Komitmen itu kami wujudkan melalui pembaruan sistem dan fasilitas, penguatan kemampuan personel, serta pengembangan prosedur operasional. Pemandu lalu lintas udara harus didukung perangkat yang andal dan informasi yang memadai agar dapat mengambil ke
Tangerang (ANTARA) - Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav Indonesia), menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat layanan navigasi penerbangan nasional melalui modernisasi sistem pelayanan, fasilitas operasional, hingga pengembangan kompetensi personel.
Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno menyatakan bahwa langkah modernisasi dan pengembangan tersebut diarahkan untuk mendukung keselamatan, keandalan, dan efisiensi pelayanan, sekaligus memperkuat dukungan operasional bagi para pemandu lalu lintas udara.
"Komitmen itu kami wujudkan melalui pembaruan sistem dan fasilitas, penguatan kemampuan personel, serta pengembangan prosedur operasional. Pemandu lalu lintas udara harus didukung perangkat yang andal dan informasi yang memadai agar dapat mengambil keputusan secara tepat," ucap Avirianto dalam keterangan tertulis di Tangerang, Selasa.
Ia mengatakan, bertepatan dengan peringatan Hari Pemandu Lalu Lintas Udara (Air Traffic Controller/ATC) Sedunia, AirNav telah mengoperasikan sistem otomasi pengelolaan lalu lintas udara generasi terbaru atau Air Traffic Management Automation System (ATMAS) di empat pusat pelayanan, yakni Jakarta, Medan, Pontianak, dan Balikpapan.
Menurut dia, pengoperasian ATMAS dilakukan secara bertahap sejak November 2025 hingga diterapkan secara penuh di New Jakarta Air Traffic Services Center (JATSC) pada 16 Juni 2026.
Modernisasi tersebut akan memperkuat fasilitas pengendalian penerbangan, baik saat pesawat berada pada fase jelajah (en-route) maupun saat mendekati bandara (approach).
Sistem ini mencakup integrasi perangkat pengaturan urutan kedatangan dan keberangkatan, pengelolaan arus lalu lintas udara, informasi aeronautika, pertukaran pesan penerbangan, serta komunikasi suara.
"Fokus kami adalah memastikan pengembangan fasilitas menjawab kebutuhan operasional. Pembaruan perangkat harus berjalan bersama kesiapan personel dan prosedur, sehingga dapat digunakan secara optimal dalam pelayanan sehari-hari," ujarnya.
Selain itu, AirNav menerapkan Free Route Operation (FRTO), yaitu layanan yang memungkinkan maskapai merencanakan rute penerbangan lebih efisien berdasarkan kondisi cuaca dan kebutuhan operasional.
Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 5.030 penerbangan telah memanfaatkan FRTO di wilayah pelayanan penerbangan Jakarta dan Ujung Pandang. Jumlah ini melonjak 82 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebanyak 2.770 penerbangan.
Menurut dia, pemanfaatan FRTO selama 2025 tersebut berhasil menghasilkan penghematan biaya bahan bakar maskapai hingga 8,04 juta dolar AS serta menekan emisi karbon dioksida (CO_2) sebanyak 5.426 ton.
"Pengalaman sukses penerapan FRTO di wilayah kepulauan Indonesia ini bahkan turut dipaparkan oleh Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro saat menjadi panelis dalam forum internasional ICAO Air Navigation World–Air Traffic Flow Management di Kantor Pusat ICAO, Montreal, Kanada, pada 5–9 Oktober 2026," paparnya.
Kemudian, dalam rangka meningkatkan kompetensi personel dan organisasi, AirNav juga menjalin kerja sama strategis dengan Airservices Australia melalui Indonesia Transport Safety Assistance Package (ITSAP).
"Rangkaian kegiatan workshop yang selesai pada 3 Juli 2026 ini mencakup perencanaan tenaga kerja, standar manajemen lalu lintas udara, pengelolaan dan pengolahan data pengawasan penerbangan, hingga manajemen program," ungkapnya.
Ia menambahkan, dengan melalui ITSAP Senior Engagement, pimpinan kedua lembaga juga mendiskusikan transformasi digital, keselamatan penerbangan, serta pertukaran pengetahuan melalui kunjungan langsung ke fasilitas operasional Airservices Australia.
"Di tingkat regional Asia-Pasifik, AirNav Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan perdana ICAO APAC Project 30/10 Task Force di Tangerang pada 16–18 Juni 2026.
Pertemuan ini dihadiri oleh 61 delegasi dari 18 negara dan perwakilan organisasi internasional untuk membahas optimalisasi jarak pemisahan (separation distance) antar pesawat guna meningkatkan kapasitas ruang udara dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan," kata dia.
Pewarta: Azmi Syamsul Ma'arif
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026