Menko Bahlil dorong Batam, Karimun, dan Bintan jadi hub pusat data
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mendorong pengembangan kawasan Batam, Karimun, dan Bintan, sebagai hub pusat data ...
(Antara) 19/10/26 20:07 432210
Denpasar, Bali (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mendorong pengembangan kawasan Batam, Karimun, dan Bintan, sebagai hub pusat data atau data center baru di Indonesia.
"Kenapa harus kita dorong ke sana? Karena pertama adalah ketersediaan airnya besar, yang kedua, penduduknya tidak sepadat seperti di Jawa Barat atau di Jakarta ataupun di Bali. Dan yang ketiga adalah kita dorong untuk energi baru terbarukan," katanya dalam forum Bali Tech Week 2026 di Sanur, Denpasar, Bali, Senin.
Menurut dia, rencana tersebut diarahkan untuk menangkap peluang investasi ekonomi digital sekaligus mengoptimalkan ketersediaan air dan pengembangan energi baru terbarukan.
Bahlil menjelaskan pertumbuhan industri digital meningkatkan kebutuhan energi dalam jumlah besar.
Pusat data tidak hanya membutuhkan pasokan listrik yang andal, tetapi juga air dalam jumlah signifikan untuk mendukung operasionalnya.
Ia mencontohkan sejumlah negara yang mulai membatasi pembangunan pusat data karena tingginya kebutuhan listrik dan air.
Indonesia, menurutnya, perlu menyiapkan perencanaan yang matang agar investasi teknologi tersebut tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap sumber daya setempat.
“Sekarang di Asia Tenggara sudah ada hub antara Malaysia dan Singapura. Nah, coba kita sekarang membangun hub baru untuk Indonesia, yaitu antara Batam, Karimun, Bintan," ujar Bahlil dalam paparannya.
Menurut dia, kawasan tersebut memiliki sejumlah pertimbangan untuk dikembangkan, antara lain ketersediaan air, kepadatan penduduk yang tidak setinggi sejumlah kawasan perkotaan besar, serta peluang mengembangkan pasokan energi terbarukan.
Pemerintah juga mendorong pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas sekitar 100 gigawatt.
Bahlil menilai ketersediaan energi hijau berpotensi menjadi daya tarik bagi investor pusat data yang membutuhkan pasokan listrik berkelanjutan.
"Saya punya keyakinan, investor akan lebih suka untuk memakai data center mereka dengan memakai energi baru terbarukan, dan ini sebuah peluang bisnis," katanya.
Selain itu, pemerintah merencanakan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
Ia menyebut sekitar 70 persen dari penambahan kapasitas tersebut akan berasal dari energi baru terbarukan dan sumber energi dalam bauran yang direncanakan.
Bahlil mengungkapkan kebutuhan listrik dari rencana pengembangan pusat data dapat mencapai tambahan 20 gigawatt.
Besaran tersebut setara dengan sekitar 20 persen dari kapasitas listrik eksisting.
Karena itu, pemerintah akan menyinkronkan rencana pembangunan pusat data dengan kesiapan pasokan listrik.
Bahlil mengatakan data mengenai lokasi investasi diperlukan agar penyediaan energi dapat direncanakan secara lebih tepat.
Ia juga menekankan pengembangan pusat data harus disertai kolaborasi dengan pengusaha nasional dan daerah.
Pemerintah, menurut dia, ingin memastikan investasi teknologi tinggi tidak hanya memberikan manfaat bagi investor, tetapi juga menghasilkan dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek.
Pewarta: Rolandus Nampu
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
#menko-hilirisasi-dan-transisi-energi #bahlil-lahadalia #hilirisasi #pusat-data #investasi-indonesia #data-center