TEP ITB dampingi warga transmigrasi Paser olah singkong menjadi mocaf
Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Bandung (ITB) mendampingi warga Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Keladen, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, ...
(Antara) 20/10/26 17:06 545149
Jakarta (ANTARA) - Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Bandung (ITB) mendampingi warga Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Keladen, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, mengolah singkong menjadi tepung mocaf untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian setempat.
Pendampingan tersebut menjadi salah satu upaya pengembangan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat setelah tanaman pisang kepok yang sebelumnya menjadi andalan ekonomi warga terserang jamur sejak 2025.
"Waktu harga singkong mulai turun, singkong hanya dijual dalam bentuk mentah. Kita baru kenal mocaf sekarang, di saat harga singkong anjlok. Setelah diolah, semoga harganya bisa meningkat," kata warga UPT Keladen, Partini, berdasarkan keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.
Selama ini, singkong yang melimpah di kawasan transmigrasi tersebut umumnya dijual dalam bentuk mentah dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram.
Melalui pengolahan menjadi tepung modified cassava flour (mocaf), yakni tepung singkong hasil fermentasi, komoditas tersebut diharapkan memiliki nilai jual lebih tinggi, masa simpan lebih panjang, sekaligus menjadi alternatif bahan pangan bagi masyarakat.
Untuk mengembangkan potensi tersebut, TEP ITB memberikan pelatihan pembuatan mocaf kepada kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta warga UPT Keladen, Kecamatan Batu Engau.
Dalam pelatihan itu, warga mempelajari proses pengolahan singkong mulai dari pemotongan, perendaman dalam air yang diberi ragi selama dua hari, penjemuran hingga kering, sampai penghalusan menjadi tepung.
Seluruh proses menggunakan peralatan sederhana yang tersedia di rumah tangga, antara lain pisau, ember, terpal, dan nyiru, sehingga dapat dipraktikkan kembali oleh masyarakat.
Tepung yang dihasilkan memiliki tekstur halus dan tidak berbau singkong. Warga juga langsung memanfaatkan hasil pengolahan tersebut untuk membuat adonan gorengan sebagai contoh penggunaan mocaf dalam makanan sehari-hari.
Anggota TEP ITB Indri Nurhidayah mengatakan pengolahan mocaf berpotensi membuka kegiatan ekonomi baru sekaligus membantu masyarakat memenuhi kebutuhan bahan pangan tanpa sepenuhnya bergantung pada tepung terigu yang harus diperoleh dari pasar.
"Tepung mocaf tidak hanya mempunyai potensi ekonomi, tetapi juga mempunyai potensi sebagai alternatif tepung terigu yang sulit diperoleh warga UPT karena jarak tempuh ke pasar yang jauh," ujar Indri.
Menurut dia, teknik pengolahan yang sederhana memungkinkan warga mengembangkan singkong menjadi produk unggulan desa dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di kawasan transmigrasi.
"Selain itu, pengolahannya cukup mudah dan peserta pelatihan sangat antusias untuk mengembangkan tepung mocaf sebagai salah satu produk unggulan di desa mereka," ucapnya.
Sebagai tindak lanjut, hasil olahan tepung mocaf telah dipamerkan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa Keladen sebagai bagian dari upaya menjadikannya produk unggulan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) desa.
Program tersebut diharapkan terus berkembang dengan dukungan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Paser agar keterampilan yang diperoleh masyarakat dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha berkelanjutan.
Pendampingan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan TEP 2026 yang diarahkan untuk menindaklanjuti hasil pemetaan potensi ekonomi kawasan transmigrasi melalui kegiatan pemberdayaan dan penerapan inovasi sesuai kebutuhan masyarakat.
Secara nasional, Kementerian Transmigrasi pada 2026 menugaskan 1.476 peserta TEP yang tergabung dalam 246 tim ke 53 kawasan transmigrasi untuk melaksanakan riset, pendampingan, dan pengembangan potensi ekonomi masyarakat.
Sebanyak 53 kawasan tersebut merupakan bagian dari 154 kawasan transmigrasi yang sebelumnya telah dikunjungi dan dipetakan melalui pelaksanaan TEP pada 2025.
Pada September 2026, Kementerian Transmigrasi juga mengevaluasi 246 program TEP untuk memastikan pelaksanaan kegiatan di lapangan tetap sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan sasaran transformasi transmigrasi.
Melalui pendampingan tersebut, pengembangan komoditas lokal diharapkan tidak berhenti pada penjualan bahan mentah, tetapi dapat menghasilkan produk olahan yang memiliki nilai tambah sekaligus membuka peluang usaha bagi warga kawasan transmigrasi.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
#tim-ekspedisi-patriot-2026 #tepung-mocaf #transmigrasi #kabupaten-paser #pemberdayaan-masyarakat