PTPN IV PalmCo gandeng Kemendag cari pasar baru ekspor sawit RI
PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo menggandeng Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencari pasar baru ekspor sawit guna memperkuat daya saing global ...
(Antara) 21/10/26 20:44 694544
Langkah ini menjadi manuver krusial bagi industri kelapa sawit nasional untuk memperluas akses pasar internasional di tengah bayang-bayang ketatnya regulasi EUDR yang akan berlaku efektif pada 1 Januari 2027
Jakarta (ANTARA) - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo menggandeng Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencari pasar baru ekspor sawit guna memperkuat daya saing global menghadapi pemberlakuan regulasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) di 2027.
PTPN IV PalmCo bersama Direktorat Pengembangan Ekspor Produk Primer, Kemendag menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) strategis dalam memperluas pasar ekspor sawit Indonesia.
"Langkah ini menjadi manuver krusial bagi industri kelapa sawit nasional untuk memperluas akses pasar internasional di tengah bayang-bayang ketatnya regulasi EUDR yang akan berlaku efektif pada 1 Januari 2027," kata Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa terkonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Dia menyampaikan, sinergi itu tidak hanya dirancang sebagai bentuk pertahanan terhadap kebijakan diskriminatif di Benua Biru, melainkan sebagai momentum transformasi PTPN IV PalmCo dari pemasok komoditas domestik menjadi pemain ekspor langsung (direct exporter) berskala global.
Jatmiko menegaskan, penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) bukan lagi sebagai cara untuk menggugurkan kewajiban hukum, melainkan senjata utama untuk memenangkan persaingan di pasar internasional.
Ia menekankan, kepatuhan terhadap standar berkelanjutan, seperti persyaratan ketat dalam EUDR, adalah syarat mutlak agar produk agrikultur Indonesia dapat menembus dan bertahan di pasar dunia, khususnya Uni Eropa.
"Dalam hal ini, kinerja ESG tidak hanya tentang mengikuti aturan, tetapi juga menjamin akses pasar jangka panjang dan memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi industri perkebunan nasional," kata Jatmiko.
Direktur Pemasaran dan Sistem Manajemen PTPN IV Rury C. Baskoro mengatakan, kapasitas produksi harus diimbangi kemampuan menembus pasar internasional secara mandiri melalui hubungan langsung dengan pembeli global.
Ia menyebut transformasi bisnis mulai menunjukkan hasil dengan peningkatan porsi ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dari sekitar satu persen pada 2024 menjadi sepuluh persen hingga September 2026.
"Insya Allah, tahun depan kami menargetkan porsi ekspor mencapai 25 persen, atau kurang lebih sekitar 759.000 ton," ujar Rury dalam sesi gelar wicara bertajuk Indonesian Sustainable Palm Oil: Global Competitiveness and Expanding International Market di ICE BSD.
Peningkatan eksponensial itu, lanjut Rury, mencerminkan perubahan cara PTPN IV mengelola bisnisnya dalam membangun hubungan langsung dengan pembeli, refiners, traders, hingga end-user di berbagai negara, sembari tetap memprioritaskan pemenuhan pasokan domestik.
Pemberlakuan EUDR menjadi kekhawatiran besar bagi importir dan operator di Eropa, mengingat ancaman denda yang mencapai 4 persen dari total pendapatan tahunan mereka jika komoditas terbukti melanggar kriteria bebas deforestasi per consignment (pengiriman).
Meski demikian, Rury memastikan PTPN IV PalmCo memiliki keunggulan yang tidak bisa dibantah.
"Kebun kami adalah peninggalan Belanda. Jadi bisa dipastikan tidak ada aktivitas deforestasi baru, tidak ada okupasi lahan dari masyarakat, dan tidak ada pengambilan lahan dari hutan," kata Rury.
Fakta historis tersebut diperkuat dengan kepemilikan sertifikasi berkelanjutan tingkat nasional maupun global, seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), yang menjamin aspek ketertelusuran (traceability).
Perjanjian kerja sama dengan Kemendag ini dirancang secara komprehensif dari hulu hingga hilir, mencakup lima komoditas perkebunan utama yaitu kelapa sawit, karet, kopi, teh, dan gambir.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag Miftah Farid menekankan Indonesia harus proaktif mencari ceruk pasar alternatif di tengah stagnasi pasar Eropa.
Ia menyebutkan berdasarkan data ITC Export Potential Map, kelapa sawit Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk diekspansi.
Selain memperkuat pasar yang sudah established melalui pendekatan G-to-G seperti di China dan India, Indonesia melihat peluang di Pakistan dan Filipina.
"Sebagai bentuk nyata penciptaan nilai ekonomi yang inklusif, kolaborasi ini juga menyepakati integrasi PTPN IV PalmCo ke dalam program prioritas \'Desa Bisa Ekspor\'," ucapnya.
Miftah menambahkan, sebagai pilot project, pemberdayaan produk akan difokuskan pada komoditas gambir di Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat.
Inisiatif itu diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani daerah penghasil, menyelesaikan masalah di sektor hulu, dan meningkatkan daya saing melalui penguatan standardisasi hilirisasi komoditas.
"Kerja sama ini diharapkan bukan sekadar penandatanganan dokumen di atas kertas, tetapi terwujud dalam intelijen pasar yang presisi, fasilitasi bisnis dengan pembeli internasional, serta bertambahnya volume ekspor dan kemitraan global berkelanjutan bagi Indonesia," katanya.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026