Balikpapan (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur membuka ruang kolaborasi bagi Bank Jatim untuk bermitra dengan Bankaltimtara guna memperkuat sinergi ekonomi lintas provinsi dan mendukung aktivitas dunia usaha di daerah.
"Kami membuka ruang selebar-lebarnya bagi Bank Jatim untuk berkolaborasi dengan Bankaltimtara. Kehadiran Bank Jatim tidak hanya melalui layanan perbankan, tetapi juga sebagai mitra bagi pengembangan usaha, meningkatkan kapasitas, memperluas pasar, dan mendorong kegiatan ekonomi produktif,” kata Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud saat menghadiri peresmian Kantor Cabang Bank Jatim Balikpapan di Balikpapan, Jumat.
Peresmian operasional kantor cabang tersebut ditandai dengan prosesi pengguntingan pita sekaligus peninjauan fasilitas kantor.
Acara diawali dengan pemberian santunan kepada anak yatim oleh Gubernur Rudy Mas'ud bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Rudy menyampaikan apresiasi atas peresmian Kantor Cabang Bank Jatim Balikpapan tersebut. Menurutnya, ekspansi ini akan memperkuat hubungan dan sinergi antara Provinsi Jatim dan Kaltim, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Ia menilai kehadiran Bank Jatim bernilai sangat strategis dalam memacu roda perekonomian kedua provinsi melalui sektor perdagangan, investasi, dan pembiayaan.
“Pada saat pelaku usaha kami mengajukan kredit usaha, tentunya kami berharap bisa dipermudah prosesnya oleh Bu Gubernur,” kata Rudy.
Gubernur Kaltim mengemukakan bahwa Benua Etam memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, namun sebagian di antaranya belum dikelola secara maksimal oleh pengusaha lokal.
“Dari lima fasilitas refinery CPO di Kaltim, tiga di antaranya berada di Balikpapan. Produksi kelapa sawit kita tidak kurang dari 5,2 juta ton setiap tahun,” ujarnya.
Selain itu, ia menambahkan bahwa terdapat korporasi besar seperti Gunung Bayan Group yang memiliki basis operasi di Balikpapan dengan kapasitas produksi batu bara mencapai 65 juta hingga 70 juta metrik ton per tahun.
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Kaltim terus mendorong diversifikasi pertumbuhan ekonomi agar semakin beragam dan inklusif. Dukungan sektor perbankan dinilai sangat krusial untuk membuka akses pembiayaan yang ramah bagi dunia usaha, pelaku UMKM, serta sektor produktif potensial lainnya.
“Penduduk Kaltim hanya sekitar 10 persen dari total penduduk Jatim. Jika penduduk Jatim berkisar 42 hingga 43 juta jiwa, Kaltim hanya 4,2 sampai 4,3 juta jiwa. Namun, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kami tidak kurang dari Rp850 triliun setiap tahun. Pasar ini sangat luar biasa dan potensial,” tegas Rudy.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memaparkan data transaksi dagang kedua wilayah.
Nilai perdagangan antara Jatim dan Kaltim tercatat mencapai Rp20,18 triliun. Angka tersebut terdiri atas penjualan produk Jatim ke Kaltim sebesar Rp2,84 triliun, sedangkan pembelian produk Kaltim oleh Jatim mencapai Rp17,35 triliun.
"Jadi dalam neraca perdagangan antara Jawa Timur dengan Kalimantan Timur ini, kami di Jatim mengalami defisit yang cukup besar, yaitu Rp14,51 triliun," kata Khofifah.
Meskipun mencatatkan defisit, Khofifah menegaskan bahwa misi dagang antardaerah harus tetap digalakkan. Fasilitasi serta aksesibilitas bagi para pelaku usaha harus terus dibangun demi keberlanjutan ekonomi lintas provinsi.
"Sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Pak Gubernur Kaltim, tampaknya kita perlu membentuk konsorsium. Terkait porsi yang akan dikonsorsiumkan atau bagian yang bisa ditangani oleh Bank Jatim bersama bank-bank Himbara maupun bank swasta lainnya di Kaltim, saya silakan jajaran direksi untuk menindaklanjutinya," tutur Khofifah.
Pewarta: Arumanto
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026