Bogor, Jawa Barat (ANTARA) - Pusat Kajian Sains Keberlanjutan dan Transdisiplin (CTSS) dan Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University melakukan pembahasan terkait Konsorsium Sirkularitas Lahan Gambut (PCC) dengan Wageningen University and Research (WUR) Belanda.
"Gambut selama ini kerap dibicarakan dari sisi negatif karena kebakaran hutan, namun pada dasarnya gambut justru dapat membawa berkah melalui ekonomi sirkular," kata Kepala CTSS IPB University Prof Husin Alatas di Bogor, Jawa Barat, Jumat.
Pembahasan dilakukan melalui dialog hibrida di Kampus IPB Dramaga Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang merupakan bagian dari Program Diaspora Berdampak yang menghadirkan Dr Aritta Suwarno, diaspora Indonesia dari Wageningen University and Research (WUR) Belanda.
Departemen Silvikultur dan CTSS juga menandatangani letter of intent (LoI) dengan WUR.
"Melalui dialog ini, para pihak diharapkan dapat merumuskan PCC. Bukan sebagai entitas baru, PCC diposisikan sebagai platform kolaborasi yang menjembatani organisasi dan inisiatif gambut yang telah ada," katanya.
Konsorsium Sirkularitas Lahan Gabut ini diharapkan menghubungkan perguruan tinggi atau lembaga riset, pemerintah, NGO, dunia usaha dan komunitas untuk mendorong lanskap gambut yang sirkular, regeneratif, dan memberi nilai tambah bagi masyarakat.
Chief of Fellow CTSS IPB University Prof Damayanti Buchori menyoroti bahwa penelitian gambut sudah banyak, tetapi penerapannya masih kurang.
"PCC itu memang diharapkan untuk bisa menjadi implementor dari riset-riset yang sudah ada, tapi juga menjadi katalisator untuk mempercepat proses-proses restorasi, regeneratif, dan sebagainya," ujarnya.
Menurutnya, pendekatan transdisiplin menjadi kunci karena persoalan gambut sangat kompleks. Ia juga menyebut pentingnya pendanaan alternatif, model bisnis yang jelas bagi industri, dan dekolonisasi pengetahuan dengan mengintegrasikan pengetahuan lokal.
Sejumlah narasumber menekankan bahwa tata kelola air menjadi dasar. Ketua CIMTROP Universitas Palangka Raya Profesor Adi Jaya mengatakan meski karakteristik gambut beragam antarlokasi, tetapi tata kelola hidrologi berlaku lintas wilayah.
Setiap upaya untuk mengembangkan model ekonomi sirkular di lahan gambut perlu dimulai dengan desain tata kelola air yang spesifik terhadap karakteristik ekosistem dan kondisi setempat.
"Dengan hidrologi sebagai fondasi, berbagai pilihan pemanfaatan ekonomi dapat dikembangkan tanpa mengabaikan fungsi ekologis gambut,” tuturnya.
Pakar Gambut IPB University Prof Dr Suria Tarigan menyoroti keterkaitan antara hidrologi, karakteristik gambut, dan pemilihan komoditas. Pemilihan komoditas yang kompatibel dengan hidrologi gambut berpotensi mengurangi kebutuhan drainase berlebihan.
"Dalam konteks ini, memiliki relevansi karena toleransinya terhadap kondisi lahan basah dan genangan," katanya.
Dari perspektif industri, Direktur Utama PT Bangka Asindo Agri Fidrianto membagikan pengalaman mengembangkan industri sagu sirkular dengan pendekatan zero waste.
Ia menunjukkan bahwa sagu memiliki potensi sebagai komoditas yang menghubungkan pemanfaatan ekonomi dengan pengelolaan lanskap gambut secara lebih berkelanjutan.
Sementara itu, dari Wageningen University and Research (WUR) Belanda Dr Aritta Suwarno menekankan bahwa valorisasi gambut perlu menciptakan nilai ekonomi jangka panjang yang tetap memperkuat fungsi ekologis.
Pewarta: Syarif Abdullah
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026