Menperin: Penguatan industri kakao butuh sinergi pacu produktivitas
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menyampaikan, penguatan industri kakao nasional membutuhkan sinergi lintas sektor untuk meningkatkan ...
(Antara) 19/10/26 19:47 430050
Penguatan industri kakao tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk menjawab berbagai tantangan, mulai dari peningkatan produktivitas dan kualitas bahan baku, penguatan kapasitas sumber daya manusia, penerap
Bandung, Jawa Barat (ANTARA) - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menyampaikan, penguatan industri kakao nasional membutuhkan sinergi lintas sektor untuk meningkatkan produktivitas, kualitas bahan baku, dan keberlanjutan pasokan bagi industri pengolahan.
“Penguatan industri kakao tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk menjawab berbagai tantangan, mulai dari peningkatan produktivitas dan kualitas bahan baku, penguatan kapasitas sumber daya manusia, penerapan prinsip keberlanjutan, hingga peningkatan daya saing industri pengolahan dan produk kakao nasional,” ujar Menperin dalam keterangan di Jakarta, Senin.
Menperin mengatakan, pihaknya terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem kakao nasional yang produktif, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Program Cocoa Doctor yang bertujuan mencetak sumber daya manusia (SDM) kompeten sebagai agen perubahan dalam pengembangan ekosistem kakao, mulai dari sektor hulu hingga hilir.
Program Cocoa Doctor merupakan hasil kolaborasi Kemenperin dengan FAST Project dari United Nations Development Programme (UNDP), dengan dukungan United Kingdom Foreign, Commonwealth & Development Office (UK FCDO) serta Cocoa Academy PT Mars Symbioscience Indonesia.
Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas SDM sekaligus membangun rantai nilai kakao nasional yang lebih produktif, berkelanjutan, dan kompetitif.
Menperin berharap sinergi yang terbangun dapat menghasilkan langkah konkret untuk memperkuat ekosistem industri kakao nasional.
“Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program dan aksi bersama yang memberikan dampak nyata bagi petani, pelaku usaha, dan industri kakao nasional,” tegasnya.
Sepanjang 2026, Program Cocoa Doctor menargetkan pelatihan bagi 100 peserta. Hingga awal Oktober 2026, sebanyak 70 peserta telah mengikuti pelatihan, sementara 30 peserta lainnya dijadwalkan menjalani pelatihan pada 20 Oktober hingga 11 November 2026.
Program yang dimulai sejak Juli 2026 tersebut dilaksanakan secara bertahap di fasilitas Mars Cocoa Academy Tarengge. Melalui pelatihan ini, peserta dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan produktivitas, kualitas, serta penerapan praktik keberlanjutan dalam pengelolaan kakao.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menyampaikan bahwa penguatan kompetensi SDM merupakan fondasi penting untuk membangun industri kakao yang tangguh dan berdaya saing.
Menurut dia, lulusan Cocoa Doctor diharapkan dapat menerapkan sekaligus menyebarluaskan pengetahuan yang diperoleh kepada petani dan pelaku usaha di daerah masing-masing.
Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh peserta pelatihan, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas dan produktivitas kakao nasional.
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026