Tujuan forum hari ini adalah membantu kawasan kita memaksimalkan potensi setiap aset hulu minyak dan gas bumi sepanjang siklus hidupnya
Sanur, Bali (ANTARA) - Ascope Secretary in Charge (ASIC) Henricus Herwin menyampaikan ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) mendorong optimalisasi aset hulu minyak dan gas bumi (migas) di kawasan Asia Tenggara.
“Tujuan forum hari ini adalah membantu kawasan kita memaksimalkan potensi setiap aset hulu minyak dan gas bumi sepanjang siklus hidupnya,” ujar Henricus dalam pembukaan ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) 2026 di Sanur, Bali, Senin.
Optimalisasi aset tersebut ditempuh melalui penguatan kerja sama regional, pertukaran data, serta berbagi pengalaman dalam mengelola aset sepanjang siklus hidupnya.
Kolaborasi antarnegara menjadi semakin penting di tengah tantangan mempertahankan produktivitas lapangan migas yang telah beroperasi selama puluhan tahun sekaligus menarik investasi untuk kegiatan eksplorasi baru.
Menurut dia, negara-negara ASEAN menghadapi tantangan menjaga daya tarik investasi pada lapangan eksisting agar produksi dapat berlanjut lebih lama dan mendorong eksplorasi untuk menjamin keberlanjutan industri hulu migas pada masa mendatang.
“Dengan berbagi bukti, data, dan pengalaman di antara anggota ASCOPE, kita dapat membantu setiap anggota mengambil keputusan yang lebih baik terkait aset yang dikelolanya masing-masing, sekaligus mengubah pengetahuan regional menjadi sesuatu yang nyata dan dapat diterapkan,” ucap Henricus.
Salah satu rangkaian forum ASCOPE adalah Exploration and Production Task Force (EPTF), badan kerja yang mempertemukan pemangku kepentingan dari 11 negara ASEAN yang terlibat dalam pelaksanaan, pengaturan, dan perencanaan kegiatan operasi hulu migas.
Henricus mengatakan, EPTF menjadi salah satu badan kerja yang paling praktis dan produktif.
Di sisi lain, Kepala Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Ikhsan Kiat menekankan bahwa keberlanjutan industri energi tidak cukup hanya ditopang oleh ketersediaan sumber daya alam dan infrastruktur.
Pengembangan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi faktor penting untuk menjaga ketahanan energi dan memastikan kemampuan industri menghadapi perubahan pada masa mendatang.
Ikhsan menjelaskan, di tengah ketegangan geopolitik dan persaingan global untuk memperoleh minyak, gas, teknologi, serta sumber daya strategis, kualitas manusia menjadi salah satu modal utama yang menentukan kemampuan suatu negara mengelola kekayaan energinya.
“Sumber daya terbesar suatu bangsa bukanlah yang berada di bawah tanah atau di dasar laut, melainkan yang ada di dalam diri manusianya. Inilah yang kita sebut sebagai human energy atau energi manusia,” ujarnya.
Dia menambahkan, ASCOPE perlu memperluas peran kerja sama regional, bukan hanya menghubungkan infrastruktur dan pasar energi, melainkan juga mengembangkan kapabilitas tenaga kerja di sektor tersebut.
Karena itu, dia mendorong pengembangan konsep Human Energy Security atau ketahanan energi manusia melalui empat prinsip, yakni availability (ketersediaan talenta), accessibility (akses terhadap kesempatan), affordability (keterjangkauan pendidikan dan pelatihan), serta acceptability (integritas, martabat, keselamatan, dan kesejahteraan).
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026