Panas bumi yang tersisa di lereng Kamojang
Hendro berjongkok di antara bedeng cengek, lalu memetik sebutir buah yang masih hijau. “Kalau cengek domba, bentuknya menyerupai tanduk,” ujarnya. ...
(Antara) 22/10/26 14:03 788099
Di Kamojang, panas bumi dikenal warga dalam wujud yang teraba nyata: pupuk yang mengering dalam semalam, biji kopi yang terbang hingga ke Jerman, ikan yang tumbuh lebih gemuk, serta keripik renyah yang dikeringkan tanpa bantuan sinar matahari.
Jakarta (ANTARA) - Hendro berjongkok di antara bedeng cengek, lalu memetik sebutir buah yang masih hijau. “Kalau cengek domba, bentuknya menyerupai tanduk,” ujarnya. Sementara varietas di bedeng sebelah, yaitu cengek stroberi, memiliki bentuk yang lebih buntet seperti buah stroberi.
Di lereng Kamojang, kawasan perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut, Jawa Barat, masyarakat Sunda mengenal cabai rawit dengan sebutan cengek. Sebagian besar hasil panen cengek milik Hendro dibeli oleh pengepul.
Lahan yang digarap Hendro bersama Kelompok Tani Hutan Cikondang memiliki luas sekitar 100 tumbak atau setara 1.400 meter persegi. Cabai rawit di lahan tersebut baru empat kali dipanen. Panen pertama menghasilkan 6 kilogram, lalu 8 kg, 14 kg, dan terakhir 18 kilogram. Hendro memetik hasil kebunnya ini seminggu sekali.
Di bedeng lain, kentang ditanam secara tumpang sari di sela-sela cabai keriting yang masa panennya hampir usai. Begitu masa panen cabai keriting berakhir, tanah tidak akan dibiarkan menganggur karena tanaman kentang sudah mulai berumbi.
Hendro adalah petani muda lulusan SMK yang dijuluki local hero oleh PGE Area Kamojang. Gelar itu disematkan kepadanya karena ia merupakan mitra binaan program pemberdayaan masyarakat PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang yang tak segan membagikan ilmunya kepada petani lain.
Kerja kerasnya terlihat nyata di ujung lahan, tempat sebuah gudang fermentasi berdiri. Di sana, ia mencampur kotoran ayam, sapi, dan domba bersama jerami, pangkasan daun kidayang, hingga sisa panen kubis dengan perbandingan 1:1 antara kotoran dan hijauan.
Setelah diaduk dan didiamkan selama 21 hari hingga satu bulan, adonan pupuk tersebut tidak dijemur secara konvensional, melainkan dibawa ke fasilitas istimewa yang jarang dimiliki petani di Indonesia, yaitu ruang pengering berpemanas uap dari perut bumi.
Istilah teknis Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) pun merambah ke dalam kosakata para petani. Di sepanjang jaringan pipa PLTP Kamojang, terpasang steamtrap, katup yang membuang kondensat dan kelebihan uap agar aliran menuju turbin tetap kering. Sisa energi panas bersuhu sekitar 60 hingga 70°C itu dialirkan melalui pipa-pipa kecil di dalam ruang tertutup untuk mengeringkan adonan pupuk organik basah. Pupuk hasil racikan kotoran hewan dan hijauan ini dinamai GeO-Fert.
Berkat mesin pengering bertenaga uap panas bumi tersebut, durasi pengeringan pangkas secara drastis. Pupuk organik yang dulunya membutuhkan waktu penjemuran hingga 14 hari di bawah terik matahari, kini siap dan kering hanya dalam waktu 12 jam.
Melalui program GeO-Fert, sebanyak 230 ton limbah organik berhasil diolah setiap tahunnya menjadi 193,8 ton pupuk. Di lahannya sendiri, Hendro hanya perlu memberikan pupuk dasar sekali, lalu dilanjutkan dengan pemupukan susulan, baik tabur maupun kocor, setiap dua minggu.
Kopi geotermal
Energi panas yang sama rupanya lebih dulu mengubah nasib komoditas kopi. Berada di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, wilayah Kamojang sering kali membuat biji kopi sulit kering hingga berhari-hari saat musim hujan tiba.
Muhammad Ramdhan Reza Nurfadilah, yang akrab disapa Mang Deden, telah membuka kedai kopi sejak 2015 sebelum akhirnya diajak bereksperimen oleh PGE. Selama hampir setahun, ia menjajal lebih dari 20 metode fermentasi hingga menemukan tiga proses yang paling cocok dengan karakter pengeringan panas bumi.
Geothermal Dry House, fasilitas yang dikembangkan PGE bersama petani sejak 2018, mampu mempercepat proses pengeringan kopi hingga tiga kali lipat. Inovasi teknologi ini bahkan telah mengantongi paten sederhana pada 2024.
Dari proses unik tersebut, lahirlah produk kopi bermerek Canaya. Namanya diambil dari dua kata bahasa Sunda, can aya, yang berarti "belum ada". Menggambarkan kopi yang belum pernah ada sebelumnya di dunia. Kopi Canaya kini telah menembus pasar ekspor hingga mencapai 20 ton ke Jepang, Jerman, hingga Afrika. Sepanjang 2024, program kopi yang melibatkan 312 petani dari 18 kelompok tani di lahan seluas 80 hektare ini berhasil mencatatkan omzet sebesar Rp863,9 juta.
