Jakarta (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendorong penguatan inovasi ritel dalam gerakan penyelamatan pangan nasional melalui kolaborasi dengan dunia usaha untuk mengurangi sisa pangan dan menciptakan manfaat berkelanjutan.
"Inovasi sektor ritel menjadi salah satu kunci memperluas gerakan penyelamatan pangan di Indonesia," kata Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas Nita Yulianis terkonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Dia menyampaikan melalui kolaborasi pemerintah dan dunia usaha, pangan yang masih layak dan aman dikonsumsi dapat dimanfaatkan kembali, sekaligus memberikan nilai tambah bagi usaha, masyarakat, dan lingkungan.
Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperkuat kebijakan dan aksi penyelamatan pangan secara terintegrasi melalui pendekatan pentahelix.
Menurutnya, sektor ritel memiliki posisi strategis karena terhubung langsung dengan produsen, pemasok, hingga konsumen, sehingga berpotensi memperluas jangkauan gerakan penyelamatan pangan.
"Bapanas terus mendorong peran pelaku usaha dalam upaya penyelamatan pangan, khususnya sektor ritel," ucapnya.
Ia menyebutkan berdasarkan data platform Stop Boros Pangan hingga akhir September 2026, sebanyak 9,7 persen dari total mitra penyelamatan pangan merupakan sektor ritel.
Dia berharap partisipasi itu terus meningkat seiring dengan tumbuhnya kesadaran dan inovasi pelaku usaha.
"Kami juga terus mendorong sektor ritel untuk melakukan pendataan dan melaporkan aksi penyelamatan pangan yang telah dilakukan,” tutur Nita.
Nita menjelaskan, penyelamatan pangan dapat menjadi bagian dari praktik bisnis yang memberikan nilai tambah. Pangan yang masih layak dan aman dikonsumsi dapat disalurkan kembali melalui kolaborasi dengan bank pangan maupun penggiat penyelamatan pangan.
"Sehingga manfaatnya dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan," ucapnya.
Komitmen tersebut sejalan dengan perluasan jejaring kemitraan Bapanas yang saat ini telah melibatkan sembilan asosiasi pelaku usaha dan 11 bank pangan atau penggiat penyelamatan pangan.
Kolaborasi itu menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem penyelamatan pangan yang semakin terintegrasi dan melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Penguatan kemitraan juga dilakukan bersama Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) serta Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) melalui inisiatif GRASP 2030.
Lebih lanjut dia mengatakan upaya itu juga diperkuat melalui sinergi bersama Kedutaan Besar Denmark dengan menggelar webinar bertajuk “Inovasi dan Praktik Baik di Sektor Ritel untuk Pencegahan dan Pengurangan Sisa Pangan” di Jakarta yang digelar pada akhir September 2026.
Nita mengatakan forum itu menjadi ruang berbagi pengalaman dan inovasi untuk mendorong praktik penyelamatan pangan yang semakin luas di sektor ritel.
Kegiatan itu merupakan bagian dari kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Denmark melalui kerangka Strategic Sector Cooperation (SSC) on Food Loss and Waste (FLW), sekaligus rangkaian peringatan International Day of Awareness of Food Loss and Waste (IDAFLW) 2026.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026