Etanol ini bahan bakunya dari jagung, singkong, tebu. Nah, kalau di Karawang ini masih ada lahan-lahan tidur, itu bisa diarahkan untuk menanam hasil-hasil perkebunan yang berorientasi pada bahan baku etanol
Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia membidik lahan tidur di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, untuk menjadi ladang bahan baku etanol, seperti jagung, singkong, dan tebu.
"Etanol ini bahan bakunya dari jagung, singkong, tebu. Nah, kalau di Karawang ini masih ada lahan-lahan tidur, itu bisa diarahkan untuk menanam hasil-hasil perkebunan yang berorientasi pada bahan baku etanol," ujar Bahlil melalui keterangannya yang diakses dari laman resmi Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis.
Menurut Bahlil, langkah tersebut mampu menciptakan kawasan pertumbuhan ekonomi baru. Hasilnya pun sudah memiliki pembeli, karena Pertamina akan menjadi offtaker seluruh etanol yang diproduksi.
"Jadi seluruh etanol yang akan diambil, itu offtaker-nya Pertamina, karena kita akan bikin mandatory," kata dia.
Kebijakan etanol melanjutkan langkah konversi energi yang lebih dulu diterapkan pada solar. Bahlil menyebut Indonesia kini tidak lagi mengimpor solar karena telah beralih ke biodiesel B50 berbahan baku minyak sawit mentah (CPO).
Ke depan, pemerintah mendorong pencampuran etanol pada bensin melalui program E20.
Pengembangan etanol menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional. Melalui optimalisasi lahan untuk menghasilkan bahan baku etanol, pemerintah berupaya memperluas sumber pasokan energi dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).
Langkah ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi yang sejalan dengan agenda swasembada energi, hilirisasi, dan industrialisasi dalam Astacita Presiden.
Bahlil menyebut mandatori etanol akan diterapkan bertahap hingga E50, dengan perencanaan menuju 2028 yang kini tengah dimatangkan sesuai kapasitas industri dalam negeri.
Bahan baku etanol, lanjut Bahlil, telah dipetakan di sejumlah wilayah, antara lain Jawa, Sumatera, dan Papua. Untuk tahap E20, dibutuhkan sekitar 8 juta kiloliter etanol dari bahan baku singkong, tebu, dan jagung.
Kebutuhan lahannya diperkirakan sekitar 1 juta hektare untuk singkong, 1,1 juta hektare untuk tebu, dan 1 juta hektare untuk jagung, dengan memanfaatkan lahan APL (Areal Penggunaan Lain) dan HGU (Hak Guna Usaha) telantar yang dikelola terintegrasi dari hulu ke hilir.
Pemerintah juga mengembangkan bahan baku alternatif. Pilot project sorgum manis telah berjalan di Yogyakarta dan Nusa Tenggara Timur, sementara pengolahan aren di Kamojang berkapasitas 1.000 liter per hari.
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026