Jakarta (ANTARA) - International Test Center (ITC) menyelenggarakan ITC Leadership Conclave 2026 yang mempertemukan para pemimpin dari sektor pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, dan industri untuk membahas tantangan kepemimpinan serta transformasi sumber daya manusia di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan ketidakpastian global.
Chief Executive Officer (CEO) ITC Jenny Lee mengatakan bahwa di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi, organisasi dituntut untuk tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi juga memastikan bahwa pemanfaatannya mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, serta mengembangkan kapabilitas manusia secara berkelanjutan.
"Melalui forum ini, ITC mendorong para pemimpin untuk melihat transformasi organisasi secara lebih menyeluruh," kata Jenny dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, pemimpin perlu mengintegrasikan sumber daya yang tepat, inovasi teknologi, serta kemampuan manusia seperti berpikir kritis, pengambilan keputusan yang etis, adaptabilitas, resiliensi, dan pembelajaran berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa penyelenggaraan ke-15, ITC Leadership Conclave 2026 mengangkat tema “Durable Leadership, Lasting Impact: Optimizing the Integration of Resources, New Technologies, and Adaptive Human Skills” atau kepemimpinan yang tangguh dan berdampak jangka panjang melalui integrasi sumber daya, teknologi baru, dan keterampilan manusia yang adaptif.
ITC Leadership Conclave 2026 kata dia, menghadirkan Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta periode 2014–2017, sebagai keynote speaker melalui sesi bertajuk “Leading with Purpose in an Environment of Complexity: Building Durable Leadership for a Challenging World.” Sesi ini membahas pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan tujuan, pengambilan keputusan strategis, dan kemampuan organisasi untuk tetap tangguh dalam menghadapi perubahan.
Menurut Basuki Tjahaja Purnama, perkembangan AI memang berpotensi mengubah kebutuhan tenaga kerja, bahkan memunculkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Namun, teknologi juga membuka peluang baru yang perlu dipersiapkan melalui pengembangan kompetensi dan jejaring," katanya .
Ia menegaskan seorang pemimpin di era disrupsi harus rutin melakukan "kalibrasi diri" agar tidak kehilangan kompas etika di tengah godaan dan ketidakpastian.
Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Anindya Novyan Bakrie dalam sesi ExecuTalk bertajuk “Building Competitive Organizations in the World of Continuous Transformation: Integrating Human Capability, Technology, and Business.” Diskusi ini menyoroti hubungan antara pengembangan kapabilitas manusia, pemanfaatan teknologi, dan daya saing bisnis di tengah transformasi yang berlangsung secara berkelanjutan.
Anindya Novyan Bakrie menegaskan bahwa teknologi harus menjadi solusi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Indonesia perlu kembali berfokus pada tujuan utama pembangunan ekonomi agar tidak kehilangan momentum untuk keluar dari middle income trap.
Salah satu langkah yang diperlukan adalah memperkuat daya saing dunia usaha di tengah berbagai tantangan global terutama di sektor teknologi.
Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026