Jelantah menuju energi penerbangan hijau

Jelantah menuju energi penerbangan hijau

Di tengah upaya mengembangkan energi yang lebih ramah lingkungan, jelantah menjadi bahan baku alternatif yang menarik untuk dikembangkan. Bahan yang ...

(Antara) 11/10/26 14:49 92265

Di tengah upaya mengembangkan energi yang lebih ramah lingkungan, jelantah menjadi bahan baku alternatif yang menarik untuk dikembangkan

Cilacap (ANTARA) - Di tengah upaya mengembangkan energi yang lebih ramah lingkungan, jelantah menjadi bahan baku alternatif yang menarik untuk dikembangkan. Bahan yang sebelumnya sekadar jadi limbah tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, termasuk sebagai bahan bakar untuk sektor penerbangan.

Peluang itu dikembangkan PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap melalui serangkaian uji coba produksi SAF dan persiapan pembangunan fasilitas pengolahan berbasis bahan baku terbarukan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas pemanfaatan bahan baku alternatif sekaligus mendukung transisi energi.

Area Manager Communication, Relations, and CSR PT Pertamina Patra Niaga RU Cilacap Agustiawan mengatakan pengembangan sustanaible aviation fuel (SAF) merupakan proses panjang yang memerlukan kesiapan teknologi, pasokan bahan baku, dan pasar.

Perjalanan tersebut telah dimulai sejak Desember 2020 melalui uji coba produksi SAF dengan metode co-processing, yakni mengolah bahan baku terbarukan bersama bahan baku konvensional dalam fasilitas pengolahan yang tersedia.

Pada tahap awal, Pertamina melakukan uji coba dengan menyuntikkan Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO) sebesar dua persen menggunakan katalis Pertamina. Uji coba kedua pada Februari 2021 meningkatkan persentase injeksi RBDPKO menjadi 2,4 persen.

Tahapan itu menjadi bagian dari proses pengembangan teknologi untuk menghasilkan bahan bakar penerbangan dengan memanfaatkan bahan baku alternatif. Pengujian tidak berhenti pada proses produksi, tetapi berlanjut pada pembuktian penggunaan bahan bakar dalam penerbangan.

Pada Oktober 2021, SAF digunakan dalam uji terbang pesawat CN235 pada rute Bandung-Jakarta. Pengembangan kemudian berlanjut pada 2023 melalui pengujian penerbangan komersial menggunakan pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-800NG pada rute pulang-pergi Jakarta-Solo.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan SAF mencakup sejumlah tahapan yang saling berkaitan. Selain kemampuan mengolah bahan baku, produsen perlu memastikan bahan bakar memenuhi persyaratan yang dibutuhkan sebelum digunakan dalam sektor penerbangan.

Pada 2024, Pertamina mengembangkan produksi SAF berbahan baku used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah. Pengembangan tersebut disertai perubahan katalis dengan formulasi dari Teknologi Informasi Pertamina serta sertifikasi ISCC CORSIA yang berkaitan dengan standar keberlanjutan bahan bakar penerbangan.

Dari limbah

Pemanfaatan jelantah membuka peluang untuk mengubah bahan yang sebelumnya dipandang sebagai limbah menjadi sumber daya bernilai ekonomi. Namun, pengolahannya membutuhkan sistem pengumpulan, penanganan, dan pengendalian kualitas agar bahan baku sesuai dengan kebutuhan produksi.

VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora mengatakan pengembangan SAF merupakan bagian dari perjalanan perusahaan dalam menghadirkan produk dan layanan energi yang relevan dengan perkembangan industri, termasuk kebutuhan sektor penerbangan terhadap bahan bakar yang lebih berkelanjutan.

“Bagi kami, keberlanjutan dan ketahanan energi bukan dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya perlu dibangun secara bersamaan,” ujar Kitty.

Menurut dia, pemanfaatan UCO dalam pengembangan SAF juga membuka peluang untuk memasukkan sumber daya yang sebelumnya merupakan limbah ke dalam rantai nilai energi.

Langkah tersebut sejalan dengan penerapan prinsip ekonomi sirkular, yakni memaksimalkan pemanfaatan sumber daya agar memiliki nilai tambah dan mengurangi potensi limbah. Dalam konteks energi penerbangan, jelantah menjadi salah satu alternatif bahan baku yang dapat dikembangkan untuk mendukung produksi bahan bakar berkelanjutan.

Meskipun demikian, ketersediaan dan kualitas bahan baku tetap menjadi faktor penting. Produksi SAF dalam skala industri membutuhkan pasokan yang terjaga, baik dari sisi volume maupun mutu, sehingga pengembangan teknologi harus berjalan seiring dengan pembangunan ekosistem pengadaan.

Pertamina merencanakan pengembangan rantai pasok melalui pelibatan masyarakat dengan skema bisnis ke konsumen. Pada saat yang sama, pengadaan bahan baku melalui skema bisnis ke bisnis dipersiapkan untuk menjaga kepastian pasokan.

Rencana kerja sama tersebut melibatkan sejumlah pihak, antara lain Sumitomo, Badan Gizi Nasional, Noovoleum, GAPULIMGI, GML, dan Kementerian Koperasi. Pertamina juga mencantumkan kerja sama penjualan melalui sales and purchase agreement (SPA) dengan Cathay.

Pelibatan berbagai pihak tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan SAF tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas kilang. Ekosistemnya membutuhkan jaringan pengumpulan bahan baku, mitra pengadaan, sistem pengawasan kualitas, serta kerja sama dengan calon pengguna dan pembeli.

