Dari stabilitas harga hingga UMKM menembus pasar global

Dari stabilitas harga hingga UMKM menembus pasar global

Produk dari desa kini ikut membidik pasar internasional. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak lagi hanya mengandalkan pasar domestik, ...

(Antara) 16/10/26 09:56 194324

​Memasuki tahun ketiga pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, tantangan utama Kemendag adalah menjaga agar berbagai capaian positif ini berlanjut secara konsisten.

Jakarta (ANTARA) - Produk dari desa kini ikut membidik pasar internasional. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak lagi hanya mengandalkan pasar domestik, melainkan merambah pasar mancanegara melalui beragam program fasilitasi ekspor.

Geliat ini menjadi salah satu gambaran arah kebijakan perdagangan Indonesia selama dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

​Di tengah ketidakpastian ekonomi serta dinamika geopolitik global, pemerintah terus berupaya menjaga pertumbuhan ekspor sekaligus memperluas akses pelaku usaha lokal menuju pasar dunia.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyatakan bahwa sektor perdagangan Indonesia masih menunjukkan tren positif, baik dari sisi stabilitas harga kebutuhan pokok maupun kinerja ekspor.

​"Dari sektor perdagangan, meskipun tantangan global cukup besar, kinerjanya terus tumbuh positif," ujar Budi kepada ANTARA dikutip di Jakarta, Jumat.

Budi menegaskan, menjaga perdagangan tidak hanya berfokus pada peningkatan ekspor. Pemerintah juga wajib memastikan ketersediaan bahan pokok dengan harga yang terjangkau, sekaligus membuka akses lebih luas bagi produk lokal untuk bersaing di pasar global.

Ekspor tetap tumbuh

​Di tengah berbagai tantangan perdagangan global, kinerja ekspor Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor nasional sepanjang 2025 mencapai 282,91 miliar dolar AS, naik 6,15 persen dibandingkan capaian 2024 yang sebesar 266,51 miliar dolar AS.

​Tren positif tersebut berlanjut pada periode Januari–Agustus 2026 dengan nilai ekspor mencapai 193,64 miliar dolar AS (naik 4,74 persen). Pada periode yang sama, neraca perdagangan Indonesia juga kembali membukukan surplus sebesar 7,25 miliar dolar AS.

​Budi menilai capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa aktivitas perdagangan Indonesia masih tangguh di tengah ketidakpastian global.

​Meski begitu, tantangan utama ke depan adalah menjaga keberlanjutan pertumbuhan tersebut agar tidak bergantung pada komoditas atau pasar tertentu. Perluasan pasar tujuan ekspor serta peningkatan nilai tambah produk menjadi langkah krusial dalam memperkuat daya saing nasional.

​Di sinilah perjanjian perdagangan memegang peran strategis. Kesepakatan dengan negara mitra dapat membuka akses pasar, memangkas hambatan tarif, dan memberi ruang lebih besar bagi produk Indonesia untuk bersaing.

​Saat ini, Indonesia telah mengimplementasikan 25 perjanjian dagang, sementara 13 perjanjian lainnya masih dalam tahap negosiasi. Pemerintah juga tengah mengejar penyelesaian perundingan dengan Gulf Cooperation Council (GCC) di kawasan Timur Tengah, serta menjajaki kerja sama dengan blok perdagangan dan integrasi regional di Amerika Selatan (Mercosur).

​Menurut Budi, pembukaan akses pasar tidak selalu harus menunggu kesepakatan regional yang membutuhkan waktu panjang. Penjajakan bilateral bisa menjadi langkah awal yang efektif untuk mendorong kerja sama yang lebih luas.

​Ia mencontohkan kerja sama bilateral Indonesia dengan Uni Emirat Arab (UEA) yang berhasil ditempuh di tengah upaya memperluas penetrasi pasar di kawasan Timur Tengah.

​"PR ke depan sebenarnya adalah bagaimana kita memperbanyak perjanjian dagang dan membuka akses pasar, sekaligus meningkatkan daya saing produk dalam negeri," tegasnya.

UMKM bidik pasar dunia

​Perluasan akses pasar internasional diharapkan memberi manfaat nyata bagi pelaku usaha yang selama ini belum tersentuh jalur ekspor.

​Melalui program Desa Ekspor, Kemendag aktif memperkenalkan produk unggulan daerah kepada para pembeli (buyer) internasional. Pendekatan ini memberi kesempatan bagi pelaku usaha di perdesaan untuk menjangkau pasar global.

​Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa ekspor bukan lagi ranah eksklusif perusahaan besar atau pelaku usaha di kota-kota besar.

