KKP: Teknik produksi di KSIGN Rote sejarah baru pergaraman Indonesia
Balai Besar Produksi Garam Kupang, Kementerian Kelautan dan Perikanan menyatakan teknik produksi garam di Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di ...
(Antara) 15/10/26 12:07 175440
Sehingga kita tidak lagi bergantung pada waktu pasang surut air laut. Dengan ada pompa kita bisa mengalirkan air laut ke lokasi tambak dengan memperhatikan kecepatan aliran air, banyaknya air dan lainnya
Kupang (ANTARA) - Balai Besar Produksi Garam Kupang, Kementerian Kelautan dan Perikanan menyatakan teknik produksi garam di Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, merupakan sejarah baru dalam dunia pergaraman di Indonesia.
“Teknik produksi garam dengan tetap menggunakan lahan atau yang dikenal dengan sebutan ekstensifikasi lahan ini baru pertama kali dilakukan di Indonesia, dan Rote Ndao menjadi lokasi yang cocok untuk penerapan teknik tersebut,” kata Kepala Balai Besar Garam Kupang Muhamad Zaki Mahasin ditemui di Kupang, NTT, Kamis.
Zaki mengatakan sebenarnya di Indonesia sudah ada teknik tersebut, namun teknik itu bukan dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, namun pada jaman kolonial, yakni di Madura.
Yang dikerjakan oleh KKP di Rote, ujar dia, adalah hal baru di mana dimulai dengan pembukaan lahan baru di atas 500 hektare dengan menggunakan teknologi modern.
Dalam pengembangan KSIGN di Rote Ndao, menurut Zaki, hal yang paling utama adalah pompa, yang digunakan untuk memompa air laut ke area tambak garam.
“Sehingga kita tidak lagi bergantung pada waktu pasang surut air laut. Dengan ada pompa kita bisa mengalirkan air laut ke lokasi tambak dengan memperhatikan kecepatan aliran air, banyaknya air dan lainnya,” ujar dia.
Saat ini, ujar dia, luas lahan atau area K-SIGN di Rote Ndao mencapai kurang lebih sekitar 10 ribu hektare yang tengah menjadi fokus KKP untuk pengembangan tambak garam pada tahap satu dan tahap dua.
Lebih lanjut, kata dia, saat ini pembangunan KSIGN Rote Ndao di tahun 2026 ini dilakukan dengan tahapan yang semuanya menggunakan APBN.
Untuk luas lahan tahap pertama mencapai 600-an hektare dan luas lahan di tahap dua mencapai 700-an hektare.
“Untuk sisa lahannya, kami akan undang investor menjadikan kawasan itu menjadi sentra industri garam,” tambah dia.
Dia menambahkan progres pengerjaan di tahap pertama saat ini produksinya sudah ada. Tetapi dia enggan untuk menyampaikan berapa produksi yang sudah dihasilkan di tahap pertama itu.
“Memang untuk tahap satu ini pekerjaan pompa sudah selesai, tetapi masih ada pemeliharaan di beberapa tempat pekerjaan pompa sudah selesai,” tambah dia.
Untuk lahan garam tahap satu, ujar dia, kini pihaknya sudah memompa air laut ke lokasi tambak, dengan jarak mencapai 12,5 kilometer.
Lebih lanjut, kata dia, pihaknya memperhatikan betul kualitas dari garam yang dihasilkan. Karena itu mulai penyaluran air laut ke lokasi tambak, serta kecepatan air laut juga diperhatikan agar kandungan senyawa lainnya tidak merusak kualitas garam itu sendiri.
Pewarta: Kornelis Kaha
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026