Pasar global yang dibidik oleh pengembang lokal tak hanya menjanjikan aspek ekonomi, tetapi juga membuka ruang luas untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia ke kancah internasional.
Jakarta (ANTARA) - Penyelenggaraan Indonesia Game Developer Exchange (IDGX) pada 21–23 Oktober 2026 menandai tonggak sejarah kelima sejak ajang ini pertama kali dihelat pada 2021.
Sebagai salah satu program strategis Kementerian Digital dan Komunikasi (Komdigi) bersama Asosiasi Game Indonesia (AGI), IGDX kini telah tumbuh menjadi salah satu pameran industri gim terbesar di tanah air. Menariknya, perhelatan IGDX tahun ini diselenggarakan secara bersamaan dengan Bali Tech Week (BTW) di lokasi yang sama.
Sejak pertama kali digelar, IGDX dirancang sebagai wadah bagi pengembang gim (gamedev) lokal untuk bersinergi dan bertukar pikiran dengan para pelaku industri, baik dari dalam maupun luar negeri. Selain membuka ruang kolaborasi, ajang ini juga memberikan kesempatan bagi pengembang lokal untuk memamerkan (playtest) karya mereka di hadapan para publisher demi menggaet pendanaan.
Potensi pasar gim di Indonesia sejatinya sangat besar. Berdasarkan Laporan Peta Ekosistem Gim Indonesia (PEGI) 2024, jumlah pemain gim (gamers) di tanah air mencapai 154,9 juta orang (55,3% dari total populasi) dan diproyeksikan melonjak hingga 174,4 juta pada 2027. Besarnya basis pemain ini didukung oleh penetrasi internet yang meluas, yakni mencapai 232,7 juta pengguna aktif (83% dari populasi).
Meski nilai pasar industri gim Indonesia pada 2024 menembus Rp30,99 triliun, porsi pendapatan yang masuk ke kantong pengembang lokal baru menyentuh angka 2,5%. Masih minimnya penguasaan pasar oleh produk lokal ini lantas memicu pertanyaan besar: mampukah pengembang gim dalam negeri menjadi tuan rumah di negeri sendiri?
Industri gim Indonesia
Selama ini, pasar gim di Indonesia didominasi oleh gim berbasis mobile besutan pengembang asing. Judul-judul populer seperti Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) dan PUBGMobile menjadi jawara di tanah air. Selain dapat diunduh gratis, fitur daring dan multiplayer pada gim-gim tersebut sangat pas dengan karakter pemain di Indonesia yang senang bermain bersama (mabar) sembari nongkrong. Kesesuaian fitur ini, ditopang oleh penetrasi internet dan ponsel pintar yang masif, membuat gim-gim asing tersebut berkembang pesat.
Namun, besarnya pasar gim mobile di Indonesia belum sejalan dengan fokus pengembangan gim oleh pengembang dalam negeri. Data menunjukkan bahwa pengembang lokal justru lebih banyak menggarap gim PC (33,8%) dibandingkan gim mobile (25,7%). Padahal, pasar gim PC yang disasar sebagian besar berada di luar negeri. Amerika Serikat bahkan menjadi pangsa pasar terbesar bagi gim lokal Indonesia, yakni mencapai 73%.
Pilihan strategi ini sangat beralasan dari sudut pandang ekonomi dan daya beli. Sebagian besar gim lokal dikembangkan dengan model premium. Pemain harus membeli gim terlebih dahulu sebelum memainkannya. Model bisnis ini berbenturan dengan preferensi pasar Indonesia yang terbiasa dengan gim gratis berkonsep in-game purchase (transaksi mikro di dalam gim). Alhasil, besarnya pasar gim mobile nasional tak serta-merta menarik bagi pengembang lokal.
Rendahnya daya beli masyarakat untuk gim berbayar juga tak lepas dari tingginya maraknya pembajakan. Fenomena gim bajakan —sebagaimana perangkat lunak ilegal pada umumnya— kian merajalela akibat minimnya tindakan tegas terhadap pembajak maupun penggunanya. Hal inilah yang mendorong pengembang lokal mantap membidik pasar mancanegara yang memiliki daya beli tinggi dan tingkat pembajakan yang relatif rendah.
Di sisi lain, pilihan memproduksi gim premium juga didasari oleh keterbatasan modal yang dihadapi studio lokal. Model gim premium memungkinkan pengembang memperoleh pendapatan secara langsung dari penjualan unit gim. Berbeda dari gim gratisan yang mengandalkan transaksi mikro dan butuh waktu lebih lama untuk balik modal, gim premium memberikan arus kas (cash flow) yang lebih cepat demi menjaga keberlangsungan studio.
Raja kecil
Pasar global tampaknya menjadi magnet tersendiri bagi pengembang gim Indonesia. Tingginya daya beli serta apresiasi terhadap gim berbayar (premium) membuat banyak studio lokal melirik panggung internasional.
Selain urusan cuan, pengakuan global juga menjadi tolok ukur atas kualitas karya anak bangsa di kancah dunia. Sebagai contoh A Space for the Unbound besutan Mojiken Studio yang sukses masuk nominasi di The Game Awards 2023, Samudra karya Khayalan Arts yang menyabet salah satu dari lima penghargaan Unity for Humanity Grant 2021, hingga 1988: Toll Keeper Story dari Gamechanger Studio yang masuk nominasi DevGAMM Awards 2026.
Keberhasilan gim lokal merambah pasar global tentu tak lepas dari peran pihak lain, terutama para pembuat konten (streamer) dan komunitas gim. Streamer bertindak sebagai corong publikasi strategis di mata internasional. Ketika gim lokal dimainkan oleh streamer kenamaan. terutama yang berjejaring global, maka karya tersebut berpeluang besar mendongkrak angka penjualan. Oleh karena itu, sudah sepatutnya para streamer tanah air turut ambil bagian dalam memajukan industri nasional dengan lebih sering memainkan dan menyuarakan gim buatan lokal di kanal mereka.
Tak kalah penting, komunitas gim juga menjadi fondasi kuat dalam ekosistem ini. Komunitas pengembang yang tumbuh di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang terbukti melahirkan karya-karya berkualitas. Di sisi lain, komunitas daring pada platform distribusi seperti Steam dan Roblox turut berperan sebagai pendukung militan. Dari ruang-ruang digital inilah para pengembang kerap mendapatkan masukan berharga untuk mempertajam aspek naratif dan mekanik permainan mereka.
Kekayaan budaya
Pasar global yang dibidik oleh pengembang lokal tak hanya menjanjikan aspek ekonomi, tetapi juga membuka ruang luas untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia ke kancah internasional. Sebut saja A Space for the Unbound yang berlatar tahun 1990-an di Surabaya dengan berbagai landmark kota yang ikonik, gim horor Dreadout yang kental dengan mitos hantu lokal, hingga Coral Island yang memamerkan pesona keindahan pantai nusantara. Deretan judul ini membuktikan bagaimana identitas lokal berhasil direpresentasikan secara apik dalam sebuah gim.
Kuatnya unsur budaya ini memberikan nilai tambah tersendiri yang menjadi ciri khas dan pembeda antara gim lokal dan produk internasional. Lewat sentuhan kreatif ini, gim lokal tidak sekadar menjadi media hiburan, tetapi juga etalase pariwisata. Bukan hal yang mustahil jika lewat pengalaman bermain tersebut, daya tarik wisata Indonesia turut terdongkrak di mata dunia.
*) Lastiko Endi Rahmantyo, Dosen Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
Copyright © ANTARA 2026