Batam, Kepri (ANTARA) - Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mendukung pemanfaatan teknologi pengolahan air laut untuk memenuhi kebutuhan industri pusat data di Batam, Kepulauan Riau, sekaligus menjaga pasokan air bagi masyarakat.
"Investasi harus berjalan bersama tanggung jawab. Kebutuhan air pusat data harus disiapkan dengan baik, termasuk melalui SWRO," kata Iftitah dalam keterangannya yang diterima di Batam, Kepri, Jumat.
Menurut dia, teknologi seawater reverse osmosis (SWRO) atau pengolahan air laut menjadi air tawar dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan operasional pusat data tanpa membebani pasokan air masyarakat dari waduk.
"Dengan perencanaan yang jelas, kita bisa menjaga kebutuhan masyarakat sekaligus memberi ruang bagi tumbuhnya industri baru," ujarnya.
Iftitah menyampaikan hal tersebut sejalan dengan langkah Badan Pengusahaan (BP) Batam yang mendorong pembangunan fasilitas SWRO secara mandiri oleh pelaku industri pusat data.
Berdasarkan data BP Batam pada September 2026, terdapat 10 rencana pengembangan pusat data di Batam, dengan satu di antaranya telah beroperasi.
BP Batam memproyeksikan pembangunan fasilitas SWRO di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa dan kawasan industri Kabil dapat menambah kapasitas produksi air sekitar 750 liter per detik pada tahap awal dalam dua hingga tiga tahun mendatang.
Kapasitas tersebut direncanakan meningkat menjadi sekitar 1.000 liter per detik pada tahap berikutnya guna memenuhi kebutuhan industri tanpa mengurangi pasokan air waduk bagi masyarakat.
Selain kebutuhan air, Iftitah mendukung penguatan pasokan listrik dan infrastruktur penunjang melalui koordinasi antara pemerintah, BP Batam, penyedia energi, serta pelaku usaha.
Berdasarkan pemetaan BP Batam pada September 2026, kapasitas pusat data yang telah beroperasi, komitmen investasi, dan rencana pengembangan secara keseluruhan mencapai 1,47 gigawatt (GW) kapasitas teknologi informasi (IT).
Peningkatan kapasitas tersebut memerlukan kesiapan infrastruktur energi untuk mendukung pertumbuhan industri pusat data di Batam.
Iftitah mengatakan Batam memiliki peluang menjadi salah satu pusat data berskala global karena posisi geografisnya yang strategis dan potensi menarik investasi lanjutan di sektor ekonomi digital serta kecerdasan buatan (AI).
Menurut dia, peluang tersebut perlu didukung ekosistem yang andal, kepastian layanan investasi, dan kesiapan tenaga kerja agar manfaat pengembangan industri dapat dirasakan masyarakat setempat.
"Kehadiran pusat data bukan hanya soal teknologi, tetapi juga kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh pekerjaan, keterampilan, dan pendapatan yang lebih baik," katanya.
Sebelumnya, BP Batam pada Mei 2026 mengawal investasi pembangunan pusat data berbasis AI di kawasan Nongsa senilai 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp88 triliun, dengan luas pengembangan sekitar 30 hektare.
Iftitah mengatakan Kementerian Transmigrasi siap mendukung peningkatan kapasitas masyarakat, khususnya generasi muda, agar mampu memanfaatkan peluang kerja dan pengembangan keterampilan dari pertumbuhan ekonomi digital.
Ia menegaskan pengembangan investasi perlu memberikan manfaat bagi masyarakat setempat melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan, serta pertumbuhan pendapatan.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026