Babak berikutnya dari transmigrasi harus membantu mendorong industrialisasi di luar Jawa
Jakarta (ANTARA) - Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menawarkan kolaborasi riset dengan Peking University, China, untuk mengembangkan pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Dia menegaskan Indonesia perlu membangun lebih banyak pusat produksi dan kegiatan ekonomi di berbagai wilayah agar lapangan kerja, investasi, dan kesempatan meningkatkan kesejahteraan tidak terkonsentrasi di Pulau Jawa.
“Babak berikutnya dari transmigrasi harus membantu mendorong industrialisasi di luar Jawa. Ini menyangkut di mana Indonesia membangun kapasitas produksi, di mana pekerjaan yang baik tercipta, dan apakah masyarakat di seluruh kepulauan kita dapat mengambil bagian dalam pertumbuhan negara,” ujar Iftitah dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Dirinya mengajak Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD) dan Peking University menjajaki kerja sama penelitian terapan untuk mendukung transformasi kawasan transmigrasi Indonesia.
Ia menawarkan pendekatan yang konkret, yakni memilih satu atau dua kawasan transmigrasi sebagai lokasi kajian bersama antara peneliti dan mahasiswa Indonesia serta China.
Penelitian tersebut diusulkan mencakup pemetaan potensi ekonomi dan rantai nilai, identifikasi hambatan investasi, kebutuhan keterampilan tenaga kerja, serta teknologi yang paling sesuai dengan kondisi masyarakat dan kawasan.
Hasil akhirnya diharapkan bukan sekadar publikasi akademik, melainkan rekomendasi praktis yang dapat dimanfaatkan pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam mengambil keputusan pembangunan.
Iftitah juga menyampaikan peluang pengembangan kerja sama riset pertanian, teknologi, keterampilan, dan sistem produksi pangan di Salor dan Wanam, Merauke, Papua Selatan, yang sebelumnya telah menjadi lokasi penjajakan kerja sama antara mitra Indonesia dan Tiongkok.
Menurutnya, kolaborasi internasional harus mampu mempertemukan keunggulan pengetahuan dan teknologi dengan kebutuhan nyata masyarakat Indonesia.
Ia berharap pertukaran pengalaman dengan China dapat memperkuat kemampuan Indonesia mengembangkan industri berbasis potensi daerah, tanpa mengabaikan karakteristik sosial, budaya, dan lingkungan setempat.
Iftitah menegaskan keberhasilan pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi harus diukur dari manfaat yang dirasakan masyarakat.
Ukuran tersebut meliputi terciptanya pekerjaan yang berkualitas, peningkatan pendapatan produsen lokal, berkembangnya UMKM sebagai bagian dari rantai pasok industri, serta semakin luasnya kesempatan masyarakat untuk menentukan masa depan ekonominya.
“Indonesia yang kuat harus memiliki lebih dari satu pusat peluang. Mari kita dekatkan peluang kepada masyarakat dan bersama-sama membangun pusat pertumbuhan Indonesia berikutnya,” katanya.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara memperkenalkan transformasi transmigrasi Indonesia sebagai strategi membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui industrialisasi di luar Jawa.
Gagasan tersebut disampaikan dalam kuliah umum bertajuk “Industrialisation Beyond Java: Transmigration and Indonesia’s New Growth Centres” di Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD), Peking University, Beijing.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, tetapi potensi tersebut perlu diolah menjadi produk bernilai tambah agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat di daerah asalnya.
Karena itu, pembangunan kawasan transmigrasi tidak cukup hanya menyediakan permukiman dan lahan. Kawasan juga harus terhubung dengan kegiatan industri, investasi, teknologi, infrastruktur, pasar, dan kebutuhan tenaga kerja.
“Suatu daerah harus memiliki peran yang lebih besar daripada sekadar memasok bahan mentah. Daerah juga harus mampu menghasilkan nilai tambah,” ujarnya.
Pewarta: Suharsana Aji Sasra J C
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026