Teknologi RISHA percepat pembangunan huntap layak huni di Aceh Tamiang
Pemerintah mempercepat pembangunan 178 hunian tetap (huntap) bagi masyarakat terdampak bencana di Desa Alur Jambu Kecamatan Bandar Pusaka Kabupaten Aceh ...
(Antara) 08/10/26 22:35 35444
Harapan kita sederhana bahwa rumah-rumah ini bisa selesai dengan baik, aman untuk ditempati, dan masyarakat tidak perlu lagi berlama-lama tinggal dalam hunian sementara
Aceh Tamiang (ANTARA) - Pemerintah mempercepat pembangunan 178 hunian tetap (huntap) bagi masyarakat terdampak bencana di Desa Alur Jambu Kecamatan Bandar Pusaka Kabupaten Aceh Tamiang menggunakan teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA).
Deputi Bidang Koordinasi Pembangunan Perumahan dan Sarana dan Prasarana Permukiman Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Ronny Hutahayan mengatakan teknologi tersebut dapat mempercepat pembangunan huntap sehingga masyarakat tidak perlu terlalu lama tinggal di hunian sementara.
“Harapan kita sederhana bahwa rumah-rumah ini bisa selesai dengan baik, aman untuk ditempati, dan masyarakat tidak perlu lagi berlama-lama tinggal dalam hunian sementara,” ujarnya saat acara ground breaking huntap Desa Alur Jambu Kecamatan Bandar Pusaka Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis.
Ia mengatakan pembangunan tersebut tidak hanya difokuskan pada rumah, tetapi juga prasarana, sarana dan utilitas umum (PSU) agar hunian dapat segera ditempati masyarakat.
Pelaksana Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Wilayah Aceh, Safrizal Z.A menjelaskan teknologi RISHA dinilai dapat mempercepat proses konstruksi karena tidak membutuhkan waktu lama untuk menunggu struktur cor mengeras.
“Jadi cepat sekali karena nggak menunggu tiang-tiang cor untuk keras karena menggunakan sistem tahan gempa,” ujar Safrizal.
Hunian Tetap menggunakan teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) dirancang untuk mendukung proses pembangunan rumah secara lebih cepat, efisien, tepat mutu serta tetap memenuhi standar keamanan dan kenyamanan hunian.
Safrizal mengatakan teknologi ini mendukung pemerintah dalam percepatan pembangunan yang ditargetkan sebanyak 2.399 unit huntap di Aceh Tamiang pada 2026 dapat diselesaikan hingga 31 Desember 2026.
Selain persoalan lahan, proses pengadaan juga telah berjalan. Seluruh target pembangunan huntap untuk Aceh Tamiang pada 2026 disebut telah masuk kontrak, dengan waktu pengerjaan sekitar 90 hari.
Pemerintah berharap pembangunan dapat berjalan sesuai target meskipun kondisi cuaca mulai menjadi tantangan di sejumlah wilayah. Safrizal mengatakan kontraktor dan vendor perlu menyiapkan strategi agar pekerjaan tetap berjalan ketika hujan mulai turun.
"Kita berharap alam ini mendukung karena di beberapa titik sudah mulai hujan begitu, mudah-mudahan strategi daripada kontraktor, vendor menyiasati situasi supaya ini bisa gerak," katanya.
Kesiapan hunian juga dikejar pemerintah termasuk fasilitas pendukung seperti listrik, jalan yang dapat dilalui, serta lingkungan hunian nyaman bagi keluarga.
Pemerintah juga mendorong masyarakat ikut mengawasi proses pembangunan. Masyarakat dapat menyampaikan apabila menemukan kekurangan melalui datuk penghulu maupun pemerintah setempat.
Langkah tersebut dinilai penting karena rumah yang sedang dibangun nantinya akan menjadi tempat tinggal masyarakat terdampak bencana untuk kembali menata kehidupan mereka.
Secara keseluruhan, pembangunan huntap melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) di Aceh pada 2026 mencapai sekitar 10.000 unit. Sementara total kebutuhan huntap di seluruh Aceh mencapai sekitar 28.000 unit.
Sebagian kebutuhan tersebut akan dikerjakan pada 2027, sedangkan pembangunan hunian in situ dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta melalui dukungan sejumlah kementerian lainnya.
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026