Magang usai, berburu pekerjaan dimulai
Lanskap pasar kerja dan persaingan bagi lulusan baru (fresh graduate) kini tak dipungkiri sangat ketat. Mencari dan memiliki pekerjaan formal pertama semakin ...
(Antara) 10/10/26 08:40 65190
Jakarta (ANTARA) - Lanskap pasar kerja dan persaingan bagi lulusan baru (fresh graduate) kini tak dipungkiri sangat ketat. Mencari dan memiliki pekerjaan formal pertama semakin berat dan melelahkan bagi para angkatan kerja baru ini.
Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) mencatat pada 2025 bahwa perguruan tinggi setiap tahun meluluskan sekitar 1,26 juta sarjana.
Dari data ini, rasanya terdapat anomali yang perlu dicermati. Di balik cukup tingginya angka lulusan sarjana per tahunnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat per Mei 2026, jumlah lulusan perguruan tinggi atau sarjana yang menganggur di Indonesia mencapai 1,3 juta orang, atau sekitar 14,3 persen dari total pengangguran terbuka.
Fenomena ini menunjukkan tingginya jumlah lulusan baru setiap tahun tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja formal.
Tidak hanya adanya kesenjangan antara kedua faktor tersebut, persyaratan rekrutmen yang semakin tinggi juga menjadi tantangan bagi para lulusan baru.
Pemberi kerja semakin menuntut kualifikasi atau persyaratan rekrutmen yang lebih tinggi untuk pekerjaan yang sebelumnya tidak mensyaratkan hal tersebut.
Salah satu persyaratan yang rasanya kian umum dalam rekrutmen saat ini, adalah tuntutan bagi para lulusan baru untuk memiliki pengalaman bekerja, terutama di bidang pekerjaan yang mereka minati atau ingin dituju.
Perubahan ini tidak hanya menuntut para angkatan kerja muda untuk mencicipi dunia kerja sebelum mereka lulus, tapi juga mengajak pemerintah, dunia akademik, dan dunia industri berkolaborasi untuk membuka akses tersebut, hingga bahkan memperluas kesempatan pekerjaan formal pertama bagi jutaan sarjana baru.
Program magang pun menjadi salah satu hal esensial yang kian didorong perguruan tinggi dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan industri.
Mulai dari kuliah kerja nyata (KKN), serta praktik kerja lapangan (PKL) yang umumnya diwajibkan bagi mahasiswa tingkat akhir dengan durasi 1 hingga 3 bulan sebagai salah satu syarat kelulusan.
Upaya ini pun terus bertransformasi, termasuk Magang Nasional (MagangHub) yang sudah berjalan per Oktober tahun lalu.
Batu loncatan
Sejak diperkenalkan tepat satu tahun yang lalu, program Magang Nasional mendapatkan animo yang cukup besar dari para fresh graduate perguruan tinggi Indonesia.
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat, pada angkatan pertama atau pelaksanaan Magang Nasional sepanjang tahun 2025, total peserta yang lolos seleksi dan mengikuti program ini adalah sebanyak 102.696 orang, melampaui target awal pemerintah yang ditetapkan sebanyak 100.000 peserta.
Kemnaker juga mengatakan, Magang Nasional yang pada tahun keduanya menargetkan 150 ribu peserta, diharapkan mampu memberikan batu loncatan bagi para lulusan baru dalam menghadapi situasi ketika lowongan kerja mensyaratkan pengalaman, sementara mereka belum memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pengalaman tersebut.
Program ini memberikan ruang bagi lulusan perguruan tinggi untuk memperoleh pengalaman kerja nyata selama enam bulan, mendapat bimbingan dari mentor, memahami budaya kerja, mengasah kompetensi teknis dan nonteknis, serta membangun portofolio dan jejaring profesional.
Dengan pengalaman tersebut, peserta diharapkan tidak hanya lebih siap mencari kerja, tetapi juga lebih siap bertahan, beradaptasi, dan berkembang di tempat kerja.
Kemnaker mencatat, pada pelaksanaan sebelumnya, sekitar 30 persen peserta telah mendapatkan tawaran pekerjaan setelah program berakhir.
Selain itu, sekitar 34 persen peserta belum mendapatkan tawaran resmi, tetapi sudah terdapat indikasi atau peluang untuk ditawarkan bekerja, sementara sekitar 36 persen belum mendapatkan tawaran kerja.
Dari peserta yang mendapatkan tawaran kerja, sektor yang paling banyak menyerap antara lain sektor keuangan sebesar 23,4 persen, perdagangan besar/wholesale trade sebesar 17,9 persen, manufaktur sebesar 16,5 persen, dan kesehatan sebesar 10,3 persen.
Ke pekerjaan formal
Terlepas dari pencapaian positif program Magang Nasional secara keseluruhan, penting pula untuk menyadari bahwa magang secara umum merupakan hal yang bersifat temporer.
Magang merupakan sebuah ruang belajar bagi angkatan kerja muda, dengan beban kerja dan imbalan yang berbeda dengan pekerja formal.
Jika berselancar di sejumlah job portal, tidak jarang yang dibuka oleh perusahaan kini adalah lowongan internship (di luar MagangHub), alih-alih lowongan pekerjaan tetap.
Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan dunia usaha/industri untuk memberikan batasan yang jelas—mulai dari persyaratan yang membedakannya dari hubungan kerja biasa, beban dan durasi pelatihan, serta hak yang didapatkan peserta.
Jangan sampai hal ini menjadi celah bagi perusahaan nakal untuk mengubah pekerjaan tetap dengan tenaga kerja murah melalui kedok magang.
Pemerintah menyadari hal tersebut. Kemnaker telah menegaskan bahwa kepastian dalam pemagangan kini diatur dengan jelas dalam Undang-Undang (UU) Pelindungan Ketenagakerjaan.
“Pemagangan bukan untuk menggantikan pekerja dengan tenaga murah,” kata Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli.
Selain kejelasan dan pelindungan pemagangan, pekerjaan selanjutnya adalah bagaimana menciptakan lapangan kerja yang lebih luas lagi agar para angkatan kerja muda tidak kesulitan mengakses pekerjaan formal dan tidak menganggur di usia produktif.
UU Pelindungan Ketenagakerjaan juga memastikan pelindungan bagi pencari kerja.
Pencari kerja mendapatkan akses terhadap informasi pasar kerja yang lebih terbuka, sementara kewajiban pelaporan lowongan kerja juga turut diperkuat untuk mencegah percaloan, penipuan, dan lowongan kerja fiktif.
Indonesia memiliki visi untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 melalui bonus demografi yang begitu tinggi. Visi tersebut idealnya dapat dituju dengan menjaga generasi mudanya untuk tidak takut bermimpi besar dan memberikan bekal lewat peningkatan kompetensi dan akses berkarier.
Melalui program magang yang berkualitas, baik melalui Magang Nasional maupun program-program pemagangan lainnya, ditambah perluasan akses kerja yang inklusif, kita tidak hanya membekali generasi muda dengan keterampilan praktis serta kesiapan mental di dunia profesional, tetapi juga membuka jalan menuju terciptanya sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
Sinergi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan dunia industri harus terus diperkuat guna memastikan setiap anak muda mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang, mandiri, dan pada akhirnya berkontribusi bagi ekonomi negeri.
Copyright © ANTARA 2026
#maganghub #magang #magang-nasional #uu-ketenagakerjaan #ruu-pelindungan-ketenagakerjaan #uu-pelindungan-ketenagakerjaan
https://www.antaranews.com/berita/5779554/magang-usai-berburu-pekerjaan-dimulai