Biorefinery

Langkah berikutnya dalam pengembangan energi terbarukan di Cilacap adalah pembangunan biorefinery, fasilitas pengolahan khusus yang dirancang untuk memproduksi bahan bakar berbasis bahan baku terbarukan.

PT Pertamina Patra Niaga memproyeksikan Kilang Cilacap menjadi proyek kilang hijau pertama di Indonesia yang difokuskan untuk memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dalam skala besar. Fasilitas tersebut diharapkan memperkuat peran RU Cilacap dalam pengembangan energi hijau dan SAF nasional.

Proyek Biorefinery Cilacap memasuki tahap penting melalui peletakan batu pertama fase kedua pada Februari 2026. Fasilitas tersebut dirancang sebagai kilang khusus atau standalone dedicated green refinery, berbeda dari metode co-processing yang memanfaatkan fasilitas pengolahan yang telah tersedia.

Pembangunan kilang bioavtur itu direncanakan menempati lahan seluas 17,5 hektare di dekat Kilang Unit IV Cilacap. Nilai investasinya diperkirakan mencapai 1,1 miliar dolar AS, dengan target fasilitas mulai beroperasi pada 2029.

Executive General Manager Pertamina Patra Niaga RU Cilacap Hermawan Budiantoro mengatakan proyek tersebut ditargetkan berjalan mulai 2027.

“Kami target proyek itu jalan pada 2027,” kata Hermawan.

Fasilitas itu dirancang memiliki kapasitas pengolahan 6.000 barel per hari. Produk yang ditargetkan mencakup SAF dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), dengan total produksi yang diproyeksikan sekitar 232.000 ton per tahun.

Kebutuhan bahan baku minyak jelantah diperkirakan mencapai 315.000 ton per tahun. Selain UCO, bahan baku lain yang tercantum dalam rencana pengembangan meliputi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) serta palm oil mill effluent (POME).

Pengembangan fasilitas tersebut akan menambah kapasitas produksi SAF di Kilang Cilacap. Saat ini, produksi SAF pada unit Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT) disebut mencapai 27 kiloliter per hari. Dengan beroperasinya kilang bioavtur yang direncanakan, kapasitas produksi diproyeksikan meningkat sebesar 860 kiloliter per hari, sehingga totalnya mencapai 887 kiloliter per hari pada 2029.

Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan memperkuat kemampuan Pertamina dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Namun, realisasi kapasitas dan jadwal operasional tetap bergantung pada penyelesaian pembangunan, kesiapan fasilitas, serta kepastian pasokan bahan baku.

Dampak ekonomi dan lingkungan

Selain memperkuat produksi energi terbarukan, proyek biorefinery diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang luas. Pertamina menyebut proyek kilang bioavtur tersebut berpotensi mendongkrak produk domestik bruto (PDB) hingga Rp199 triliun per tahun.

Proyek itu juga diperkirakan menyerap sekitar 5.900 tenaga kerja. Sementara dari sisi lingkungan, fasilitas tersebut diproyeksikan mengurangi emisi tahunan sekitar 600.000 ton setara karbon dioksida (CO2e).

Di sisi lain, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) ditargetkan sebesar 30 persen. Target tersebut menjadi bagian dari harapan agar pembangunan fasilitas tidak hanya memperkuat industri energi, juga memberi ruang bagi keterlibatan industri dan tenaga kerja dalam negeri.

Seluruh angka tersebut masih berupa proyeksi, bukan capaian yang telah terealisasi. Besarnya dampak ekonomi dan lingkungan akan bergantung pada pelaksanaan proyek, tingkat produksi, sumber bahan baku, serta kinerja fasilitas ketika beroperasi.

Selain membangun fasilitas produksi dan memastikan pasokan, pengembangan SAF memerlukan pasar yang dapat menyerap produk secara berkelanjutan.

Pertamina memperkirakan potensi pasar SAF mencapai 160 ribu kiloliter per tahun untuk pasar domestik dan 139 ribu kiloliter per tahun untuk pasar ekspor. Angka tersebut menggambarkan peluang pasar yang dapat dikembangkan, bukan jaminan penyerapan produk secara otomatis.

Strategi pasar mencakup kebutuhan domestik dan peluang ekspor. Pengembangan kedua pasar tersebut memerlukan dukungan kebijakan dan insentif agar bahan bakar berkelanjutan memiliki daya saing serta dapat berkembang di tengah dinamika industri energi.

Kepastian permintaan juga penting untuk mendukung keberlanjutan investasi. Ketika fasilitas produksi membutuhkan bahan baku dalam jumlah besar, produsen perlu memastikan adanya keseimbangan antara kapasitas pengolahan, ketersediaan pasokan, dan kebutuhan pasar.

Bagi Kilang Cilacap, pengembangan SAF memiliki keterkaitan dengan peran kilang sebagai salah satu fasilitas pengolahan energi yang menghasilkan berbagai produk, termasuk bahan bakar untuk penerbangan. Pengembangan bahan bakar alternatif dapat memperluas pilihan produk sekaligus menjadi bagian dari transformasi industri pengolahan energi.

Pada akhirnya, perjalanan jelantah menuju bahan bakar penerbangan bukan sekadar cerita tentang mengubah limbah menjadi produk baru. Proses tersebut mempertemukan teknologi pengolahan, partisipasi masyarakat, kemitraan usaha, pembangunan fasilitas, dan kebutuhan pasar dalam satu rantai yang saling bergantung.

Area kilang Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap, Jawa Tengah, pada waktu malam. ANTARA/Sumarwoto

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

#pertamina-cilacap #kilang-hijau #biorefinery-cilacap

https://www.antaranews.com/berita/5780806/jelantah-menuju-energi-penerbangan-hijau