Makassar (ANTARA) - Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Hasanuddin (Unhas) memetakan tantangan pertanian dan perubahan iklim terhadap produksi petani di Kawasan Transmigrasi Mahalona, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Ketua TEP Unhas Regita Faridatunisa Wijayanti dalam keterangannya di Makassar, Kamis, menyampaikan keterbatasan air menjadi salah satu persoalan utama yang mempengaruhi perencanaan musim tanam sekaligus produksi pertanian di daerah itu.
"Petani mengusulkan pembangunan bendungan permanen atau infrastruktur penyediaan air lainnya agar kebutuhan irigasi lebih terjamin," kata Regita.
Temuan tersebut, kata dia, mengingatkan kita bahwa pengembangan kawasan transmigrasi membutuhkan pendekatan yang melampaui bantuan sarana produksi.
Ia menyampaikan, petani memerlukan ekosistem pendukung yang memungkinkan mereka mengambil keputusan budidaya secara tepat, mengurangi risiko gagal panen, dan meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.
Dukungan pemerintah daerah melalui bantuan pompanisasi merupakan langkah awal yang penting. Namun, pompanisasi perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pengelolaan air yang lebih menyeluruh.
Menurut Regita, ketersediaan sumber air, jaringan distribusi, biaya operasional, dan pemeliharaan harus diperhitungkan agar intervensi tersebut memberikan manfaat berkelanjutan.
Informasi iklim juga merupakan bagian dari infrastruktur pertanian yang penting. Kehadiran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam forum tersebut membuka peluang pemanfaatan prakiraan cuaca dan informasi iklim untuk membantu petani menentukan waktu tanam.
Informasi ini akan lebih bermanfaat apabila disampaikan secara berkala melalui penyuluh pertanian dan diterjemahkan menjadi rekomendasi yang sesuai dengan kondisi lokal.
Persoalan lain adalah kualitas jalan dan jembatan. Infrastruktur transportasi yang memadai dapat memperlancar distribusi hasil panen, menekan hambatan logistik, dan memperluas akses petani terhadap pasar.
"Artinya, peningkatan produktivitas harus berjalan beriringan dengan upaya memastikan hasil pertanian dapat dipasarkan secara efisien," ujarnya.
Tantangan Mahalona menunjukkan pentingnya koordinasi lintas sektor. Dinas pertanian, pekerjaan umum, transmigrasi, pemerintah desa, BMKG, dan kelompok tani perlu membangun agenda bersama berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat, disertai pembagian tanggung jawab dan evaluasi hasil.
Pewarta: Abdul Kadir
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026