Kuala Lumpur (ANTARA) - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) RI Rachmat Pambudy dan Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Basuki Hadimuljono, memaparkan visi Indonesia dalam mengembangkan Kalimantan dan IKN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Dalam paparan mereka ketika menjadi pembicara kunci pada 2nd Borneo Economic Forum (BEF) 2026, pada 7–8 Oktober 2026 di Kuching, Sarawak, Malaysia, keduanya juga menyampaikan pentingnya penguatan konektivitas, energi, digitalisasi, investasi, dan rantai nilai regional.
Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching dalam keterangan yang diterima di Kuala Lumpur, Jumat, menyampaikan, dalam forum tersebut Menteri PPN/Kepala Bappenas menyampaikan visi untuk memperluas pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia ke luar Jawa dan Sumatera dengan menjadikan Kalimantan sebagai “Nusantara Economic Superhub”, didukung oleh IKN sebagai pengungkit transformasi ekonomi dan pemerataan pembangunan.
Saat ini Indonesia tengah fokus mengembangkan ekonomi Kalimantan pada enam klaster strategis, yaitu teknologi bersih, farmasi terintegrasi, pertanian berkelanjutan, ekowisata dan wellness tourism, industri kimia, serta energi rendah karbon.
Menteri PPN/Kepala Bappenas juga menekankan bahwa transformasi ekonomi Kalimantan memerlukan investasi pada sumber daya manusia dan infrastruktur, termasuk kesehatan, pendidikan, pengembangan keterampilan, hilirisasi industri berkelanjutan, dan pariwisata.
Menurut dia, pembangunan perlu didukung tata kelola yang baik, perlindungan hak masyarakat adat, pelestarian hutan, serta penguatan ketahanan sosial dan ekologis. Selain itu, penguatan konektivitas melalui koridor Nusantara–Balikpapan–Samarinda, penyelesaian Jalan Trans-Kalimantan, pengembangan jaringan kereta api dan transportasi udara, serta peningkatan akses perbatasan, menjadi prioritas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Selain itu Menteri PPN menyampaikan, pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta mitigasi banjir melalui sistem peringatan dini dan perencanaan tata ruang berbasis risiko juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pembangunan di Kalimantan.
Dalam konteks regional, Indonesia juga mendorong optimalisasi kerja sama Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) serta peran Borneo Economic Community (BEC) dalam melengkapi kerangka kerja sama tersebut melalui fasilitasi dialog bisnis dan pertukaran pengalaman.
Prioritas kerja sama meliputi konektivitas transportasi dan perbatasan, interkoneksi energi, investasi industri dan penguatan rantai nilai regional, serta pengembangan infrastruktur digital, peningkatan keterampilan sumber daya manusia, dan pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) guna mendorong perdagangan, investasi, serta pertumbuhan ekonomi Borneo yang inklusif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala OIKN Basuki Hadimuljono, menyampaikan bahwa pembangunan IKN berjalan sesuai rencana dan telah memasuki tahap kedua periode 2025–2029, sejalan dengan Perpres Nomor 79 Tahun 2025 yang menetapkan target IKN sebagai ibu kota politik pada 2028.
Pembangunan Nusantara direncanakan berlanjut hingga 2045 dengan mengusung konsep forest city, sponge city, dan smart city, serta membuka peluang investasi bagi sektor swasta dan mitra regional, termasuk dari ASEAN.
Forum 2nd Borneo Economic Forum 2026 7—8 Oktober 2026 di Sarawak, mempertemukan pejabat pemerintah, pemimpin dunia usaha, investor, akademisi, serta pemangku kepentingan dari Indonesia, Sarawak, Sabah, Brunei Darussalam, dan kawasan regional lainnya.
Forum dibuka oleh Premier Sarawak, Datuk Patinggi Tan Sri Abang Abdul Rahman Zohari Tun Datuk Abang Openg.
Bertindak selaku narasumber antara lain Co-Chair Borneo Economic Community (BEC) M. Arsjad Rasjid P.M; CEO Indonesian Business Council (IBC) Sofyan A. Djalil; Direktur Kerja Sama Eksternal ASEAN Kementerian Luar Negeri RI Sade Bimantara; dan Ketua KADIN Kalimantan Barat Arya Rizqi Darsono.
Diskusi juga melibatkan perwakilan pemerintah dan dunia usaha Sarawak, Sabah, Brunei Darussalam, serta lembaga regional dan internasional untuk membahas peluang investasi, konektivitas, transisi energi, digitalisasi, dan integrasi ekonomi Borneo.
Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026