Untuk menciptakan daya saing bisnis yang berkelanjutan, dibutuhkan pendekatan yang holistik. Pembinaan perlu mencakup hilirisasi komoditas unggulan, adopsi teknologi dan inovasi produk, serta peningkatan kapasitas modal dan SDM
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyampaikan, pembinaan industri kecil menengah (IKM) perlu dilakukan secara holistik, mulai dari hilirisasi komoditas, adopsi teknologi dan inovasi produk, hingga peningkatan kapasitas modal dan SDM untuk memperkuat daya saing secara berkelanjutan.
"Untuk menciptakan daya saing bisnis yang berkelanjutan, dibutuhkan pendekatan yang holistik. Pembinaan perlu mencakup hilirisasi komoditas unggulan, adopsi teknologi dan inovasi produk, serta peningkatan kapasitas modal dan SDM,” ujar Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita di Jakarta, Rabu.
Ia menyampaikan, pengembangan IKM masih menghadapi berbagai tantangan yang perlu diselesaikan secara terintegrasi.
Tantangan tersebut mencakup pembiayaan dan permodalan, adopsi teknologi dan literasi digital, SDM industri, rantai pasok dan kemitraan, inovasi dan desain, ketersediaan bahan baku, persaingan global dan akses pasar, serta standardisasi.
Sementara di sisi pasar, IKM menghadapi produk impor murah serta keterbatasan akses untuk menembus pasar ekspor.
Oleh karena itu, pihaknya menjalankan program peningkatan daya saing melalui berbagai instrumen, mulai dari akses pembiayaan, akses sumber bahan baku, fasilitasi teknologi dan sarana prasarana produksi, peningkatan kualitas produk dan keahlian SDM, perluasan akses pasar, hingga penguatan kemitraan.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja, memperkuat rantai pasok IKM dengan industri besar atau sektor ekonomi lainnya, serta meningkatkan penetrasi produk IKM ke pasar ekspor.
Reni menambahkan, penguatan kemitraan menjadi salah satu instrumen penting untuk mendorong IKM naik kelas. Dengan masuk ke rantai pasok industri besar, IKM memperoleh kesempatan meningkatkan kapasitas produksi, kualitas produk, penerapan standar, sekaligus mendapatkan kepastian pasar.
Sepanjang 2026 hingga triwulan III, sebanyak 203 IKM telah mendapatkan fasilitasi temu bisnis. Pada sisi ekspor, sebanyak 313 IKM mendapatkan pembinaan untuk mendukung ekspor.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 98 IKM atau sekitar 31 persen telah melakukan ekspor, sedangkan 215 IKM atau sekitar 69 persen masih memiliki potensi untuk didorong menuju pasar ekspor.
Fasilitasi yang diberikan antara lain berupa restrukturisasi mesin dan peralatan, kemitraan, serta sertifikasi terkait keamanan pangan.
“Potensi IKM untuk masuk pasar global masih sangat besar. Karena itu, pembinaan perlu kita kawal dari peningkatan kapasitas produksi, kualitas dan standardisasi produk sampai kepada akses pasar dan pertemuan dengan calon pembeli,” jelas Reni.
Sejumlah program prioritas Ditjen IKMA hingga triwulan III 2026 juga mencatatkan capaian positif. Fasilitasi produk dan sertifikasi telah menjangkau 152 IKM dari target 69 IKM.
Sementara itu, program e-Smart, literasi digital, dan Making Indonesia 4.0 mencapai 376 IKM dari target 364 IKM. Layanan Klinik Kemasan dan Hak Kekayaan Intelektual juga telah menjangkau 306 IKM dari target 154 IKM.
Pada program restrukturisasi mesin dan peralatan, realisasi mencapai 59 IKM dari target 46 IKM. Sementara itu, program fesyen dan kriya telah menjangkau 38 IKM dari target 30 IKM.
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026