Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menilai Indonesia berpotensi meningkatkan peran dalam industri kecerdasan ... [552] url asal
Kita tidak boleh hanya menjadi penyedia pusat data, tetapi juga harus menjadi pusat komputasi. Kita harus melakukan lebih banyak kegiatan komputasi
Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menilai Indonesia berpotensi meningkatkan peran dalam industri kecerdasan artifisial (AI) dengan mengembangkan kemampuan komputasi, bukan hanya menyediakan infrastruktur pusat data.
"Kita tidak boleh hanya menjadi penyedia pusat data, tetapi juga harus menjadi pusat komputasi. Kita harus melakukan lebih banyak kegiatan komputasi," kata Anindya dalam diskusi panel Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, pengembangan industri AI perlu diarahkan agar Indonesia tidak hanya menyediakan fasilitas fisik, pasokan listrik, air dan infrastruktur pendukung pusat data, tetapi juga mengambil peran dalam pemanfaatan kemampuan komputasi.
Kemampuan komputasi merupakan daya pemrosesan yang digunakan untuk mengolah data, melatih model AI, serta menjalankan berbagai aplikasi dan layanan digital.
Dengan mengembangkan kemampuan tersebut, lanjut dia, Indonesia berpeluang memperluas kegiatan ekonomi berbasis teknologi dan memperoleh nilai tambah dari perkembangan industri AI.
Dalam diskusi panel terkait pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan daya saing industri nasional, Anindya juga menekankan pentingnya memperluas kegiatan ekonomi dari pemanfaatan sumber daya alam dan energi hingga penyediaan daya komputasi.
"Kita perlu beralih dari menjual sumber daya alam menuju energi, daya komputasi, token, dan sebagainya, dan saya pikir kita bisa melakukannya," ucap Anindya.
Ia menilai pengembangan teknologi menjadi salah satu faktor yang dapat membantu dunia usaha memperbesar skala kegiatan ekonomi sekaligus meningkatkan daya saing di pasar regional.
Selain penguatan kemampuan komputasi, Anindya menekankan manfaat AI dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi kegiatan usaha.
"AI saya rasa akan membantu besar sekali untuk membuat menjadi lebih produktif," ujar dia.
Menurut dia, pemanfaatan AI memungkinkan berbagai pekerjaan diselesaikan dengan lebih cepat, menghasilkan kualitas lebih baik, dan menggunakan biaya lebih efisien.
Meski demikian, Anindya mengingatkan bahwa perkembangan AI juga dapat mengubah kebutuhan tenaga kerja, termasuk menggantikan sejumlah tugas yang selama ini memerlukan keterampilan khusus.
Karena itu, ia memandang kemampuan memahami persoalan secara menyeluruh dan membaca arah perkembangan teknologi akan semakin penting bagi pelaku usaha maupun tenaga kerja.
Anindya juga menekankan pentingnya kemampuan komunikasi, kerja sama dan hubungan antarmanusia dalam pengambilan keputusan bisnis di tengah perkembangan teknologi.
"Meskipun mesin dapat berkomunikasi dengan mesin, keputusan tetap dibuat oleh manusia," katanya.
Ia mengatakan bahwa keterampilan membangun hubungan dengan pihak lain serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan turut diperlukan untuk mendukung keberlanjutan kegiatan usaha.
Sebelumnya, Kadin Indonesia Institute meluncurkan Kadin AI Academy pada 20 Mei 2026 untuk membantu dunia usaha, tenaga kerja, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) meningkatkan keterampilan dalam memanfaatkan teknologi AI.
Pentingnya penguatan keterampilan juga tercermin dalam laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum yang memperkirakan sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja secara global akan berubah atau menjadi tidak relevan selama periode 2025–2030.
Laporan tersebut menyebut kemampuan terkait AI dan data besar termasuk keterampilan yang kebutuhannya berkembang pesat, sementara kemampuan berpikir analitis, kreativitas, dan ketangguhan tetap dibutuhkan dunia kerja.
Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital pada 22 Oktober 2026 menyebut kapasitas pusat data Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 580 megawatt dan ditargetkan meningkat menjadi 1,3 gigawatt pada 2027–2028.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menekankan bahwa penambahan kapasitas pusat data perlu disertai penguatan kemampuan komputasi, riset, inovasi, dan penguasaan teknologi strategis agar Indonesia memiliki peran lebih besar dalam ekosistem AI global.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyatakan, pihaknya membidik peningkatan porsi produksi nasional bagi merek ... [573] url asal
Indonesia sudah jadi bagian daripada supply chain global, dan besok kami akan sampaikan bahwa kita juga ingin memperbesar persentase kapasitas di dalam setiap global brand dan mempunyai brand sendiri
Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyatakan, pihaknya membidik peningkatan porsi produksi nasional bagi merek global sekaligus pengembangan merek Indonesia sendiri.
"Indonesia sudah jadi bagian daripada supply chain global, dan besok kami akan sampaikan bahwa kita juga ingin memperbesar persentase kapasitas di dalam setiap global brand dan mempunyai brand sendiri," kata Anindya seusai menghadiri Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, rencana tersebut akan dibahas dan disampaikan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin pada 29–30 Oktober 2026.
Meski demikian, Anindya belum merinci besaran peningkatan porsi produksi yang diharapkan maupun waktu pencapaiannya.
Ia menilai Indonesia perlu meningkatkan kemampuan pengolahan dan penguasaan teknologi agar industri nasional dapat menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi sekaligus memperkuat keterlibatannya dalam rantai pasok global.
"Karena tanpa melakukan suatu pengolahan atau loncatan-loncatan yang tinggi, tentu Indonesia akan hanya menjadi pasar," ujar dia.
Dalam diskusi panel, ia mencontohkan industrialisasi Jepang, Korea Selatan, dan China yang mampu mengembangkan sumber daya alam menjadi produk akhir melalui penguatan kemampuan manufaktur dan teknologi.
Anindya menilai transformasi tersebut membutuhkan tenaga kerja terampil, pembiayaan jangka panjang, serta kemitraan teknologi dengan perusahaan internasional untuk meningkatkan daya saing industri nasional.
Upaya memperbesar peran produsen Indonesia di pasar internasional sejalan dengan gerakan Buy from Indonesia yang disiapkan Kadin untuk meningkatkan pembelian barang dan jasa nasional oleh pembeli luar negeri.
Pada 22 Oktober 2026, Kadin menyebut buku "We Buy From Indonesia: Behind the World's Greatest Products" mendokumentasikan keterlibatan produsen Indonesia dalam rantai pasok sekitar 80 merek global, termasuk Tesla, IKEA, dan Uniqlo.
Buku tersebut menggambarkan kontribusi produsen nasional melalui pasokan bahan baku, komponen, hingga barang jadi di berbagai sektor, antara lain alas kaki, makanan dan minuman, kosmetik, elektronik, serta kendaraan listrik.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie (kiri) menyampaikan pandangannya dalam diskusi panel Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026). (ANTARA/Aria Ananda)
Lebih lanjut, Kadin ingin memanfaatkan hubungan bisnis yang telah terbangun untuk memperluas pesanan, meningkatkan kapasitas produksi, dan membuka kesempatan bagi lebih banyak pemasok dari daerah.
Selain peningkatan kapasitas industri, Anindya melihat peluang perluasan pasar ekspor Indonesia melalui hubungan perdagangan dengan sejumlah negara mitra.
Ia menyebut China dan Amerika Serikat sebagai mitra perdagangan utama Indonesia, sementara negara-negara Eropa dinilainya semakin berpotensi menjadi tujuan pemasaran produk nasional.
"Saya rasa tentunya negara yang paling besar transaksinya adalah China, yang kedua adalah Amerika, tapi yang kelihatannya emerging adalah negara-negara di Eropa yang membutuhkan produk kita," ujarnya.
Dalam diskusi panel, Anindya menyebut kerja sama ekonomi Indonesia dan Uni Eropa membuka peluang perdagangan produk alas kaki, tekstil, pakaian jadi, elektronik, dan furnitur.
Selain pasar Eropa, ia memandang negara-negara anggota BRICS sebagai pasar potensial untuk memperluas hubungan perdagangan dan kerja sama ekonomi Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor industri pengolahan Indonesia pada Januari–Agustus 2026 mencapai 159,55 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.894 triliun, meningkat 7,87 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Industri pengolahan menyumbang 85,95 persen dari total ekspor nonmigas pada periode tersebut.
Sementara itu, China menjadi tujuan terbesar ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026 dengan pangsa 25,55 persen, disusul Amerika Serikat sebesar 12,07 persen dan India sebesar 6,88 persen.