Kita usahakan supaya neraca komoditasnya bisa segera kita selesaikan, sehingga pemesanan gula rafinasi sebagai bahan baku industri aman di awal tahun depan
Jakarta (ANTARA) - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mendorong percepatan penyelesaian neraca komoditas gula rafinasi untuk memastikan pasokan bahan baku bagi industri aman pada awal 2027.
Sarmuji menyampaikan, pemerintah mengantisipasi peningkatan kebutuhan gula rafinasi seiring momentum hari besar keagamaan yang berlangsung di tahun depan.
"Kita usahakan supaya neraca komoditasnya bisa segera kita selesaikan, sehingga pemesanan gula rafinasi sebagai bahan baku industri aman di awal tahun depan," kata Sarmuji ditemui usai menerima audiensi Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan, untuk pasokan di tahun ini dipastikan aman, sementara percepatan penyelesaian neraca komoditas diperlukan agar pemesanan gula rafinasi sebagai bahan baku industri dapat dilakukan lebih awal.
Dengan demikian, kedatangan pasokan pada awal tahun depan dapat diperkirakan sehingga kebutuhan industri tetap terpenuhi.
"InsyaAllah sampai Desember ke depan aman," ujarnya.
Menurut Sarmuji, kepastian pasokan bahan baku juga menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan utilisasi industri agro, khususnya subsektor makanan dan minuman, yang saat ini masih berada di kisaran 60 persen.
Pemerintah berharap peningkatan utilisasi tersebut dapat memperbesar kontribusi subsektor makanan dan minuman terhadap industri nasional.
Sarmuji mengingatkan agar pasokan gula rafinasi yang diperuntukkan bagi kebutuhan industri tidak merembes ke pasar konsumen sebagai gula konsumsi.
"Kita berikan jaminan ketercukupan gula rafinasi sebagai bahan baku industri, tetapi sebaliknya kita juga meminta dengan sangat dan akan kita awasi dengan ketat, supaya gula rafinasi tidak bocor ke konsumen sebagai gula konsumsi," katanya.
Sementara itu, Ketua Umum AGRI Supriyadi mengatakan, kebutuhan gula rafinasi untuk industri makanan dan minuman serta farmasi pada 2026 mencapai sekitar 3 juta ton.
Menurut dia, pasokan tersebut diperkirakan mencukupi kebutuhan hingga akhir Desember 2026.
Ia menambahkan, AGRI berkomitmen mendistribusikan gula rafinasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Terkait pasokan dari luar negeri, Supriyadi menyampaikan penurunan produksi gula di Thailand tidak serta-merta menghambat pemenuhan kebutuhan Indonesia karena terdapat alternatif pemasok, antara lain Brasil dan Australia.
Namun, ia mengakui harga gula mentah (raw sugar) belakangan meningkat akibat sejumlah faktor, termasuk dampak El Nino terhadap produksi di beberapa negara, kondisi geopolitik, serta kebutuhan energi yang mendorong sebagian negara mengalihkan produksi ke bahan bakar nabati.
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026