Batang Toru mengalirkan energi untuk negeri
Gemericik air sungai Batang Toru sayup-sayup menyertai perjalanan menuju bendungan utama pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang terletak di Kecamatan ...
(Antara) 11/10/26 17:14 94830
PLTA Batang Toru memikul beragam harapan dari masyarakat di sekitarnya
Tapanuli Selatan, Sumatera Uta (ANTARA) - Gemericik air sungai Batang Toru sayup-sayup menyertai perjalanan menuju bendungan utama pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang terletak di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, akhir pekan kedua Oktober.
Pepohonan nan rimbun tampak berbaris di sisi jalan, bagai pasukan yang mengelilingi dan menjaga tepi bendungan.
Aroma khas dari tanah dan dedaunan yang diguyur hujan menyambut siapa pun yang bertandang untuk melihat perkembangan proyek PLTA berkapasitas 510 megawatt (MW) tersebut. Meski Indonesia tengah dilanda fenomena El Nino, hujan telah rutin membasahi bumi Tapanuli Selatan sejak awal September.
Dari sanalah, pemerintah melihat potensi air dari sungai Batang Toru, di Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), dapat menjelma menjadi karunia bagi masyarakat di sekitarnya.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menyampaikan PLTA Batang Toru dapat menjadi pilar ketahanan energi dan stabilitas kelistrikan untuk kawasan tersebut.
“Ini (PLTA Batang Toru) merupakan upaya kita memperkuat ketahanan energi nasional, upaya kita memperkuat keandalan energi nasional. Tentu ini merupakan bagian dari Astacita,” ujar Yuliot ketika bertandang ke Bendungan Air PLTA Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat (9/10).
Kehadirannya kala itu sekaligus untuk memulai tahap penggenangan PLTA Batang Toru. Langkah tersebut merupakan upaya percepatan proyek PLTA agar dapat mendukung keandalan sistem kelistrikan Sumbagut menjelang periode Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.

Penopang energi Sumbagut
Selaras dengan cita-cita pemerintah, PT PLN Nusantara Renewables turut mengoptimalkan potensi sumber daya air melalui PLTA Batang Toru 510 MW untuk kepentingan ketenagalistrikan domestik.
Direktur Teknologi, Teknik, dan Keberlanjutan PT PLN (Persero) Edwin Nugraha Putra mengamini signifikansi kehadiran PLTA Batang Toru.
Saat ini, pembangkit-pembangkit Sumatera memiliki daya mampu pembangkit sebesar 2.551 MW dan beban puncak mencapai 2.446 MW, sehingga menyisakan cadangan daya sekitar 105 MW. Cadangan operasional yang tersisa berada di kisaran 4 persen, sementara cadangan yang ideal berada di level 15–20 persen.
Sementara itu, Edwin menyampaikan kebutuhan listrik Sumatera terus menunjukkan tren peningkatan. Sejak 2025 hingga Oktober 2026, permintaan listrik meningkat sekitar 490 MW.
Peningkatan kebutuhan listrik tersebut menjadi pengingat betapa pentingnya PLTA Batang Toru untuk masuk ke sistem kelistrikan Sumatera.
PLTA Batang Toru akan dimanfaatkan sebagai pembangkit peaker atau pembangkit listrik puncak yang dioperasikan untuk memenuhi lonjakan beban listrik dalam waktu singkat, terutama pada jam beban puncak.
PLTA yang dikelola oleh PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) dirancang untuk beroperasi penuh pada jam beban puncak (18.00–24.00) dengan spesifikasi konsumsi air sebesar 0,24 liter per kWh.
Berdasarkan kalkulasi pakar energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti, PLTA Batang Toru menaikkan cadangan sistem Sumatera dari empat persen menjadi sekitar sembilan persen.
Selain itu, ia juga mengatakan PLTA Batang Toru dapat memangkas kebutuhan LNG di Arun hingga 4–5 kargo per tahun.
Yayan menilai PLTA Batang Toru cukup untuk menambal kekurangan pasokan listrik, namun hanya untuk jangka waktu 3–5 tahun ke depan. Oleh karena itu, Yayan mengatakan rencana pembangkit lain tetap perlu berjalan sebagaimana yang termaktub di dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034.
Dalam RUPTL tersebut, telah terjadwal pengembangan lebih dari 2 ribu MW PLTA kuota Sumbagut pada 2031–2034, sekitar 700 MW panas bumi Sumatera, serta baterai penyimpanan energi (BESS) 250 MW pada 2028–2029.
