PTPN I investasi Rp26,76 triliun untuk hilirisasi perkebunan
PTPN I (Persero) menginvestasikan Rp26,76 triliun untuk memperkuat hilirisasi perkebunan melalui pengembangan sektor hulu dan hilir guna meningkatkan nilai ...
(Antara) 21/10/26 15:31 666240
Investasi tersebut digunakan untuk memperkuat semua lini bisnis, terutama program tanam ulang komoditas, dan program hilirisasi komoditas perkebunan
Jakarta (ANTARA) - PTPN I (Persero) menginvestasikan Rp26,76 triliun untuk memperkuat hilirisasi perkebunan melalui pengembangan sektor hulu dan hilir guna meningkatkan nilai tambah, mendukung ketahanan pangan, energi, serta pertumbuhan ekonomi nasional.
"Sebagai BUMN perkebunan dengan aset lahan dan komoditas sangat besar, PTPN I mengambil inisiatif dalam mendukung program Asta Cita secara sistematis, PTPN I melakukan investasi senilai Rp26,76 triliun," kata Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras terkonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, program ketahanan pangan dan energi yang menjadi prioritas pembangunan Indonesia memiliki irisan cukup dominan dengan domain bisnis PTPN I.
"Investasi tersebut digunakan untuk memperkuat semua lini bisnis, terutama program tanam ulang komoditas, dan program hilirisasi komoditas perkebunan," ujarnya.
Ia mengatakan bidang bisnis PTPN I memiliki keterkaitan langsung dan sangat dekat dengan kebijakan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Asta Cita Presiden Prabowo, kata dia, memiliki korelasi sangat dekat dengan bidang bisnis PTPN I. Pada program prioritas, Presiden menekankan swasembada pangan, ketahanan energi, kesempatan kerja, pemerataan ekonomi, dan muaranya kepada pemerataan kesejahteraan masyarakat.
"Semua aspek itu melekat dengan operasional PTPN I,” ujar Rivai.
Rivai menjelaskan aset lahan PTPN I yang sangat luas dan tersebar hampir di seluruh Indonesia saat ini didorong untuk mensukseskan program swasembada pangan.
Selain lahan yang sudah ada tanaman yang berkaitan langsung dengan tanaman pangan, seperti tebu (gula putih), kelapa sawit (minyak goreng), dan kelapa, pada lahan idle saat ini dimanfaatkan untuk tanaman semusim.
“Kami punya resources besar untuk ketahanan pangan, ketahanan energi, dan punya lahan luas untuk mendukung berbagai program hilirisasi bidang pangan," ucapnya.
Selain itu pihaknya juga punya sifat padat karya yang artinya menyerap tenaga kerja sangat banyak.
"Sebaran unit kerja kami juga sangat luas dan berada di sejumlah pelosok. Bahkan, keberadaan unit kerja kami menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah yang sebelumnya terisolasi,” kata Rivai.
Menurut dia, selain berdasar kepada analisis data dan studi kelayakan yang dilakukan secara rigid, fakta aspek-aspek di lapangan tersebut menjadi penguat keyakinan berbagai langkah investasi yang dilakukan PTPN I.
"Lebih dari itu, aspek pengalaman PTPN I menjalankan bisnis berdampingan harmonis dengan masyarakat juga menambah optimistis bahwa visi-misi ini akan berhasil," ucapnya.
Rencana investasi besar itu disusun dalam roadmap selama empat tahun. Yakni, sudah dimulai pada 2025 dan akan berhasil sukses pada 2029. Bidang yang dibidik adalah integrasi bisnis secara menyeluruh dari hulu hingga hilir untuk semua komoditas, termasuk bisnis di luar bidang agro.
Rivai menjelaskan investasi Rp26,76 triliun tersebut digunakan untuk membangun ekosistem bisnis terintegrasi yang mencakup kegiatan budidaya (on-farm) hingga pengolahan (off-farm) sebagai bagian dari rencana yang mulai dijalankan perusahaan.
Beberapa komoditas unggulan masuk dalam radar pengembangan skala besar ini antara lain, jagung, kelapa, karet, kopi, kakao, jambu mete, pala, dan komoditas sekunder lain.
Salah satu fokus inovatif yang tengah digodok adalah pemanfaatan jagung yang tidak hanya difokuskan untuk pangan, melainkan disiapkan sebagai bahan baku bioetanol guna mendukung energi baru terbarutarukan (EBT).
Dari total investasi tersebut, porsi sebesar Rp16,34 triliun dialokasikan untuk sektor hulu (on-farm) dengan cakupan areal perkebunan seluas 342.321 hektare.
Sementara itu, alokasi Rp10,42 triliun disiapkan khusus untuk membangun 25 fasilitas pengolahan (off-farm) modern yang tersebar di pelbagai wilayah strategis di Indonesia.
Untuk menjaga efektivitas investasi, PTPN I menerapkan disiplin ketat dalam eksekusi proyek.
Manajemen menempatkan studi kelayakan bisnis, integrasi rantai pasok hulu-hilir yang solid, serta kepastian pasar melalui pembeli siaga (off-taker) sebagai pilar utama agar setiap proyek memiliki fondasi bisnis yang terukur dan berkelanjutan.
Agenda transformasi ini juga dirancang inklusif agar dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat bawah, khususnya petani lokal.
PTPN I merangkul para petani dan pelaku usaha di daerah melalui kemitraan strategis dan skema perkebunan plasma sebagai bagian dari rantai pasok industri.
Hingga awal Oktober 2026, realisasi lapangan menunjukkan tren positif. Pengembangan areal karet PTPN I telah mencapai 1.479 hektare, sedangkan komoditas jagung menembus 1.125 hektare.
Secara keseluruhan, realisasi pengembangan on-farm komoditas unggulan diproyeksikan menyentuh angka 11.516 hektare, atau setara 59 hingga 60 persen dari target tahunan hingga akhir 2026.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
#ptpn-i-investasi #rp26 #76-triliun #untuk-hilirisasi-perkebunan