Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menargetkan penyelesaian peta jalan bioekonomi Indonesia pada Desember 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat transformasi ekonomi berbasis sumber daya hayati yang berkelanjutan.
Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Kementerian PPN/Bappenas Dadang Jainal Mutaqin mengatakan penyusunan peta jalan tersebut telah melalui sejumlah tahapan pembahasan dan diskusi bersama berbagai pemangku kepentingan.
"Kami berharap nanti di Desember peta jalan bioekonomi ini bisa kita selesaikan," kata Dadang dalam diskusi Bioeconomy and The SDGs pada Indonesia Impact Investment Summit 2026 di Jakarta, Rabu.
Peta jalan tersebut disiapkan untuk menyelaraskan langkah pemerintah, pelaku usaha, dan mitra pembangunan dalam mengembangkan potensi sumber daya hayati menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Pengembangan bioekonomi merupakan bagian dari transformasi ekonomi dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, terutama melalui hilirisasi sumber daya alam terbarukan.
Dadang menjelaskan bioekonomi mencakup pemanfaatan sumber daya dan proses hayati secara berkelanjutan, termasuk dari sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan, dan perikanan, untuk menghasilkan barang dan jasa dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
"Kita tidak bisa menjadi sumber-sumber bahan baku saja," ujarnya.
Menurut dia, Indonesia perlu meningkatkan pengolahan komoditas hayati menjadi produk turunan agar nilai tambahnya dapat dinikmati di dalam negeri dan memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat.
Bappenas telah mengidentifikasi lima kelompok produk prioritas bioekonomi, yakni pangan, energi, obat-obatan, kosmetik, dan biomaterial. Selain itu, terdapat satu kelompok jasa, yaitu jasa lingkungan, termasuk ekowisata.
Potensi pengembangan tersebut ditopang oleh kontribusi sektor berbasis sumber daya alam terhadap perekonomian. Berdasarkan data BPS, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 13,10 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada 2025, meningkat dari 12,61 persen pada 2024.
Sementara itu, data Bappenas mengenai Status Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia 2024 mencatat sebanyak 31.031 spesies flora dan 744.279 spesies fauna di Indonesia. Kekayaan hayati tersebut turut menjadi salah satu modal bagi pengembangan produk berbasis sumber daya alam melalui inovasi dan hilirisasi.
Dadang mengatakan pengembangan bioekonomi harus memenuhi tiga kriteria utama, yaitu menghasilkan nilai tambah tinggi, memanfaatkan teknologi dan inovasi yang mencakup pengetahuan lokal, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Penerapan inovasi, menurut dia, tidak terbatas pada teknologi modern, tetapi juga dapat memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat setempat untuk meningkatkan nilai ekonomi suatu produk.
"Yang paling penting juga adalah bagaimana bioekonomi ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga berperan sebagai mitra industri sekaligus penjaga keberlanjutan ekosistem sumber daya alam.
Dadang mencontohkan kemiri dan bambu sebagai komoditas yang berpeluang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi apabila diolah menjadi produk turunan dibandingkan hanya dipasarkan sebagai bahan mentah.
Pengembangan bioekonomi diharapkan dapat meningkatkan kontribusi terhadap PDB, investasi, ekspor, penciptaan lapangan kerja, serta kesejahteraan masyarakat.
Dari sisi lingkungan, pengembangan tersebut juga diharapkan berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca, peningkatan tutupan hutan, perlindungan keanekaragaman hayati, dan efisiensi pemanfaatan sumber daya.
Dadang menekankan pentingnya kerja sama pemerintah, dunia usaha, mitra pembangunan, dan masyarakat dalam mewujudkan transformasi ekonomi berbasis sumber daya hayati.
"Kita tidak bisa berjalan sendiri ya terkait bioekonomi ini," ujarnya.
Sebelumnya, pada Desember 2025, Bappenas telah mengumumkan rencana penyusunan Strategi Nasional Bioekonomi pada 2026 yang dapat berbentuk peta jalan, dilengkapi rencana aksi dan indikator sebagai panduan bagi para pemangku kepentingan.
Penyusunan peta jalan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya hayati nasional sekaligus mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan dan visi Indonesia Emas 2045.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026