Padang (ANTARA) - Universitas Andalas (Unand) Sumatera Barat (Sumbar) menginisiasi kolaborasi lintas sektor untuk mengembangkan ekosistem hilirisasi gambir di Sumatera Barat (Sumbar), mulai dari peningkatan mutu bahan baku hingga pengolahan dan pemasaran produk bernilai tambah.
“Pengembangan gambir perlu melibatkan berbagai pihak agar komoditas ini dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dan menjangkau pasar lebih luas,” kata Rektor Universitas Andalas Dr Efa Yonnedi di Padang, Rabu.
Hal tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi di Gedung Rektorat Unand yang diikuti 64 peserta dari unsur pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, perbankan, asosiasi pengusaha, lembaga standardisasi, serta pelaku industri.
Ia mengatakan pengembangan ekosistem tersebut dilatarbelakangi belum optimalnya nilai tambah gambir Sumbar karena sebagian besar komoditas masih diperdagangkan dalam bentuk bongkahan dengan mutu yang belum seragam.
“Tantangan utama gambir Sumatera Barat saat ini adalah meningkatkan kualitas produk dan memperluas pengolahannya agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar, mengingat hasil panen petani masih banyak dijual dalam bentuk bongkahan dengan kualitas yang beragam,” ujarnya.
Ia menambahkan perbedaan kadar katekin, tanin, kadar air, abu, dan kebersihan menjadi tantangan untuk memenuhi spesifikasi industri secara konsisten.
Sementara Direktur Kerja Sama dan Hilirisasi Riset Unand Dr Eng Muhammad Makky menyatakan kendala utama gambir ialah belum terintegrasinya produksi, pengolahan, teknologi, pembiayaan, dan pemasaran dalam satu ekosistem bisnis.
Oleh karena itu, pengembangan gambir harus dilakukan melalui perubahan pendekatan dari perdagangan komoditas menuju pembangunan industri berbasis nilai tambah.
Ia menjelaskan hal tersebut dilakukan melalui pendekatan Pentahelix. Melalui pendekatan pentahelix, Unand mendorong keterlibatan pemerintah, akademisi, dunia usaha dan industri, masyarakat, serta media.
Ia menambahkan dalam rancangan kolaborasi ini, Universitas Andalas berperan sebagai pusat pengembangan pengetahuan dan teknologi sekaligus penghubung para pemangku kepentingan untuk membangun model bisnis yang dapat diterapkan oleh masyarakat dan industri.
Sejalan dengan itu, Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM RI Bagus Rachman yang mewakili Wakil Menteri UMKM RI mengungkapkan Kementerian UMKM memegang peran strategis dalam mengubah potensi gambir menjadi ekosistem usaha yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Salah satu gagasan yang dibahas ialah pengembangan Rumah Hilirisasi Produk (RHP) Gambir sebagai pusat produksi bersama, pengolahan lanjutan, standardisasi, dan pendampingan UMKM.
Ia menjelaskan RHP Gambir selanjutnya meningkatkan nilai tambah produksi melalui pengolahan menjadi tiga komoditas utama yakni getah gambir kering murni(GGKM) bersih terstandar, konsentrat katekin dasar, dan ekstrak tanin dasar.
Ia menegaskan dalam pengembangannya, Kementerian UMKM berperan mendorong penguatan kelembagaan usaha, fasilitas produksi bersama, peningkatan kapasitas UMKM, pendampingan sertifikasi dan legalitas, serta pencocokan usaha dengan calon pembeli industri.
Pewarta: Najmi Aulia
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026