Jakarta (ANTARA) - Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menilai inovasi yang menjangkau seluruh rantai usaha petani skala kecil dapat menjadi pengungkit ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produktivitas, pembiayaan, pengolahan hasil, hingga akses pasar.
Koordinator Nasional KRKP Said Abdullah mengatakan Hari Pangan Sedunia 2026 menjadi momentum untuk memperkuat peran petani kecil dalam menyediakan pangan melalui inovasi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan usaha mereka.
"Jadi pada seluruh rantai itu harusnya terjadi inovasi," kata Said saat dihubungi ANTARA, Jumat.
Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap 16 Oktober pada 2026 turut mengusung tema "Innovate today. Nourish tomorrow." atau "Berinovasi Hari Ini untuk Memupuk Hari Esok", yang menekankan inovasi dan pendekatan inklusif bagi masa depan pangan berkelanjutan.
Menurut dia, inovasi pertanian Indonesia perlu melampaui teknologi budi daya karena keberhasilan petani juga ditentukan oleh ketersediaan sarana produksi, kemudahan memperoleh modal, pengolahan hasil, dan kemampuan memasarkan produknya.
Said mengingatkan besarnya peran pertanian keluarga dalam penyediaan pangan dunia. Karena itu, inovasi perlu dirancang agar manfaatnya dapat menjangkau petani berlahan sempit, bukan hanya usaha pertanian berskala besar.
Kajian Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperkirakan pertanian keluarga menghasilkan sekitar 80 persen pangan dunia berdasarkan nilai produksi. Adapun usaha pertanian dengan luas lahan kurang dari dua hektare menyumbang sekitar 35 persen pangan dunia.
Di Indonesia, Sensus Pertanian 2023 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 17,25 juta petani gurem dari 27,80 juta petani pengguna lahan, setara sekitar 62,05 persen. Petani gurem didefinisikan sebagai petani yang menggunakan lahan pertanian kurang dari 0,5 hektare.
"Sehingga menurut saya inovasi yang dikembangkan, terutama konteks Indonesia ya, itu mestinya merujuk pada kelompok ini," ujarnya.
Menurut Said, struktur usaha tani tersebut menjadikan intensifikasi atau peningkatan produktivitas di lahan yang tersedia sebagai salah satu pendekatan penting untuk memperkuat produksi pangan.
Pendekatan inovasi bagi pertanian rumah tangga juga perlu disesuaikan dengan kemampuan petani karena karakteristik usahanya berbeda dari pengelolaan pertanian berskala besar.
Upaya itu dapat dilakukan melalui penyediaan benih berproduktivitas tinggi, perbaikan kualitas lahan, penerapan teknik budi daya yang sesuai, serta pemanfaatan teknologi pascapanen untuk mengurangi kehilangan hasil.
"Inovasinya bisa mulai dari input, misalnya penyediaan benih yang produktivitasnya tinggi, atau inovasi perbaikan kualitas lahan misalnya,
juga teknik budidaya. Sampai ke pascapanen, inovasinya misalnya mengurangi food loss dengan mesin atau teknologi tertentu," tutur dia.
Perluasan lahan atau ekstensifikasi juga dinilai Said memungkinkan, sepanjang pelaksanaannya memberi ruang kepada keluarga petani kecil sebagai pelaku dan pengelola usaha pertanian.
Ia menambahkan inovasi pengolahan hasil juga diperlukan agar petani tidak hanya menjual bahan mentah, melainkan dapat menghasilkan produk olahan yang memberikan nilai tambah dan peluang peningkatan pendapatan.
Aspek lain yang perlu diperkuat ialah pembiayaan. Menurut Said, skema pendanaan perlu disesuaikan dengan karakter usaha tani kecil sehingga petani lebih mudah memperoleh modal untuk berproduksi dan mengembangkan usaha.
"Selama ini kan kalau kita melihat akses pembiayaan harus ada agunan, prosedurnya yang panjang, dan seterusnya. Nah, saya kira itu bisa di-simplify inovasinya," katanya.
Ia menyarankan penyederhanaan persyaratan dan prosedur serta pengembangan pembiayaan yang tidak memberatkan petani, sebagai bagian dari inovasi di luar teknologi pertanian.
Selain itu, Said menekankan peran kelompok tani, koperasi, atau lembaga ekonomi kolektif dalam mengonsolidasikan produksi, memperluas pasar, dan mempermudah penerapan inovasi.
"Nah, memang kalau petani kan sendiri-sendiri berat ya masuk ke pasar," katanya.
Menurut dia, kelembagaan tersebut bukan hanya membantu pemasaran, melainkan juga dapat memperkuat kemampuan petani untuk mengakses sarana produksi, pembiayaan, dan teknologi secara bersama-sama.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026