Memang sudah prinsip dasar kami untuk memberikan Indonesian hospitality, tapi tidak hanya keramahtamahannya melainkan Indonesia yang bhineka dari orangnya, tradisinya, warisannya, jadi bagaimana semua kekayaan yang kita punya bisa dirasakan tamu dome
Denpasar (ANTARA) - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur melalui The Meru Sanur dan Bali Beach Hotel menghadirkan ruang kolaborasi bagi beragam perajin lokal sekaligus merayakan Hari Batik Nasional untuk memperkuat pelestarian warisan budaya nusantara.
"Memang sudah prinsip dasar kami untuk memberikan Indonesian hospitality, tapi tidak hanya keramahtamahannya melainkan Indonesia yang bhineka dari orangnya, tradisinya, warisannya, jadi bagaimana semua kekayaan yang kita punya bisa dirasakan tamu domestik dan internasional," kata Vice President Marketing and Brand Management InJourney Hospitality Melody Siagian di Denpasar, Rabu.
Pengelola kawasan ingin menyampaikan bahwa warisan leluhur dapat terus relevan dan memberikan pengalaman nyata tanpa sekadar menjadi ajang pencitraan.
Penyelenggaraan pameran Hari Batik Nasional ini sendiri sejalan dengan mandat pemerintah bagi KEK Kesehatan Sanur yaitu untuk memberikan ruang pemberdayaan komunitas serta menghadirkan program yang berorientasi pada kemasyarakatan.
Melody menyampaikan, kehadiran ragam instalasi seni dan karya kriya di area lobi hotel ini juga selaras dengan konsep kesehatan holistik KEK Kesehatan Sanur yang merawat fisik, pikiran, dan jiwa secara seimbang.
"Jadi dengan adanya program misalnya aktivitas yang berhubungan dengan seni, atau aktivitas yang berhubungan dengan relaksasi adalah salah satu aktivitas untuk kesehatan holistik kita," ujarnya.
Saat ini komposisi pengunjung hotel di KEK Sanur sendiri didominasi oleh wisatawan nusantara serta turis mancanegara dari berbagai negara seperti Australia, kawasan Asia Pasifik, hingga Eropa, di mana menjadikan kawasan ini sangat ideal untuk memperkenalkan kekayaan tradisi lokal kepada khalayak global.
Sehingga kolaborasi karya beragam perajin lokal dikomandoi jenama Tulola ini diyakini akan membangun sirkular ekonomi yang berdampak langsung bagi peningkatan kesejahteraan para perajin dari hulu hingga hilir.
"Tidak hanya dari seniman, dari perajin, dari bisnis, tapi memang semua dari hulu ke hilir itu membentuk suatu perputaran ekonomi, akhirnya si tradisi dan warisan itu tidak hanya hipokrit sebagai branding, tapi dirasakan dari mulai perajin hingga sampai pembelinya," tutur Melody.
Sementara itu, Founder & Creative Conceptor Tulola Happy Salma selaku penggagas pameran menjelaskan bahwa rangkaian Hari Batik Nasional melalui ajang Kawan Nusantara Bali ini tidak hanya menampilkan keindahan kain dan busana nusantara, tetapi juga mengangkat warisan subeng atau anting khas Bali secara mendalam.
“Kami memperlihatkan karya, lalu ada pertunjukan seni dan instalasi yang sudah kita ciptakan dari beberapa bulan lalu bersama para perajin lokal," kata Happy Salma.
Dalam upaya memajukan budaya nasional, Happy Salma mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang sering dihadapi adalah bagaimana membentuk kesadaran pasar agar kekayaan nusantara tidak sekadar dijadikan narasi performatif atau slogan semata.
"Tantangannya bagaimana tidak menjadikan itu slogan, tapi bagian dari hidup kita, kesadaran itu butuh edukasi, butuh kolaborasi dengan banyak pihak seperti sekarang," ujar Happy Salma.
Oleh karena itu dalam perayaan ini turut terlibat hampir 100 perajin lokal di Bali dengan didukung oleh delapan maestro perajin utama, serta menggandeng sejumlah jenama kreatif dan mitra binaan seperti Bali Sama Sama, Flirt Bali, Indigo Kids, Nina MG, Saka Sarongs, hingga karya keris dan instalasi artistik bertajuk Evolusi yang mengeksplorasi perjalanan subeng sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.
"Evolusi adalah cara kami melihat bagaimana tradisi dan nilai-nilai leluhur terus menemukan bentuk baru tanpa kehilangan jiwanya," kata Happy Salma.
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026