Supaya juga nanti pada saat eksekusi ataupun juga menyampaikan fakta informasi itu tidak melenceng. Supaya publik ataupun juga stakeholder-nya kita yang di luar publik, regulator ataupun siapa pun itu bisa punya informasi yang sama, pemahaman yang sa
Jakarta (ANTARA) - PT Pertamina Gas (Pertagas) mengasah kesiapan serta komunikasi dan koordinasi penanganan krisis melalui uji simulasi tanggap darurat dengan skenario acak, untuk memastikan ketepatan respons dan penyampaian informasi apabila terjadi gangguan operasional.
Corporate Secretary Pertagas Sulthani Adil Mangatur mengatakan simulasi yang diselenggaeakan di Jakarta, Kamis, tersebut tidak hanya menekankan kecepatan penanganan keadaan darurat, tetapi juga ketepatan tindakan, dan informasi yang disampaikan kepada setiap pemangku kepentingan.
"Supaya juga nanti pada saat eksekusi ataupun juga menyampaikan fakta informasi itu tidak melenceng. Supaya publik ataupun juga stakeholder-nya kita yang di luar publik, regulator ataupun siapa pun itu bisa punya informasi yang sama, pemahaman yang sama kondisinya," kata Sulthani seusai kegiatan simulasi di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, respons yang cepat belum tentu menjadi pilihan terbaik apabila tindakan yang dilakukan atau informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Karena itu, evaluasi kesiapsiagaan tidak hanya berfokus pada waktu respons, tetapi juga mencakup penyesuaian prosedur, perangkat pendukung, dan kebutuhan penanganan agar langkah mitigasi lebih tepat.
Sulthani menjelaskan Pertagas juga berupaya membangun komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan sebelum terjadi keadaan darurat agar koordinasi dapat berjalan lebih efektif ketika menghadapi insiden.
Komunikasi tersebut diperlukan untuk memastikan perusahaan, regulator, dan pihak terkait memiliki pemahaman yang sama mengenai suatu kejadian sehingga risiko kesimpangsiuran informasi dapat diminimalkan.
"Kita, harapan kita seminimal mungkin tuh adanya distorsi informasi atau komunikasi," ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Pertagas menggabungkan simulasi penanganan keadaan darurat (emergency response) dan keberlangsungan bisnis (business continuity) untuk menguji kesiapan perusahaan menghadapi gangguan dengan tingkat dampak berbeda.
Sulthani menjelaskan, penanganan keadaan darurat berfokus pada respons cepat terhadap insiden, sedangkan keberlangsungan bisnis berkaitan dengan gangguan yang berdampak lebih besar terhadap kegiatan perusahaan atau berlangsung lebih lama.
Simulasi tersebut melibatkan berbagai fungsi dan divisi di kantor pusat, tim di area operasi terkait, serta pengamat dari pihak ketiga yang mengikuti jalannya latihan.
Skenario latihan dilakukan secara acak tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada tim perusahaan agar personel dapat berlatih merespons perkembangan situasi yang tidak dapat diperkirakan.
"Dan ini bentuk skenarionya itu dilakukan secara acak tanpa memang ada informasi kepada kita sebelumnya," katanya.
Sulthani menyampaikan, Pertagas melaksanakan latihan tanggap darurat sedikitnya sekali dalam setahun untuk menjaga kesiapan pekerja, termasuk personel baru, dalam memahami peran dan alur penanganan insiden.
Ia menjelaskan, mekanisme penanganan keadaan darurat juga mencakup eskalasi sesuai jenis dan besarnya dampak kejadian, mulai dari area operasi hingga kantor pusat Pertagas.
Apabila diperlukan, penanganan dapat melibatkan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) selaku Subholding Gas Pertamina, PT Pertamina (Persero), serta aparat kepolisian, regulator energi, dan instansi lingkungan hidup sesuai skala kejadian.
Berdasarkan data perusahaan pada September 2026, Pertagas mengoperasikan jaringan sepanjang 2.991 kilometer (km) pipa gas bumi dan 605 km pipa minyak bumi yang mendukung penyaluran energi di berbagai wilayah Indonesia.
Pada semester I 2026, penyaluran gas bumi Pertagas tercatat sebesar 1.606 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD), sedangkan penyaluran minyak bumi mencapai 151.881 barel per hari.
Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada April 2026 menetapkan Pertagas sebagai operator Pipa Transmisi Gas Bumi Cirebon-Semarang Tahap II (Cisem II) sepanjang sekitar 242 km, yang menghubungkan Batang, Jawa Tengah, hingga Kandang Haur Timur, Jawa Barat, dan dinyatakan siap beroperasi penuh pada Juni 2026.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026