Dedikasi insan maritim di garis depan mengawal pasokan energi
Di darat, minyak mentah diolah menjadi ragam produk bahan bakar. Namun, jauh sebelum tiba di kilang, cairan berharga itu lebih dahulu hinggap di fasilitas ...
(Antara) 29/10/26 05:20 1648320
Dari hulu ke hilir, kami ini pendukung awalnya. Ketika kapal tidak bisa disandarkan, otomatis tidak ada pembongkaran di sisi kilang, sehingga produksi bisa terdampak
Indramayu (ANTARA) - Di darat, minyak mentah diolah menjadi ragam produk bahan bakar. Namun, jauh sebelum tiba di kilang, cairan berharga itu lebih dahulu hinggap di fasilitas terapung tengah laut, area yang kerap luput dari amatan orang awam.
Di tengah laut inilah sosok Maman Suherman menjalani rutinitas, seperti pada Kamis (22/10) siang, saat terik matahari di kawasan pesisir terasa menyengat kulit hingga keringatnya mengalir deras. Namun, sorot matanya tetap tajam tertuju ke arah perairan lepas.
Tepat saat jarum jam menunjukkan pukul 13.34 WIB, ia bersiap mengarungi laut. Maman hendak melihat dari dekat kondisi Single Point Mooring (SPM), simpul vital yang mengalirkan energi untuk Kilang Balongan di Indramayu, Jawa Barat.
“Kapal mulai bergerak, menuju SPM 35.000 (deadweight tonnage/DWT). Bergerak perlahan meninggalkan jetty,” tuturnya, saat berkomunikasi dengan petugas pelabuhan memakai telepon kabel berwarna hitam.
Lelaki paruh baya berusia 57 tahun, asal Kuningan, Jawa Barat, itu duduk di kursi kemudi, mengarahkan pandangan ke depan sembari mengendalikan tuas dan memantau panel navigasi.
Kapal yang dikemudikannya bernama Transko Dara 3218. Kapal tunda (tugboat) milik PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) ini memiliki panjang 33,36 meter, lebar 11 meter, dan tonase kotor 465 GT.
Kapal tersebut dilengkapi sistem azimuth stern drive (ASD), yang memungkinkan unit pendorongnya berputar hingga 360 derajat. Kemampuan ini membuat kapal lebih lincah bermanuver di perairan terbatas, terutama saat membantu kapal tanker bersandar maupun meninggalkan tambatan.
Selain membantu pergerakan kapal tanker, Transko Dara 3218 digunakan untuk mengangkut personel menuju fasilitas lepas pantai. Misalnya saat petugas perlu menjangkau SPM.

Perlahan, kapal tunda yang dikemudikan Maman menjauh dari kawasan pelabuhan. Bentangan laut semakin terbuka, sementara aktivitas di sekitar dermaga tampak mengecil seiring bertambahnya jarak.
Di antara rutinitas di kawasan tersebut, kapal tanker PIS Cinta dengan kapasitas 2.000 metrik ton terlihat bersandar di jetty. Kapal itu tengah melakukan pemuatan avtur untuk memenuhi kebutuhan penerbangan. Sementara pelayaran Maman berlanjut menuju fasilitas SPM.
Sebelum mendekati SPM, kapal tunda dapat bergerak menuju area labuh siaga yang berjarak sekitar 10-15 mil laut dari fasilitas tersebut. Dari titik itu, pergerakan kapal menyesuaikan kebutuhan operasional dan kondisi di perairan.
Para pelaut ulung
Di balik kemudi kapal tunda, ada pengalaman panjang yang menempa Maman selama belasan tahun berkarier di dunia maritim. Ia menimba ilmu di bidang tersebut hingga berhasil menyabet predikat master mariner.
Kepada ANTARA, ia bercerita bahwa gelar tersebut merepresentasikan puncak pencapaian tertinggi bagi seorang profesional di industri pelayaran niaga.
