 27,4 juta pekerja pada 2025, setara 18,70 persen dari total penduduk bekerja. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi kreatif menyumbang Rp1.757,87 triliun atau 7,38 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada tahun yang sama.
Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan. Namun, perluasan pasar saja belum menjamin pencipta memperoleh manfaat yang sepadan. Nilai tambah juga bergantung pada kemampuan kreator mengembangkan IP, terlibat dalam keputusan bisnis, dan memperoleh pendapatan dari pemanfaatan karyanya.
Rantai nilai
Kolaborasi Indonesia-India mempertemukan kapasitas yang saling melengkapi. Indonesia memiliki cerita, karakter, dan identitas budaya yang dapat menjadi dasar pengembangan IP. India menawarkan ekosistem audiovisual dan teknologi yang dapat mendukung produksi. Perpaduan tersebut berpeluang membawa gagasan lokal ke pasar yang lebih luas.
Wakil Kepala Misi Kedutaan Besar India untuk Indonesia Bijay Selvaraj menilai kekuatan narasi budaya Indonesia dan ekosistem audiovisual serta teknologi India dapat saling melengkapi. Menurut dia, kolaborasi tersebut membuka ruang untuk saling belajar dan menciptakan nilai ekonomi.
Para mitra juga membentuk Creative Tech Sandbox di KEK Singhasari sebagai ruang uji coba AI dan teknologi baru bagi kreator serta pelaku industri. Mitra yang terlibat meliputi Fun Cican, Prodigi AI, LPP TVRI, Cinepolis, Xelta dari MatchBest Group, Galleri5 India, dan Collective Studios dari Collective Artists Network.
Keterlibatan berbagai mitra membuka peluang untuk menghubungkan pengembangan cerita dan karakter dengan kemampuan produksi serta distribusi. Namun, setiap tahap membutuhkan kesiapan berbeda. Gagasan perlu dikembangkan sesuai kebutuhan audiens, produksi harus memenuhi standar mutu, dan distribusi perlu membuka akses kepada penonton serta mitra komersial.
Perbedaan kemampuan dalam pengembangan teknologi, produksi, dan distribusi dapat memengaruhi posisi tawar masing-masing pihak. Karena itu, keterlibatan kreator Indonesia perlu mencakup pengambilan keputusan dan pemanfaatan komersial karya, tidak berhenti pada penyediaan cerita dan karakter.
AI dapat mendukung proses kreatif, mempercepat produksi, dan membuka cara baru untuk mengembangkan konten. Namun, penggunaan teknologi tidak otomatis membuat manfaat ekonominya terbagi secara adil. Kreator juga membutuhkan kemampuan mengembangkan IP, memahami kebutuhan pasar, dan bernegosiasi dengan mitra industri.
Target penayangan karya bersama pada WAVES 2027 menjadi kesempatan untuk memperkenalkan hasil kolaborasi kepada pasar internasional. Meski demikian, penayangan perdana belum menunjukkan apakah karya tersebut mampu bertahan dan menghasilkan pendapatan.
Jangkauan audiens, peluang lisensi, pemanfaatan karakter dalam produk lain, dan pendapatan dari penggunaan karya dapat menjadi indikator manfaat ekonomi yang lebih konkret. Capaian tersebut dapat menunjukkan sejauh mana kolaborasi membuka pasar dan menghasilkan pendapatan bagi kreator Indonesia.
Perlindungan IP
Pengembangan produk kreatif lintas negara membutuhkan kejelasan hak atas karya. Cerita, karakter, dan desain dapat digunakan dalam berbagai produk dan saluran distribusi. Ketika pemanfaatannya melibatkan banyak pihak, kepemilikan, lisensi, penggunaan komersial, dan pembagian pendapatan perlu diatur secara jelas agar kontribusi pencipta tetap diakui.
Dalam WCCE 2026, Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Christiawan Nasir mengatakan nilai ekonomi konten digital masih banyak mengalir kepada segelintir platform, sementara kreator di negara berkembang belum sepenuhnya menikmati manfaat ekonomi dari karya mereka.
Ia juga mengingatkan risiko penggunaan karya untuk melatih sistem AI tanpa persetujuan atau kompensasi yang layak.
Pandangan tersebut relevan bagi pelaksanaan koridor Indonesia-India. Kejelasan mengenai kepemilikan IP, persetujuan penggunaan karya, lisensi, royalti, dan pembagian pendapatan perlu menjadi bagian dari pelaksanaan kerja sama agar hak kreator terlindungi dan manfaat ekonomi dapat dibagikan secara proporsional.
Kejelasan hak semakin penting ketika satu cerita atau karakter dikembangkan menjadi berbagai produk dan dipasarkan di banyak negara. Perluasan jangkauan pasar perlu disertai mekanisme yang memastikan pencipta tetap memperoleh manfaat dari pemanfaatan karyanya.
Perlindungan hak juga perlu berjalan bersama peningkatan kemampuan kreator. Akses terhadap teknologi, pendampingan produksi, jejaring industri, dan pemahaman pasar internasional dapat membantu kreator mengambil peran lebih besar dalam pengembangan dan komersialisasi IP.
Koridor Indonesia-India membuka peluang untuk mempertemukan kekayaan budaya nasional dengan kapasitas produksi dan pasar internasional. Nilai tambahnya akan ditentukan oleh kemampuan kreator Indonesia mengembangkan IP lokal, menjangkau pasar, dan memperoleh manfaat ekonomi dari pemanfaatan karya, dengan tetap terlindunginya hak pencipta.
Dengan cara itu, kerja sama berbasis AI dapat memperkuat posisi tawar kreator Indonesia dalam industri kreatif lintas negara.
Copyright © ANTARA 2026
#ekonomi-kreatif #kecerdasan-artifisial #indonesia-india #kekayaan-intelektual #kreator-indonesia