Pengembangan PLTP perlu pertimbangkan keberlanjutan warisan lingkungan
Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS) Dr. Ali Ahmudi Achyak mengatakan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) perlu ...
(Antara) 11/10/26 11:00 88875
Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS) Dr. Ali Ahmudi Achyak mengatakan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) perlu mempertimbangkan keberlanjutan sumber air, ekosistem, lahan masyarakat, hingga warisan budaya di kawasan tersebut.
Ali mengatakan pengembangan panas bumi perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan hasil kajian teknis, lingkungan, sosial, tata ruang, dan ketentuan yang berlaku.
“Apabila target sekitar 55 megawatt (MW) dapat tercapai, keberhasilan yang lebih utuh adalah ketika kapasitas listrik tersebut berjalan seiring dengan terjaganya sumber air, keanekaragaman hayati, nilai cagar budaya, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” kata Ali dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu.
Ali melanjutkan konsep tersebut dapat dirumuskan sebagai “55 MW+0”, yakni energi listrik dihasilkan dengan tetap menjaga fungsi sumber air, biodiversitas, cagar budaya, dan manfaat ekonomi masyarakat sekitar.
Salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan adalah keberlanjutan sumber air. Kajian pada tahap awal dapat mencakup debit mata air dan sungai, kualitas air, muka air tanah, curah hujan, kondisi hidrogeologi, hingga pola pemanfaatan air oleh masyarakat.
Selain air, kondisi hutan dan habitat satwa juga menjadi bagian dari kajian dalam menentukan lokasi fasilitas seperti jalan, well pad, jaringan pipa, dan fasilitas pendukung lainnya. Pemulihan dan revegetasi kawasan juga dapat dilakukan pada area yang terdampak pembangunan.
Menurut Ali, pengembangan panas bumi dapat menjadi bagian dari transisi energi sekaligus menjaga keberlanjutan kawasan apabila dilakukan berbasis kajian, menggunakan teknologi yang tepat, melibatkan masyarakat, serta diawasi secara terbuka dan konsisten.
Salah satunya pengembangan PLTP yang dilakukan di Gunung Ungaran yang berpeluang menjadi contoh bahwa pembangunan energi terbarukan dapat sekaligus memperkuat ketahanan energi dan menjaga keberlanjutan kawasan.
Menurutnya, Gunung Ungaran memiliki karakter kawasan yang tidak hanya menyimpan potensi panas bumi, tetapi juga memiliki fungsi ekologis, sosial-ekonomi, serta nilai sejarah dan budaya.
Pemanfaatannya mencakup pengelolaan reservoir bawah permukaan, pengeboran sumur produksi dan injeksi, fasilitas pembangkit, jaringan pipa, jalan akses, serta berbagai infrastruktur pendukung. Fluida yang telah dimanfaatkan diinjeksikan kembali ke reservoir melalui sumur injeksi.
Aspek budaya turut menjadi perhatian mengingat kawasan Gunung Ungaran memiliki warisan sejarah seperti Candi Gedong Songo. Pemetaan zona kawasan serta kajian arkeologi, getaran, visual lanskap, hidrologi, dan potensi longsor diperlukan dalam proses perencanaan.
“Hal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pengembangan energi dan perlindungan ekosistem dapat dirancang secara bersamaan. Dukungan teknologi pengeboran, perencanaan fasilitas yang adaptif, serta pemulihan kawasan memberikan ruang bagi pengembangan panas bumi yang semakin efisien sekaligus memperhatikan keberlanjutan lingkungan,” katanya.
Ali menilai keterlibatan masyarakat sejak tahap awal juga penting untuk membangun kepercayaan terhadap pengembangan proyek.
Forum komunikasi yang melibatkan pemerintah, pengembang, pemerintah daerah, akademisi, masyarakat, pemerhati lingkungan, dan pemangku kepentingan cagar budaya dapat menjadi ruang untuk membahas perkembangan kajian dan menerima masukan.
“Memanfaatkan panas bumi dengan tetap menjaga fungsi sumber air, menghasilkan listrik sekaligus mempertahankan keanekaragaman hayati, membangun infrastruktur dengan tetap menghormati warisan budaya, serta mengembangkan energi melalui komunikasi yang terbuka merupakan bagian dari pendekatan pembangunan energi yang lebih utuh," ujar Ali.
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026