Lisensi bergengsi ini, memberikan legitimasi mutlak bagi pemegangnya untuk mengemban tanggung jawab sebagai nakhoda dalam memimpin dan mengoperasikan berbagai jenis kapal di lautan lepas, tanpa terikat oleh batasan tonase maupun ukuran kapal.
“Jadi sertifikasi master mariner artinya, kita bisa disebut kapten dan bisa mengemudikan semua jenis kapal,” ujarnya.
Menariknya, Maman merupakan sosok pionir yang mengantongi sertifikasi tersebut di perusahan tempatnya bertugas sekarang.
Tak mengherankan, kalau ia telah mengarungi berbagai perairan Nusantara, mengikuti kegiatan survei seismik serta eksplorasi minyak dan gas (migas), sampai menjalani pelayaran internasional hingga Sri Lanka.
Pengalaman tersebut membentuk kecakapannya mengendalikan kapal dalam beragam kondisi perairan.
Ia pernah menghadapi gelombang setinggi delapan meter di Blok Masela, Laut Arafura, situasi yang menuntut ketenangan sekaligus ketepatan dalam mengambil keputusan.
Maman memiliki pembawaan yang ramah, humoris, dan apa adanya, membuat percakapan di atas kapal yang biasanya kaku mendadak cair penuh gelak tawa.

Bertugas enam bulan di tengah laut membuat Maman Suherman harus merelakan banyak momen penting bersama keluarga, mulai dari Lebaran di atas kapal hingga melewatkan proses persalinan sang istri.
Meski demikian, ayah tiga anak ini tetap tersenyum. "Biasa saja, tidak pulang karena sedang bertugas di laut," tuturnya kepada ANTARA.
Sejatinya, masa tugas pelaut asal kaki Gunung Ciremai ini telah berakhir pada 1 Oktober 2026. Namun, demi mengawal pasokan energi dan karena belum ada nakhoda pengganti, ia rela memperpanjang masa tugasnya. Di balik raut wajahnya yang lelah, Maman tetap menjalankan tanggung jawab tersebut dengan penuh keteguhan.
Rutinitas
Di balik koordinasi dari anjungan, terdapat pekerjaan awak kapal yang memastikan setiap kebutuhan operasional terpenuhi, termasuk pemeriksaan perlengkapan, kesiapan personel, dan komunikasi selama kegiatan berlangsung.
Jika Kapten Maman menguasai olah gerak di anjungan, maka roda operasional harian di geladak dikendalikan oleh Sri Hardoko, Chief Officer Transko Dara 3218. Pria asal Klaten, Jawa Tengah, tersebut sudah berkarier di dunia pelayaran sejak 1999.
Saat berbincang dengan ANTARA, Hardoko tahu betul bagaimana menerjemahkan komando nakhoda, menjadi tindakan yang presisi di lapangan.
Sebagai orang kedua dalam struktur komando, tugasnya merentang dari urusan navigasi, kelaiklautan, hingga memantau kesiapan awak kapal dan selang muat bersama para juru selang (hose man) yang bertugas memasang sambungan selang ke manifold untuk mengalirkan air balas serta memastikan nihilnya kebocoran.
Dinamika harian Hardoko adalah potret ketekunan yang senyap. Ia terbiasa menghadapi siklus enam bulan pelayaran sebelum berkesempatan pulang menengok tanah kelahirannya.
Di tengah hamparan air asin, hari-harinya diisi koordinasi ketat untuk memastikan distribusi energi dari satu titik ke titik lainnya berjalan tanpa cela.
Seluruh aktivitas di atas kapalnya pun diatur secara ketat di bawah prosedur keselamatan kerja (SafetyFirst). Aturan mutlak seperti larangan merokok pun diterapkan.
Kapal ini memiliki panel kontrol sistem pemadam kebakaran, dengan indikator tombol merah dan hijau yang selalu disiagakan di dalam anjungan kapal.
Pada umumnya kapal tunda memiliki susunan awak tersendiri. Setiap kapal diawaki sembilan hingga sepuluh orang, yang bertugas di bagian dek dan mesin. Hal ini pun berlaku untuk Transko Dara 3218.
