Pakar: Pemerintah perlu jaga stabilitas regulasi demi tarik investor
Profesor Departemen Strategi dan Kebijakan NUS Business School Kulwant Singh menilai Pemerintah Indonesia perlu menjaga stabilitas aturan karena kepastian ...
(Antara) 08/10/26 19:07 32475
Bisnis sangat tidak menyukai ketidakpastian. Pelaku bisnis menyukai kepastian sehingga mereka dapat berinvestasi untuk jangka menengah atau jangka panjang
Singapura (ANTARA) - Profesor Departemen Strategi dan Kebijakan NUS Business School Kulwant Singh menilai Pemerintah Indonesia perlu menjaga stabilitas aturan karena kepastian menjadi pertimbangan penting bagi pelaku usaha global sebelum berinvestasi di Indonesia.
“Saya sangat merekomendasikan adanya stabilitas dalam regulasi. Aturan yang dimiliki Indonesia sebenarnya bukan aturan yang buruk. Aturan dan institusi yang ada di Indonesia tidak jauh berbeda dari kebanyakan negara lain. Namun, kepatuhan (compliance) dan stabilitas (stability) adalah isu-isu kunci yang harus dibenahi,” kata Singh di Singapura, Kamis.
Lebih lanjut, ia menjelaskan kepastian menjadi salah satu pertimbangan utama bagi pelaku usaha dalam menentukan keputusan investasi.
Industri global membutuhkan kepastian agar dapat menyusun rencana investasi untuk jangka menengah maupun jangka panjang. Karena itu, Singh mendorong pemerintah Indonesia untuk konsisten dalam pemberlakuan aturan yang telah ditetapkan.
Menurut dia, perubahan aturan yang terlalu sering dapat mengganggu pertimbangan bisnis dan meningkatkan ketidakpastian bagi investor.
“Bisnis sangat tidak menyukai ketidakpastian. Pelaku bisnis menyukai kepastian sehingga mereka dapat berinvestasi untuk jangka menengah atau jangka panjang,” ujar dia.
Meski demikian, Singh menilai Indonesia memiliki sejumlah contoh keberhasilan dalam menarik investasi asing.
Hal ini salah satunya melalui kebijakan yang mendorong perusahaan menciptakan nilai tambah di dalam negeri atau hilirisasi, alih-alih sekadar mengekstraksi bahan mentah dan mengekspornya.
“Perusahaan otomotif dan perusahaan kendaraan listrik (EV) kini bergerak masuk ke Indonesia, dan itu merupakan contoh keberhasilan pemerintah memimpin penarikan investor multinasional asing,” kata dia.
Selain itu, ia juga melihat industri battery storage sebagai salah satu sektor yang potensial untuk berkembang.
Peluang lain adalah menjadikan Indonesia sebagai pemasok energi bagi negara lain. Dalam konteks ini, ia mencontohkan pembahasan antara Singapura dan Batam mengenai pembangunan pembangkit listrik tenaga surya di Batam yang listriknya dapat disalurkan ke Singapura.
Menurut dia, berbagai peluang tersebut menunjukkan besarnya potensi kerja sama ekonomi di kawasan.
“Jadi, ada banyak peluang semacam ini, dan saya rasa stabilitas serta pengurangan ketidakpastian adalah titik awal yang sangat baik,” kata Singh.
Di sisi lain, perbedaan karakteristik peran pemerintah di negara-negara Asia dan di negara-negara Barat juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pelaku usaha global.
Sebab, ujar Singh, hal ini dapat mempengaruhi cara perusahaan menyusun dan menjalankan strategi bisnisnya.
Ia menjelaskan bahwa di negara-negara Barat, pemerintah umumnya berperan sebagai pembuat aturan dan pengendali kegiatan bisnis.
Sementara di Asia, pemerintah dapat memainkan peran yang lebih luas, mulai dari mendukung perusahaan, memberikan subsidi pelatihan dan lisensi untuk mendorong pasar baru, hingga menjadi mitra investasi.
“Jika Anda hendak membuka bisnis baru di negara lain, pertanyaan paling penting untuk diajukan adalah apa yang diinginkan oleh pemerintah,” ujar Singh.
Ia mencontohkan hubungan Apple dengan Pemerintah Indonesia. Menurutnya, perusahaan perlu memahami kepentingan pemerintah di negara tujuan agar dapat membangun hubungan bisnis yang efektif.
Sebab dalam hal ini, pemerintah di Asia bahkan dapat memainkan berbagai peran sekaligus yang tidak hanya sebagai pembuat kebijakan, sehingga perusahaan perlu memahami posisi pemerintah sebagai mitra maupun, dalam kondisi tertentu, kompetitor.
Selain perbedaan karakteristik peran pemerintah, beberapa faktor lain yang juga penting diperhatikan bagi perusahaan yang ingin berekspansi di Asia antara lain perbedaan budaya, perbedaan institusional, hingga tahapan pembangunan (stages of development).
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
#nus #nus-business-school #investor #regulasi #investor-global