Di balik mesin roasting kedai binaan tersebut, tampak sosok Aki Undang. Di usianya yang menginjak 73 tahun, ia telah enam tahun mendedikasikan diri sebagai roaster utama dari usaha kopi yang diinisiasi oleh Deden.
Deden sendiri merupakan lulusan SMK Farmasi yang kini mengelola Indonesia Geothermal Coffee Process, menangani ranah produksi hingga pemasaran, serta kerap diundang ke berbagai ajang kopi nasional maupun internasional. Jika Hendro mewakili generasi Gen Z di sektor pertanian, maka Deden adalah potret milenial yang berkolaborasi apik dengan generasi boomer dalam satu ekosistem binaan PGE.
Dapur ibu-ibu
Bu Tety (61 tahun) adalah kader PKK Desa Talun Kecamatan Ibun yang juga seorang kepala sekolah sekaligus Ibu RW. Ia mengurus cabang pemanfaatan lain dari energi panas bumi tersebut.
Bersama ibu-ibu di sekitar Kamojang, ia mengolah hasil kebun menjadi camilan yang dikeringkan dengan geothermal dehydrator, sebuah mesin dehidrasi bahan pangan yang ditenagai panas bumi. Proses pengeringan yang biasanya membutuhkan waktu hingga tujuh hari di bawah terik matahari, kini rampung hanya dalam waktu lima jam. Lebih dari 5.500 kemasan pangan telah dipasarkan, menghasilkan omzet hingga Rp90 juta dalam kurun enam bulan bagi kelompok Bu Tety.
Di antara deretan camilan yang dijajakan, terdapat teng-teng beras ketan gula aren buatan kelompok usaha perempuan Yayasan An-Nur Ibun, serta sebring kulit singkong berbumbu seblak dari Kelompok Wanita Tani Mekar Sari. Kulit singkong yang di banyak dapur biasanya berakhir di tempat sampah, di tangan mereka justru tampil modern, bahkan memiliki akun Instagram sendiri.
Gagasan-gagasan kreatif tersebut lahir langsung dari warga. Erwandi, perwakilan PGE Area Kamojang yang menangani pemberdayaan masyarakat, bercerita bagaimana pihaknya berupaya membekali petani dengan pengetahuan agar mereka tak lagi menjual hasil panen dalam bentuk mentah demi meningkatkan nilai jual.
Di sektor pangan lainnya, Erwandi dan tim berinovasi mengatasi masalah air pegunungan yang terlalu dingin pada kolam budidaya ikan dengan cara menghangatkannya menggunakan uap panas bumi.
Berdasarkan riset kecil yang membandingkan kolam biasa dan kolam berpenghangat panas bumi, bobot ikan dalam masa pemeliharaan yang sama melonjak dari 220 gram menjadi 330 gram, sementara masa panennya menjadi sekitar 25 persen lebih cepat. Hasil panen ikan tersebut kemudian diolah oleh ibu-ibu menjadi ikan asin dan abon, yang tentu saja dikeringkan kembali memanfaatkan pengering panas bumi.
Satu sumber panas, empat cabang usaha. PGE menamai ekosistem pemberdayaan ini Kanyaah, kata dalam bahasa Sunda yang bermakna kasih sayang. Program ini telah menjangkau 14.976 penerima manfaat sekaligus mengantarkan PGE Area Kamojang meraih penghargaan PROPER Emas sebanyak 15 kali berturut-turut, sebuah apresiasi tertinggi bagi perusahaan yang memberi dampak signifikan bagi masyarakat dan lingkungan.
Angka-angka capaian ini sejatinya memiliki bobot yang lebih besar ketimbang sekadar laporan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Pada awal pekan ini, misalnya, ratusan warga berunjuk rasa di DPRD Kabupaten Semarang menolak rencana pembangunan PLTP di Gunung Ungaran dan Telomoyo. Salah satu kekhawatiran yang terus berulang di berbagai daerah adalah anggapan bahwa proyek panas bumi hanya mengeruk kekayaan lereng mereka untuk mengirim listrik ke tempat yang jauh.
Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pembangunan Sosial, Tina Talisa, melihat pemanfaatan langsung (direct use) ini dari kacamata tersebut.
Menurutnya, direct use adalah bukti nyata bahwa sisa energi panas yang semula terbuang dapat dirasakan kembali manfaatnya oleh warga lokal. Warga yang hidup paling dekat dengan lapangan geotermal semestinya menjadi pihak pertama yang memetik hasilnya. Ia berharap pola pemberdayaan seperti di Kamojang ini menjadi standar bagi seluruh pengembang panas bumi di Indonesia.
Di Kamojang, panas bumi dikenal warga dalam wujud yang teraba nyata: pupuk yang mengering dalam semalam, biji kopi yang terbang hingga ke Jerman, ikan yang tumbuh lebih gemuk, serta keripik renyah yang dikeringkan tanpa bantuan sinar matahari.
Listrik dari PLTP Kamojang memang dialirkan mengaliri jaringan Jawa, Madura, dan Bali. Namun, sisa energi panasnya tetap tertinggal di lereng, dimanfaatkan secara berdaya oleh warga yang bersisian hidup dengan pipa-pipa raksasa, kebun kopi, sumur uap, dan megah stasiun PLTP.
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
#pge #panas-bumi #pltp-kamojang #kamojang #kopi-kamojang
https://www.antaranews.com/berita/5804213/panas-bumi-yang-tersisa-di-lereng-kamojang