Dengan demikian, keandalan listrik nasional, khususnya Sumatera, dapat terwujud sebagai buah kolaborasi antara pemerintah, PLN, dan pihak swasta.
Dampak ekonomi
“Dulu waktu belum ada PLTA, orang memikul duren dari situ,” tutur Saiin (61) sembari menunjuk ke arah kebun durian dan karet yang berlokasi di kawasan Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Kebun durian itu terletak tak jauh dari lokasi bendungan utama PLTA Batang Toru.
Ketika musim panen, menurut Saiin, warga sekitar yang memiliki atau bekerja di kebun durian maupun karet harus berjalan kaki meniti kontur tanah yang tidak rata sembari memikul hasil panen mereka.
Pandangan Saiin lantas beralih ke bawah, menunjuk beton yang kini menjadi tempat kakinya berpijak.
“Tadinya ini nggak bisa dilalui mobil, sekarang bisa. Dibangun jalan, sekarang mobil udah sampe untuk mengambil hasil panen,” kata Saiin.
Saiin yang kala itu mengenakan seragam berwarna kelabu serta helm putih bertulisan NSHE merupakan warga Tapanuli Selatan yang tinggal di sekitar kawasan proyek PLTA Batang Toru.
Tak hanya mendapat akses untuk mengangkut hasil panen, Saiin menyampaikan ia bersama sejumlah anggota keluarganya juga bekerja di NSHE. Kesempatan untuk turut bergabung dalam proyek pengembangan PLTA Batang Toru menambah penghasilan bagi keluarga Saiin.
Sebagai seorang pensiunan, Saiin mengatakan dirinya merasa sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk bekerja akibat kehadiran PLTA Batang Toru, sehingga bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari di masa tua.
“Kalau bagi keluarga saya sendiri, tadinya yang seharusnya saya sudah nganggur, sekarang masih bisa bekerja. Masih ada penghasilan. Juga anak-anak saya sudah di sini semua,” ujar Saiin.
Dampak ekonomi juga dirasakan oleh Sanjani (36), seorang warga Tapanuli Selatan yang bekerja di proyek pengembangan PLTA Batang Toru sejak tahap pengeboran dan pengambilan sampel tanah.
Sanjani yang kini bekerja sebagai penerima tamu menyampaikan perekonomian masyarakat di sekitar proyek PLTA Batang Toru menunjukkan peningkatan.
Ia menjadikan kondisi rumah masyarakat sekitar sebagai indikator dari peningkatan kondisi perekonomian. Dari yang sebelumnya bukan bangunan permanen, kini sudah menjadi bangunan permanen.
“Dari yang enggak bisa bangun rumah, setelah kerja di sini bisa bangun rumah. Saya dulu belum ada kebun, sekarang alhamdulillah ada kebun terbeli,” kata Sanjani.
Menurut dia, peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar proyek PLTA Batang Toru juga didukung oleh program-program pelatihan yang diberikan pihak pengembang. Terdapat pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja, pelatihan engineering atau keteknikan, pelatihan bahasa Mandarin, hingga pelatihan pelayanan tamu seperti yang dijalani oleh Sanjani.
Pelatihan tersebut diberikan kepada karyawan yang berminat dan sesuai dengan bidang yang sedang dilakoni. Pelatihan tersebut lantas mengasah keterampilan untuk menjadi bekal bagi masyarakat di sekitar proyek PLTA Batang Toru.
Dalam kesempatan tersebut, Sanjani berharap agar kelistrikan di Sumbagut dapat menjadi lebih stabil guna mendukung kelancaran aktivitas masyarakat setelah PLTA Batang Toru beroperasi. Terlebih, perkembangan zaman menuntut kondisi listrik yang andal dan stabil.
“Segala sesuatunya kan sudah perlu listrik, masak pakai listrik, apalagi yang kerja sibuk kan tinggal colokkan nasi atau panaskan segala macam, nggak perlu cari-cari gas,” kata dia.
PLTA Batang Toru memikul beragam harapan dari masyarakat di sekitarnya. Untuk energi yang stabil, untuk dampak ekonomi yang berganda, untuk memudahkan kehidupan masyarakat Sumatera.
Aspek kelestarian alam dan terjaganya ekosistem tetap harus menuai perhatian yang utama, sebab hanya dengan rimbunnya hutan dan alam yang permai, karunia berupa air Batang Toru dapat terus mengalir untuk negeri.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
#plta-batang-toru #kementerian-esdm #pln #pilar-energi-sumbagut #dampak-ekonomi-plta-batang-toru
https://www.antaranews.com/berita/5780986/batang-toru-mengalirkan-energi-untuk-negeri