Jakarta (ANTARA) - Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Edy Giri Rachman Putra mengungkapkan penguatan hilirisasi riset di sektor sains dan teknologi menjadi syarat untuk menjadi negara maju.
“Negara maju tentunya akan didukung dengan kuatnya sains, teknologi dan hilirisasi. Tentunya di BRIN juga sebagai salah satu-satunya lembaga riset nasional di Indonesia, memiliki program ataupun strategi ataupun kebijakan bahwa hasil riset kita harus sampai ke hilir,” ucapnya dalam agenda Talent Fest 2026 MTN Goes to Campus di Gedung Kesenian Sunan Ambu, ISBI Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin.
Dia berpendapat bahwa keluaran riset tak boleh berhenti sebatas pada publikasi akademis semata, melainkan bertransformasi menjadi pengetahuan aplikatif yang berlanjut pada tahap invensi dan hilirisasi hasil riset.
Dalam praktiknya, proses hilirisasi disebut sering menghadapi kendala yang disebut “lembah kematian” (valley of death), yakni kondisi ketika banyak hasil riset gagal menembus tahap komersialisasi. Kegagalan ini, pada umumnya, disebabkan adanya jurang pemisah antara dunia riset yang tak bergerak ke arah hilir dan pihak industri yang tidak aktif menjemput inovasi dari hulu.
Karena itu, BRIN menyediakan ekosistem kolaboratif yang mengintegrasikan perguruan tinggi sebagai pusat talenta riset dengan kebutuhan sektor industri yang diwujudkan melalui penyelenggaraan “Talent Fest” yang mempertemukan pelaku industri dengan pengelola manajemen riset untuk memperkuat kapasitas pengembangan produk berbasis riset.
“Ini sangat luar biasa dan tentunya ini menjadi salah satu hal yang mungkin kita sama-sama akan kembangkan sama teman-teman dari perguruan tinggi,” ungkap Edy.
Ke depan, kata dia, orientasi program riset di tingkat magister (S2), doktor (S3), hingga pascadoktoral, diarahkan untuk bergeser dari pendekatan murni berbasis keilmuan menuju pendekatan berbasis penyelesaian masalah industri. Strategi penguasaan teknologi juga didorong melalui skema pengembangan bersama (co-development).
“Jadi kita tidak lagi ke depan menerima barang jadi, tapi mengajak mitra kita terutama yang menguasai teknologi tinggi itu melakukan co-development bersama teman-teman di BRIN, di perguruan tinggi atau lembaga riset di Indonesia untuk mengembangkan bersama-sama teknologi-teknologi yang memang lebih relevan dengan kebutuhan Indonesia. Di sinilah kita akan lebih ter-engaged, lebih mudah untuk menghilirkan hasil riset kita ke dunia industri,” kata Edy.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026