Tangerang Selatan, Banten (ANTARA) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menandatangani perjanjian kemitraan (partnership agreement) dengan Persatuan Nasional Kamar Dagang, Industri, dan Pertanian Senegal (UNCCIAS) untuk memperkuat kerja sama investasi.
Ketua Komite Tetap Wilayah Afrika Kadin Indonesia Mintardjo Halim menyampaikan bahwa kesepakatan yang ditandatangani di Menara Kadin, Jakarta, Jumat sore tersebut merupakan pembaruan dan penguatan dari kesepakatan yang sudah ada sebelumnya.
Ia menyatakan, sejumlah sektor kerja sama yang ditingkatkan dalam perjanjian baru tersebut meliputi investasi, perdagangan, pengiriman barang (shipping), hingga perbankan.
“Jadi, kalau kami (pelaku usaha Indonesia) invest (berinvestasi) di sana, kami dilindungi,” ujar Mintardjo Halim saat ditemui ANTARA usai menghadiri “Pertemuan Bisnis dan B-to-B Networking Indonesia-Afrika Barat” di Tangerang Selatan, Banten, Jumat siang.
“Jadi kalau ada apa-apa, ada masalah, kami bisa kontak sama minta tolong Kadin di sana (UNCCIAS) untuk membantu menangani masalah-masalah yang ada,” lanjutnya.
Mintardjo mengatakan bahwa Indonesia dan negara-negara Afrika Barat memiliki peluang untuk menjajaki kolaborasi di bidang pertanian, pengolahan makanan, manufaktur, barang kebutuhan konsumen (consumer goods), dan logistik.
Namun, ia menyoroti minimnya perjanjian dagang bilateral antara Indonesia dengan negara-negara di kawasan Afrika. Menurutnya, tanpa kesepakatan dagang, produk-produk asal Afrika dapat kehilangan daya saing akibat tingginya bea masuk dan adanya pembatasan perdagangan.
Ia pun berharap pemerintah dapat segera menyelesaikan pembentukan perjanjian dagang dengan negara-negara Afrika, baik berupa Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) maupun Perjanjian Perdagangan Preferensial (Preferential Trade Agreement/PTA).
“Indonesia dan Afrika Barat perlu membicarakan mengenai perjanjian perdagangan preferensial, baik PTA maupun FTA, demi menurunkan tarif dan hambatan perdagangan agar perekonomian kita dapat tumbuh bersama. Jika tidak, perdagangan antara kedua pihak tidak akan berkembang secara optimal,” ucap Mintardjo.
Ditemui dalam kesempatan yang sama, Koordinator Fungsi Ekonomi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dakar Alex Rudini Sulaiman mengajak para pelaku usaha Indonesia untuk menjajaki investasi dalam bidang industrialisasi di negara-negara Afrika Barat, terutama Senegal.
“Banyak potensi yang bisa dilakukan di sana, khususnya untuk masalah industrialisasi, bagaimana memproduksi secara lokal di Senegal sehingga bisa membantu menurunkan biaya produksi,” kata Alex Rudini Sulaiman kepada ANTARA usai menghadiri forum bisnis tersebut.
Ia menyampaikan bahwa sejumlah perusahaan Indonesia telah berminat untuk menanamkan modalnya di Senegal, salah satunya PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk yang kini tengah melakukan studi kelayakan (feasibility study).
Ada pula perusahaan Indonesia yang sudah memulai investasinya di kawasan Afrika. Ia menuturkan, PT Bakrie & Brothers Tbk telah berinvestasi di sektor perkebunan sawit di Guinea dan akan memperluas kerja sama tersebut ke sektor pertambangan.
“Jadi, kami berharap bahwa kegiatan ini adalah langkah awal yang nantinya akan membuka pintu kerja sama yang lebih luas lagi (antara Indonesia) dengan Afrika,” tutur Alex.
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026