​"Di desa-desa juga sudah banyak yang melakukan ekspor. Pelaku ekspor itu tidak hanya ada di kota, tetapi juga di desa. Bukan hanya usaha besar, melainkan UMKM pun bisa ekspor," terangnya.

​Kolaborasi dengan dunia usaha menjadi kunci untuk memperkuat langkah ini. Dalam rangkaian kegiatan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, misalnya, telah ditandatangani 10 nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) bernilai Rp69 miliar yang melibatkan pihak pembina dan mitra usaha.

​Kerja sama semacam ini diharapkan dapat membantu pelaku UMKM meningkatkan kualitas produk, memperkuat kapasitas produksi, serta membangun jaringan pemasaran yang lebih luas.

​Kinerja ekspor sektor ini pun menunjukkan tren positif. Nilai transaksi ekspor UMKM melalui program UMKM BISA Ekspor tercatat mencapai 347 juta dolar AS (sekitar Rp6 triliun) sepanjang periode Januari–Agustus 2026.

​Kendati demikian, menembus pasar internasional tidak cukup hanya dengan mengandalkan produk yang diminati. Pelaku usaha dituntut menjaga konsistensi kualitas, memenuhi standar teknis negara tujuan, serta memastikan kepastian pasokan barang sesuai permintaan pembeli.

​Oleh karena itu, penguatan UMKM harus berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas produksi dan pendampingan ekspor secara berkelanjutan.

Hilirisasi perkuat posisi Indonesia

​Selain memperluas akses pasar, tantangan utama yang harus dijawab adalah bagaimana membuat produk Indonesia semakin kompetitif di kancah global.

​Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai hilirisasi menjadi instrumen vital untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat daya saing produk nasional. Dengan mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, Indonesia berpeluang meraih manfaat ekonomi yang jauh lebih besar.

​"Program hilirisasi yang dicanangkan Bapak Presiden sangat tepat. Melalui hilirisasi, kita memiliki daya saing yang kuat berkat peningkatan kualitas produk," ujarnya.

​Hilirisasi juga diharapkan dapat membantu industri dalam negeri dalam mengembangkan kompetensi produksi, meningkatkan standar mutu, serta memenuhi kebutuhan pasar global yang kian beragam.

​Oleh karena itu, perluasan akses pasar harus berjalan selaras dengan penguatan kapasitas industri nasional. Perjanjian perdagangan dapat membuka pintu pasar global, namun daya saing produk yang akan menentukan seberapa jauh peluang tersebut dapat dimanfaatkan.

Menjaga harga, membuka peluang

​Di sisi domestik, Kemendag terus mengemban tugas penting untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga barang kebutuhan pokok. Stabilitas harga menjadi krusial karena berdampak langsung pada daya beli masyarakat serta kelancaran roda perdagangan dalam negeri.

​Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa pemerintah terus berkoordinasi secara intensif dengan kementerian/lembaga terkait, distributor, pemasok, hingga pelaku usaha untuk menjaga kondusivitas pasar.

​"Sisi stabilitas harga saat ini terkendali dengan baik. Kita terus berkolaborasi dengan kementerian, pelaku usaha, distributor, dan pemasok. Sejak tahun lalu, momentum Lebaran berjalan baik, dan hingga kini harga-harga relatif stabil," ungkapnya.

​Memasuki tahun ketiga pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, tantangan utama Kemendag adalah menjaga agar berbagai capaian positif ini berlanjut secara konsisten.

​Laju ekspor perlu terus didorong, pasar tujuan baru harus dibuka, dan makin banyak pelaku usaha yang diberi kesempatan untuk memanfaatkan peluang perdagangan global.

​Pada saat yang sama, stabilitas harga kebutuhan pokok di dalam negeri tetap menjadi prioritas utama agar pertumbuhan sektor perdagangan senantiasa sejalan dengan perlindungan kesejahteraan konsumen.

​Melalui kombinasi strategi pembukaan akses pasar, peningkatan daya saing, penguatan UMKM, dan pemeliharaan stabilitas harga, kinerja perdagangan diharapkan tidak hanya mencatatkan pertumbuhan secara kuantitatif, tetapi juga mampu memacu pemerataan kesempatan berusaha dari perkotaan hingga pelosok desa.

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

#dua-tahun-prabowo-gibran #sektor-perdagangan #capaian-kinerja-perdagangan #menteri-perdagangan #budi-santoso

https://www.antaranews.com/berita/5790557/dari-stabilitas-harga-hingga-umkm-menembus-pasar-global