Denpasar, Bali (ANTARA) - Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID menyiapkan rantai pasok mineral nasional untuk mendukung produksi komponen industri berteknologi tinggi, mulai dari kendaraan listrik, infrastruktur energi, hingga industri aviasi.
Melalui keterangannya yang diterima di Denpasar, Bali, Kamis, Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia Sigit Puji Santosa mengatakan pemerintah menargetkan investasi sebesar 20 miliar dolar AS hingga 30 miliar dolar AS atau sekitar Rp361,4 triliun hingga Rp542,1 triliun dalam tiga tahun mendatang untuk sejumlah proyek industri prioritas.
“Dari sejumlah sektor tersebut, mineral, material maju, dan semikonduktor sebagai prioritas pengembangan karena memiliki potensi memberikan dampak ekonomi yang besar,” kata Sigit.
Menurutnya, pengembangan industri strategis tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan ekstraksi dan pengolahan sumber daya alam. Indonesia juga perlu membangun kemampuan teknologi yang memungkinkan industri nasional memproduksi komponen dengan tingkat kompleksitas dan nilai ekonomi lebih tinggi.
Dalam konteks tersebut, penguasaan material maju menjadi salah satu penghubung antara kekayaan mineral Indonesia dan kebutuhan industri manufaktur modern.
Pengolahan mineral menjadi material industri juga membuka peluang kerja sama teknologi, peningkatan kompetensi tenaga kerja, serta penguasaan proses produksi di dalam negeri.
Sementara itu Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan Indonesia perlu memanfaatkan capaian investasi hilirisasi sebagai pijakan untuk membangun kemampuan teknologi dan manufaktur nasional.
Menurut Rosan, transformasi tersebut membutuhkan kolaborasi dengan mitra investasi yang tidak hanya menghadirkan modal, tetapi juga berkontribusi terhadap penguasaan teknologi dan kemampuan produksi.
“Yakni beralih dari sekadar mengolah sumber daya menjadi merancang, membuat, dan menyempurnakan produk-produk masa depan,” kata Rosan.
Peluang transformasi tersebut didukung oleh meningkatnya kontribusi hilirisasi terhadap investasi nasional.
Sepanjang 2025, investasi hilirisasi tercatat lebih dari 32 miliar dolar AS atau sekitar 30 persen dari total investasi, meningkat dibandingkan dengan porsi 24 persen pada 2024. Hingga September 2026, kontribusinya mencapai 31 persen.
Capaian tersebut menunjukkan semakin besarnya peran industri pengolahan dalam struktur investasi Indonesia, sekaligus membuka peluang untuk memperluas investasi ke sektor manufaktur berbasis teknologi.
Dalam kerangka tersebut, Grup MIND ID mendukung penyelenggaraan DTIIF 2026 sebagai forum kolaborasi investasi, inovasi, dan teknologi untuk memperluas keterkaitan antara industri pertambangan dan manufaktur nasional.
Ketersediaan mineral strategis di dalam negeri menjadi modal awal untuk membangun rantai pasok industri yang lebih terintegrasi, mulai dari penyediaan bahan baku, pemurnian, pengolahan lanjutan, hingga pemanfaatannya dalam produksi komponen industri.
Integrasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi sumber daya mineral sekaligus membuka peluang tumbuhnya industri pendukung, kebutuhan tenaga kerja terampil, dan aktivitas manufaktur di dalam negeri.
Dengan demikian, keberhasilan hilirisasi ke depan tidak hanya diukur dari besarnya investasi atau kapasitas smelter, tetapi juga dari kemampuan Indonesia mengubah kekayaan mineral menjadi produk industri berteknologi tinggi yang memiliki nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional.
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026