DPKUKM Banyumas siapkan langkah antisipasi lonjakan harga cabai
Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (DPKUKM) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terus memantau perkembangan harga dan pasokan cabai serta ...
(Antara) 11/10/26 13:20 90824
Purwokerto (ANTARA) - Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (DPKUKM) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terus memantau perkembangan harga dan pasokan cabai serta menyiapkan langkah antisipasi untuk mengatasi lonjakan harga komoditas tersebut yang masih bertahan tinggi.
Kepala DPKUKM Kabupaten Banyumas Gatot Eko Purwadi di Purwokerto, Banyumas, Minggu, mengatakan pemantauan dilakukan untuk memastikan pasokan cabai dari daerah sentra produksi tetap masuk ke pasar-pasar di Banyumas dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
"Kita melakukan pemantauan harga, kemudian memastikan juga suplai pasokan ke pasar-pasar itu tersedia. Melalui pedagang-pedagang besar, kita pantau apakah suplainya cukup atau bagaimana," katanya.
Menurut dia, tingginya harga cabai tidak hanya terjadi di Banyumas, juga di sejumlah daerah lain. Kondisi tersebut perlu dicermati karena daerah penghasil cabai juga harus memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat setempat.
Ia mencontohkan Banjarnegara yang merupakan salah satu daerah penghasil cabai.
Meskipun memiliki sentra produksi, dia mengatakan daerah tersebut juga menghadapi kebutuhan pasokan untuk konsumsi internal sehingga ketersediaan komoditas tidak sepenuhnya ditentukan oleh jumlah produksi.
Pihaknya juga mencermati arahan Gubernur Jawa Tengah agar sentra-sentra produksi pertanian di wilayah tersebut memprioritaskan pemenuhan kebutuhan di Jawa Tengah sebelum memasok ke daerah lain.
“Selain pemantauan harga dan ketersediaan barang, kami juga berupaya mengoptimalkan kerja sama antardaerah (KAD) untuk memperlancar distribusi cabai,” katanya.
Melalui mekanisme tersebut, kata dia, pedagang besar di Banyumas diharapkan dapat menjalin kerja sama langsung dengan petani di daerah penghasil.
Ia mengatakan pemerintah daerah juga membuka kemungkinan intervensi melalui subsidi apabila kenaikan harga terus berlanjut dan berdampak terhadap daya beli masyarakat.
Akan tetapi, lanjut dia, pelaksanaan subsidi perlu dikoordinasikan dengan organisasi perangkat daerah (OPD) yang berwenang karena komoditas pertanian memiliki mekanisme penanganan berbeda dengan barang hasil industri.
"Kalau kondisinya semakin naik terus dan berakibat pada daya beli masyarakat, nanti kita upayakan melalui mekanisme subsidi. Namun, untuk komoditas pertanian, kita akan berkoordinasi dengan OPD terkait," katanya.
Gatot menegaskan untuk saat ini langkah yang diutamakan adalah memantau perkembangan harga sekaligus memastikan pasokan dari sentra-sentra produksi tetap mengalir ke Banyumas sesuai kebutuhan pasar.
Dalam kesempatan terpisah, salah seorang pedagang sayuran di Pasar Manis Purwokerto, Anjar mengatakan terbatasnya pasokan cabai dari petani menyebabkan harga jual di pasar masih tinggi.
Ia menjelaskan kondisi tersebut terjadi karena tanaman cabai dari masa tanam sebelumnya memasuki akhir produksi, sedangkan tanaman baru belum menghasilkan panen secara optimal, sehingga jumlah cabai yang dipasok petani ke pasar menjadi terbatas.
Oleh karena itu, cabai merah besar hingga Minggu (11/10) masih dijual dengan harga Rp70.000 per kilogram, sedangkan cabai merah keriting mencapai Rp75.000 per kilogram.
Sementara harga cabai rawit hijau masih bertahan di kisaran Rp70.000 per kilogram, sedangkan cabai rawit merah menjadi komoditas dengan harga tertinggi karena mencapai Rp90.000 per kilogram.
“Keterbatasan pasokan tersebut membuat harga aneka cabai di Pasar Manis Purwokerto bertahan tinggi selama sepekan terakhir,” kata Anjar.
Pewarta: Sumarwoto
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026