Menkomdigi angkat langkah peluncuran domain aksara dalam ICANN87
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengangkat pentingnya peluncuran domain aksara nusantara sebagai wujud inklusivitas digital dalam ...
(Antara) 19/10/26 12:58 393285
Badung (ANTARA) - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengangkat pentingnya peluncuran domain aksara nusantara sebagai wujud inklusivitas digital dalam Pertemuan Umum Tahunan ICANN87 di Bali.
"Bagi Indonesia, sebuah negara dengan ratusan bahasa dan warisan budaya yang kaya, ini adalah pertimbangan yang sangat penting," kata Menkomdigi di Badung, Senin.
Inisiatif pelestarian identitas lokal tersebut telah dimulai melalui kehadiran domain aksara daerah di dalam ekosistem digital nasional.
Pada bulan Desember 2025, PANDI dan para mitranya mengawali dengan meluncurkan domain tingkat kedua aksara Bali di dalam ekosistem .id.
Meutya menyatakan Kementerian Komdigi bersama pengelola nama domain terus memperluas penerimaan universal tersebut mencakup berbagai aksara daerah lainnya di Indonesia.
"Berdasarkan inisiatif ini, PANDI sedang mempersiapkan pengembangan lebih lanjut yang melibatkan aksara Sunda, aksara Jawa, dan aksara Batak, yang diharapkan akan diperkenalkan pada resepsi penyambutan nanti malam," ujarnya.
Selain peluncuran domain aksara, Meutya dalam forum ICANN87 juga memaparkan pencapaian konektivitas internet yang merata guna memperluas partisipasi digital masyarakat hingga pelosok negeri.
"Pada awal tahun 2026, cakupan 4G kita telah mencapai 98,96% dari populasi, sementara satelit Satria-1 kita mendukung konektivitas untuk lebih dari 31.000 fasilitas layanan publik," kata dia.
Pemerintah turut mengiringi perluasan infrastruktur tersebut dengan langkah tegas dalam mengatasi berbagai bentuk ilegalitas dan kejahatan di ruang digital.
Ia mencontohkan pada bulan Oktober 2026, Kementerian Komdigi telah mengambil tindakan terhadap lebih dari 4,2 juta konten situs web yang dikaitkan dengan perjudian online ilegal.
Keberhasilan penegakan hukum di ruang siber ini menurutnya hanya dapat terwujud melalui koordinasi lintas lembaga yang solid serta dukungan penuh dari masyarakat.
"Dan ini hanya dapat terjadi melalui kerja sama antara lembaga-lembaga pemerintah dan pada dasarnya lembaga-lembaga secara keseluruhan dan tentu saja juga partisipasi dari masyarakat," tuturnya.
Pertemuan yang diselenggarakan oleh Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN) di Bali ini mempertemukan perwakilan pemerintah, dunia usaha, pakar teknis, dan masyarakat sipil global.
Agenda internasional tersebut berfokus memajukan pekerjaan mengenai keamanan internet, perluasan Domain Name System (DNS), serta kerja sama global yang diselenggarakan bersama Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI).
Presiden PANDI Isnawan Aslam menegaskan bahwa keragaman budaya dan bahasa merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa Indonesia dalam membangun ekosistem internet yang inklusif.
"Dengan ribuan pulau dan ratusan bahasa, keragaman adalah bagian dari takdir kita," ucapnya.
Isnawan Aslam kemudian mengundang seluruh delegasi konferensi untuk menikmati keramahan lokal serta merayakan keberagaman multibahasa dalam acara penyambutan resmi.
Presiden dan CEO ICANN Kurtis Lindqvist menambahkan dengan menyampaikan apresiasi atas kontribusi aktif komunitas internet Indonesia dalam mengembangkan pelokalan penulisan skrip bahasa.
"Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada ICANN dan komunitas internet Indonesia atas upaya berkelanjutan mereka dalam mengembangkan referensi pelokalan tingkat sektor untuk penulisan skrip, termasuk bahasa-bahasa di Indonesia, Jerman, dan Inggris," kata dia.
Kurtis Lindqvist menekankan bahwa momentum pertemuan ini harus dimanfaatkan bersama untuk menerjemahkan setiap kebijakan strategis menjadi program operasional yang nyata.
"Kita sekarang harus membuat komitmen untuk mengubah kata-kata tersebut menjadi program operasional dan memberikan hasil atas keputusan-keputusan tersebut," ujarnya.
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026