KLH: Perusahaan sawit perlu perkuat inventarisasi emisi

KLH: Perusahaan sawit perlu perkuat inventarisasi emisi

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menegaskan bahwa inventarisasi emisi tidak cukup hanya menjadi kegiatan ...

(Antara) 22/10/26 15:44 797009

Setiap angka emisi harus memiliki dasar yang jelas, mulai dari sumber data dan metode penghitungan hingga pihak yang bertanggung jawab

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menegaskan bahwa inventarisasi emisi tidak cukup hanya menjadi kegiatan pencatatan, tetapi harus menjadi dasar pengambilan keputusan perusahaan sawit.

Terkait hal itu, Deputi Bidang Pengendalian Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon KLH/BPLH Ary Sudijanto mengingatkan perusahaan sawit perlu memperkuat pencatatan data, menggunakan metode penghitungan yang sesuai, serta menyiapkan dokumentasi yang dapat ditelusuri.

"Setiap angka emisi harus memiliki dasar yang jelas, mulai dari sumber data dan metode penghitungan hingga pihak yang bertanggung jawab," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Dukungan pimpinan perusahaan, katanya saat membuka Carbon Conference & Training bertajuk “Greenhouse Gas Inventory Accounting in Oil Palm Plantations", juga dinilai penting untuk memastikan inventarisasi emisi berjalan secara berkesinambungan.

Menurut dia, transformasi industri sawit menuju praktik rendah karbon membutuhkan keterhubungan antara data, keputusan investasi dan kegiatan operasional.

"Karena itu, penghitungan dan inventarisasi emisi perlu ditempatkan sebagai bagian dari pengelolaan perusahaan,” ujar dia mewakili Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Moh Jumhur Hidayat.

Keterlibatan pengelola kebun, pabrik, energi, pengadaan, keuangan dan tim keberlanjutan diperlukan agar perusahaan dapat mengenali kondisi awal, menentukan prioritas perbaikan, melaksanakan tindakan mitigasi, serta mengevaluasi hasilnya.

Selain memperkuat inventarisasi, hasil penghitungan emisi perlu diterjemahkan menjadi tindakan pengurangan emisi yang nyata. Salah satu peluang yang disoroti adalah pengelolaan limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME), khususnya melalui penangkapan dan pemanfaatan gas metana untuk mendukung pengurangan emisi sekaligus pemanfaatan energi.

“Saya mengajak pelaku usaha untuk melihat pengelolaan POME sebagai bagian dari strategi peningkatan kinerja perusahaan, dengan mempertemukan kebutuhan pengelolaan lingkungan, potensi mitigasi dan kelayakan investasi,” ujar Ary Sudijanto.

Menurut dia, kesiapan data emisi di tingkat fasilitas menjadi faktor penting untuk menentukan tindakan mitigasi, menilai kinerja teknologi, serta membuktikan hasil pengurangan emisi.

Fondasi tersebut juga dapat mendukung pengembangan instrumen perdagangan karbon, termasuk kemungkinan penerapan perdagangan emisi secara bertahap pada pengelolaan limbah cair industri seperti POME.

Pengembangan nilai ekonomi karbon di sektor sawit juga memerlukan keterpaduan pengelolaan dari hulu hingga hilir. Kegiatan budidaya, pengolahan, pengelolaan limbah, hingga pemanfaatan produk dan hasil samping perlu dilihat sebagai satu rangkaian yang saling berkaitan.

Oleh karena itu, keselarasan kebijakan, kejelasan batas penghitungan, keterhubungan data dan pencatatan hasil mitigasi yang dapat ditelusuri menjadi hal penting.

Pada kesempatan tersebut KLH turut menekankan perlunya kemitraan yang menghubungkan kebutuhan investasi dan perbaikan operasional dengan perlindungan ekosistem, penghormatan terhadap hak masyarakat, serta penguatan kapasitas pekebun rakyat.

Keterbukaan informasi dan pembagian manfaat yang proporsional diharapkan menjadi landasan agar transformasi rendah karbon memberikan manfaat bagi seluruh pelaku di sepanjang rantai nilai sawit.

“Mari kita perkuat kolaborasi untuk membangun industri sawit yang semakin efisien, bertanggung jawab dan berdaya saing melalui pengelolaan emisi yang terukur,” ujarnya dalam kegiatan yang diselenggarakan Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI) bersama Media Perkebunan.

Carbon Conference & Training diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, perusahaan perkebunan, akademisi, praktisi dan pemangku kepentingan lainnya untuk mendorong pengelolaan emisi GRK yang lebih terukur sekaligus membuka peluang pengembangan nilai ekonomi karbon bagi industri kelapa sawit Indonesia.

Pewarta: Subagyo
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

#emisi #emisi-karbon #sawit #perusahaan-sawit #kementerian-lingkungan-hidup #klh

https://www.antaranews.com/berita/5804541/klh-perusahaan-sawit-perlu-perkuat-inventarisasi-emisi