Jadwal jaga disusun dalam pergantian sif, termasuk pola 12 jam atau tiga sif sehari, untuk mengurangi kelelahan selama operasi.
Dalam rentang itu, mereka harus menjaga kesiapan kapal dan menjalankan tugas sesuai kebutuhan operasional.
“Untuk istirahat, kami mengandalkan enam kamar tidur yang dilengkapi pendingin udara. Untuk makan juga aman, logistik kapal selalu terpenuhi,” katanya.
Hardoko dan Maman berbagi ruang hidup yang sama dengan awak kapal lainnya. Di sela-sela mengawal distribusi energi atau bernostalgia mengenang pengalaman berlayar di berbagai lautan lepas, mereka punya cara tersendiri untuk melepas penat.
Rutinitas sederhana seperti menikmati secangkir kopi hangat, bermain kartu gaple, menonton televisi, atau sekadar memainkan gawai saat sinyal tertangkap di kamar geladak menjadi pelipur lara di tengah lautan.
Selain mencari penghidupan, ia menilai bertugas di laut sudah seperti rumah tempat merawat bakti. Dirinya rela berada di garis terdepan, mempertaruhkan rindu demi memastikan aktivitas dalam pasokan energi berjalan lancar.
“Banyak pengalaman berkesan, karena pernah berlayar ke beberapa perairan Nusantara,” ucapnya, mengakhiri perbincangan.
Sesampainya di laut lepas, Transko Dara 3218 merapat di dekat fasilitas SPM yang tampak mencolok di tengah birunya perairan.

Keberadaan SPM ini menjadi salah satu urat nadi logistik migas, karena fungsinya sebagai fasilitas tambat kapal untuk bongkar muat minyak mentah dari kapal tanker sebelum dialirkan melalui jaringan pipa bawah laut menuju daratan.
Lebih dari sekadar pelampung tambat biasa, infrastruktur ini menjawab tantangan produksi minyak mentah domestik yang terus meningkat namun memiliki batasan kapasitas olah di Kilang Balongan.
Di lepas pantai Balongan, terdapat tiga unit SPM, mulai dari kapasitas 165.000 DWT untuk kapal tanker minyak mentah, 35.000 DWT untuk nafta dan minyak ringan, hingga 17.500 DWT untuk produk lainnya.
Setelah seluruh rangkaian peninjauan tersebut tuntas dilaksanakan, kapal tunda yang dikemudikan Maman perlahan memutar haluan.
Mesin kembali menderu, memecah buih gelombang untuk mengarahkan pelayaran pulang kembali menuju pangkalan pelabuhan.
Tak berselang lama, kapal tersebut berlabuh. Lambungnya yang merah menyala dibalut ban-ban karet besar sebagai perisai benturan, lengkap tertera nomor registrasi IMO 9913482 menjadi salah satu pelengkap dalam lanskap fasilitas jetty di Kilang Balongan.
Di atas anjuran buritan kapal tersebut, para anak buah kapal berbaris rapi, siap menyambut dinamika tugas harian berikutnya.
Juru parkir di laut
Tak ada marka putih, karcis, apalagi peluit untuk memberi aba-aba mundur. Namun, di perairan Balongan, kapal tanker berukuran besar tetap harus menempati posisi tepat sebelum membongkar muatan.
Di sinilah peran “juru parkir” laut bekerja. Kapal berbobot besar dengan manuver terbatas harus diarahkan secara cermat untuk menghindari risiko operasional.
Maka dari itu, di terminal khusus Kilang Balongan terdapat layanan kelautan dan kepelabuhanan yang menghubungkan kapal dengan fasilitas penerimaan maupun penyaluran produk.
Pasokan dari kawasan ini disalurkan terutama ke Jakarta, Jawa Barat, Banten, Pontianak, Banjarmasin, hingga sejumlah wilayah di Indonesia timur.
Aktivitas tersebut berjalan sepanjang hari. Dalam periode Januari hingga September 2026, kegiatan kapal yang tercatat mencapai 337 kunjungan atau rata-rata 40-45 kunjungan per bulan.
