SKK Migas perkirakan ICP 95-100 dolar AS per barel pada akhir 2026
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memperkirakan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) ...
(Antara) 20/10/26 15:46 538350
Di perkiraan kami, pada akhir tahun, harga itu nggak akan turun di 80-an. Harganya antara di kisaran 95–98, bahkan bisa menyentuh 100 dolar AS di akhir tahun
Jakarta (ANTARA) - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memperkirakan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) berada di kisaran 95–100 dolar AS per barel pada akhir 2026.
“Di perkiraan kami, pada akhir tahun, harga itu nggak akan turun di 80-an. Harganya antara di kisaran 95–98, bahkan bisa menyentuh 100 dolar AS di akhir tahun,” ucap Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas Desti Melanti ketika ditemui setelah Konferensi Pers Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) 2026 di Jakarta, Selasa.
Desti menyampaikan perkiraan tersebut berdasarkan gejolak geopolitik yang berkepanjangan. Apabila perang yang terjadi di kawasan Timur Tengah tidak lekas tuntas hingga akhir tahun maka Desti menilai terdapat kemungkinan harga minyak dunia akan berada di kisaran 100 dolar AS.
Desti mengatakan SKK Migas tidak memiliki kontrol untuk mengendalikan harga minyak dunia. Yang bisa SKK Migas lakukan, tutur dia, adalah mengoptimalkan skema komersialisasi dan percepatan peningkatan lifting minyak dan gas bumi (migas) di dalam negeri.
“Jadi, kami menggunakan momentum pada saat harga naik, bagaimana kami melakukan upaya-upaya untuk lifting bisa dioptimalkan,” ujar Desti.
Ia berharap harga minyak dunia dapat segera membaik, sebab tingginya harga minyak dunia akan membebani subsidi dan kompensasi yang ditanggung oleh negara.
“Tapi ini kan sesuatu yang secara bagi hasil, minimal hulu migas bisa berkontribusi dari tambahan penerimaan negara karena kenaikan harga komoditas,” ucap Desti.
Hingga saat ini, Desti mengatakan realisasi penerimaan negara sudah mencapai kisaran 80 persen dari target APBN dengan capaian lifting minyak dan kondensat sebesar 578,6 ribu barel per hari, atau 95 persen dari target APBN sebesar 610 ribu barel minyak per hari.
SKK Migas memproyeksikan penerimaan negara dari sektor hulu migas bisa mencapai 109 persen dari target pada Desember 2026. Proyeksi itu tidak terlepas dari harga minyak dunia yang mengalami lonjakan sejak berlangsungnya perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
Adapun target penerimaan negara yang termaktub di dalam APBN 2026 sebesar 10,66 miliar dolar AS dengan asumsi makro harga minyak mentah Indonesia di angka 70 dolar AS per barel.
Sementara itu, SKK Migas memproyeksikan penerimaan negara dapat mencapai 11,63 miliar dolar AS dengan realisasi harga minyak mentah Indonesia yang berada di atas asumsi makro APBN.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menjelaskan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) saat ini telah mencapai kisaran 105–106 dolar Amerika Serikat (AS) per barel.
Sementara itu, rata-rata harga ICP sejak Januari hingga Oktober 2026 berada di kisaran 91–92 dolar Amerika Serikat (AS) per barel.
Menurut Bahlil yang merangkap sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), perkembangan tersebut menjadi bagian dari situasi global yang semakin tidak menentu.
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026