Indonesia buka peluang kemitraan tilapia dan rumput laut dengan Eropa
Indonesia membuka peluang kemitraan dengan investor Eropa untuk mengembangkan industri ikan nila atau tilapia dan rumput laut dari hulu hingga hilir.Direktur ...
(Antara) 18/10/26 13:42 267944
Peluang kemitraan yang dapat dibangun mencakup peningkatan mutu benih, efisiensi pakan, kesehatan ikan, serta ketertelusuran produk
Jakarta (ANTARA) - Indonesia membuka peluang kemitraan dengan investor Eropa untuk mengembangkan industri ikan nila atau tilapia dan rumput laut dari hulu hingga hilir.
Direktur Jenderal Perikanan Budi daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) TB Haeru Rahayu, dalam keterangan di Jakarta, Minggu, mengatakan, Indonesia telah mengembangkan budi daya tilapia di Pulau Jawa untuk memenuhi kebutuhan konsumsi domestik sekaligus memasok bahan baku bagi industri pengolahan.
“Peluang kemitraan yang dapat dibangun mencakup peningkatan mutu benih, efisiensi pakan, kesehatan ikan, serta ketertelusuran produk,” katanya.
Peluang kerja sama itu disampaikan dalam Indonesia–Europe Business Forum (IEBF) 2026 di Tangerang, Banten, Kamis (15/10).
Selain tilapia, KKP juga mendorong kemitraan pengembangan rumput laut melalui peningkatan kualitas bahan baku dan penguatan proses pascapanen.
Kerja sama di sektor ini mencakup penyediaan bibit berkualitas, penerapan mekanisasi dan teknologi budi daya, serta perbaikan proses pengeringan dan penyimpanan hasil panen. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga konsistensi mutu bahan baku bagi industri pengolahan.
Dari sisi pasar, perwakilan Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI), Andhi Trapsilo, memaparkan nilai ekspor tilapia Indonesia pada Januari–November 2025 mencapai 87,57 juta dolar AS atau sekitar Rp1,58 triliun.
Amerika Serikat menjadi tujuan utama ekspor dengan pangsa 51,7 persen, disusul Kanada sebesar 24,7 persen. Sementara itu, ekspor ke Uni Eropa mencapai 7,13 juta dolar AS atau 8,1 persen dari total nilai ekspor yang dipaparkan.
Andhi juga menyebut nilai ekspor tilapia Indonesia mencapai 6,98 dolar AS per kilogram, tertinggi di antara eksportir utama dunia seperti China, Kolombia, Vietnam, dan Taiwan.
Ia menyebutkan, selain fillet sebagai produk utama, industri tilapia berpeluang meningkatkan nilai tambah melalui pemanfaatan hasil samping pengolahan.
Kulit dan sisik ikan dapat diolah menjadi bahan baku kolagen dan gelatin, sedangkan bagian lainnya dapat dimanfaatkan untuk tepung dan minyak ikan.
Sementara itu, perwakilan Indonesian Tropical Seaweed Association (INTROSEA), Artati Widarti, mengatakan potensi pemanfaatan rumput laut tidak terbatas pada produk hidrokoloid seperti karaginan dan agar.
Rumput laut juga dapat dikembangkan sebagai bahan baku untuk industri pangan, kosmetik, farmasi, bioplastik, serta produk pendukung pertanian dan perikanan.
Menurut Artati, kemitraan Indonesia–Eropa dapat dikembangkan melalui perdagangan produk turunan, penelitian, investasi, dan pengolahan. Dukungan pengujian mutu, pemenuhan standar, serta akses pasar diperlukan untuk meningkatkan daya saing produk rumput laut Indonesia.
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026