Port Supervisor II Port Balongan PTK Rema Prajanto menjelaskan, pelayanan dimulai dari penerimaan informasi kedatangan melalui radio, pencatatan laporan, hingga penentuan lokasi labuh dan fasilitas yang digunakan.
Setelah jadwal ditetapkan, awak kapal tunda, petugas tambat atau mooring gang, serta hose man disiapkan untuk membantu proses penyandaran.
Petugas memasang tali tambat, kemudian menghubungkan selang kargo dengan fasilitas penerima atau penyalur. Posisi manifold kapal harus sejajar dengan titik sambungan agar pemindahan produk berlangsung sesuai prosedur.
Selain operasional lapangan, terdapat pula fungsi keagenan yang mengurus dokumen kapal berupa Surat Persetujuan Berlayar (SPB), melakukan koordinasi dengan Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP), serta pemeriksaan sertifikat kapal dan awak.

Menurut Rema, ketepatan pelayanan berpengaruh terhadap kelangsungan operasi kilang berkapasitas 150.000 barel per hari di Indramayu. Keterlambatan penyandaran dapat menunda pembongkaran muatan dan mengganggu pasokan.
“Dari hulu ke hilir, kami ini pendukung awalnya. Ketika kapal tidak bisa disandarkan, otomatis tidak ada pembongkaran di sisi kilang, sehingga produksi bisa terdampak,” ujarnya.
Untuk menunjang kegiatan tersebut, PTK mengoperasikan 12 kapal tunda. Sebanyak delapan kapal melayani Refinery Unit (RU) Balongan, sedangkan empat lainnya mendukung Integrated Terminal Balongan. Operasional darat juga melibatkan 130 tenaga alih daya.
Kelancaran
Marine Terminal Safety Inspector PTK Handri Setiawan mengatakan, pemeriksaan keselamatan dilakukan sebelum kegiatan bongkar muat dimulai.
Petugas memeriksa kapal dan fasilitas darat melalui daftar periksa keselamatan yang mengacu pada International Safety Guide for Oil Tankers and Terminals (ISGOTT). Pemeriksaan kemudian diulang setiap dua atau empat jam sesuai kesepakatan.
Sementara itu, petugas pandu membantu nakhoda menentukan jalur dan mendukung proses kapal bersandar maupun bertolak. Keputusan akhir tetap berada di tangan sang kapten.
Di perairan Balongan, risiko tumpahan minyak pun perlu diantisipasi melalui kesiapan personel dan peralatan tanggap darurat.
Oil Spill Response & Marine Compliance PTK Mohamad Faried Ma’ruf menyebutkan, peralatan yang tersedia meliputi oil boom untuk membatasi penyebaran, oil skimmer untuk mengangkat minyak, serta oil sorbent pad guna menyerap tumpahan kecil.
Penanganan diawali dengan mengidentifikasi sumber dan menghentikan kebocoran. Metode dipilih berdasarkan jenis serta volume minyak dan kondisi perairan. Penggunaan bahan seperti dispersant dibatasi untuk perairan dengan kedalaman minimal 22 meter.
Faried mengatakan, laporan insiden diverifikasi sebelum personel dan peralatan dikerahkan. Jika kemampuan setempat tidak mencukupi, penanganan dikoordinasikan dengan pemangku kepentingan sesuai skala kedaruratan.
Menurut dia, selama sekitar 10 tahun terakhir tidak terjadi tumpahan besar di wilayah tersebut. Pengalaman insiden besar pada 2008 menjadi pelajaran untuk menjaga kesiapan peralatan, material, personel, dan prosedur penanganan.
Sekelumit aktivitas di perairan Balongan menunjukkan setiap tanker yang bersandar membawa cerita tentang kecakapan nakhoda hingga kerja senyap para personel, yang memastikan muatan tiba dengan aman, risiko terkendali, dan pasokan energi tetap berjalan.
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
#pt-pertamina-trans-kontinental-ptk #indramayu #pasokan-energi #spm #kilang-balongan